Harga Bisa Berubah Saat Anda Melihatnya, Mengulik Dynamic Pricing dan Personalized Pricing di Ritel

Harga kebutuhan pokok di toko ritel kini tidak lagi hanya dipengaruhi pasokan dan permintaan, tetapi juga teknologi yang membuat label harga bisa berubah dalam hitungan detik. Dua istilah yang paling sering disorot adalah dynamic pricing dan personalized pricing, terutama karena keduanya berpotensi memengaruhi tagihan belanja konsumen secara berbeda.

Dynamic pricing mengacu pada penyesuaian harga secara real-time berdasarkan faktor eksternal, seperti ketersediaan barang, tanggal kedaluwarsa, dan harga kompetitor. Sementara itu, personalized pricing memakai data pribadi, termasuk riwayat pembelian, lokasi, dan kebiasaan menjelajah internet, untuk menentukan harga yang berbeda bagi tiap konsumen.

Cara kerja dynamic pricing di toko ritel

Dalam praktik ritel, dynamic pricing sering dipakai untuk mengubah harga dengan cepat saat kondisi pasar berubah. Salah satu contoh yang umum adalah pemberian diskon pada produk yang mendekati masa kedaluwarsa agar barang cepat terjual dan limbah pangan bisa dikurangi.

Strategi ini juga memberi peritel keleluasaan menyesuaikan harga saat stok menipis atau ketika pesaing mengubah tarif jual. Di sisi industri, langkah tersebut kerap dipandang sebagai cara menjaga efisiensi operasional dan menyesuaikan harga dengan situasi lapangan.

Apa yang membedakan personalized pricing

Personalized pricing bekerja dengan logika yang lebih spesifik karena harga tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar, tetapi juga oleh profil individu pembeli. Ben Winters dari Consumer Federation of America menyebut perusahaan bisa menghitung willingness to pay atau kesediaan membayar seseorang berdasarkan demografi mereka.

Praktik ini memunculkan kekhawatiran karena dua orang yang membeli produk sama bisa saja menerima harga berbeda. Bagi konsumen, kondisi tersebut sulit dipantau karena penyesuaian harga terjadi di balik sistem digital dan tidak selalu terlihat jelas di etalase toko.

Label harga digital ikut mempercepat perubahan

Penerapan digital shelf labels membuat peritel dapat mengubah harga hanya dengan beberapa ketukan tombol. Walmart, misalnya, menargetkan seluruh tokonya menggunakan layar digital pada akhir tahun ini, menandakan teknologi ini makin luas dipakai di sektor ritel modern.

Bagi industri, label digital dianggap memudahkan pembaruan harga dan mengurangi kerja manual. Namun aktivis konsumen menilai teknologi ini bisa membuka jalan bagi surge pricing atau kenaikan harga saat permintaan tinggi, sekaligus mempersulit pembeli membaca alasan di balik perubahan harga.

Doug Baker dari FMI mengatakan 90% penerapan harga dinamis di industri grosir justru bertujuan menurunkan harga, bukan menaikkannya secara sepihak. Pernyataan itu menunjukkan bahwa praktik ini tidak selalu identik dengan kenaikan tarif, meski kekhawatiran publik tetap besar karena transparansi harga kerap dipertanyakan.

Sorotan regulasi di Amerika Serikat

Keresahan terhadap personalisasi harga membuat sejumlah negara bagian mulai bergerak. New York baru-baru ini meloloskan rancangan undang-undang yang melarang personalized pricing atau surveillance pricing.

Maryland juga mengambil langkah serupa dengan melarang toko grosir dan layanan pengiriman menggunakan data pribadi pelanggan untuk menetapkan harga, dan aturan itu akan berlaku mulai Oktober mendatang. Di sisi lain, Connecticut dan Colorado masih mempertimbangkan regulasi yang sejalan, termasuk usulan pelarangan total terhadap label harga digital.

Dampaknya bagi konsumen

Di tengah sistem harga yang makin kompleks, konsumen perlu lebih jeli saat berbelanja. Belanja langsung di toko fisik disebut sering memberi harga yang lebih stabil dibandingkan melalui aplikasi pihak ketiga yang kerap menerapkan biaya layanan dinamis.

Program loyalitas berbasis AI juga bisa memberi kupon yang dipersonalisasi, tetapi manfaat itu datang bersama konsekuensi berupa penggunaan data pribadi untuk memetakan perilaku belanja. Karena itu, pemahaman atas cara kerja dynamic pricing dan personalized pricing menjadi penting agar konsumen tidak hanya melihat harga akhir, tetapi juga tahu bagaimana angka itu bisa terbentuk di rak toko.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version