Alumni Indonesia-Tiongkok, Jembatan Senyap Penguatan SDM Nasional

Penguatan pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu titik temu utama dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok. Hal itu kembali ditegaskan dalam Alumni Gathering Indonesia-China Technical Cooperation Program Silk Road Night Market Reunion yang digelar di Gedung Krida Bhakti, Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis malam.

Forum tersebut menampilkan posisi para alumni program pelatihan sebagai penghubung yang penting. Mereka dinilai bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga jembatan yang membantu memperluas kerja sama, pertukaran pengetahuan, dan jejaring antarlembaga di kedua negara.

Lebih dari 4.000 aparatur telah ikut program

Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menyebut program peningkatan kapasitas yang dijalankan pemerintah Tiongkok telah menjadi salah satu fondasi hubungan bilateral selama lebih dari dua dekade. Lebih dari 4.000 pegawai pemerintah Indonesia dari berbagai bidang telah mengikuti program ini.

Bidang yang tercakup cukup luas, mulai dari administrasi publik, pembangunan industri, inovasi teknologi, manajemen kebencanaan, hingga kesejahteraan masyarakat. Wang menegaskan bahwa program tersebut tidak berjalan satu arah, karena Tiongkok juga belajar dari pengalaman Indonesia.

Menurut dia, proses pertukaran itu membuat kerja sama teknis memiliki nilai yang lebih dalam dibanding sekadar pelatihan. Program ini membangun pemahaman yang lebih kuat tentang kebutuhan masing-masing pihak sekaligus mempererat hubungan antarmanusia.

Alumni dipandang sebagai aset hubungan bilateral

Wang menilai para alumni program pelatihan adalah aset berharga bagi hubungan kedua negara. Ia berharap jaringan alumni terus berkembang dan memberi kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia dan Tiongkok.

Ia juga menekankan bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Prabowo Subianto sama-sama memberi perhatian besar pada pengembangan kapasitas SDM. Dalam pandangannya, pemberdayaan masyarakat, pertukaran pengetahuan, dan konektivitas antarmanusia menjadi energi baru bagi kemitraan strategis kedua negara.

Di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi global, Wang menilai Indonesia dan Tiongkok tetap memiliki posisi penting sebagai mitra strategis di kawasan dan di antara negara-negara Global South. Ia menyebut kerja sama yang dijalankan perlu memberi manfaat nyata bagi masyarakat di kedua negara.

Pemerintah Indonesia apresiasi kerja sama teknis

Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara, Sari Harjanti, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Tiongkok dalam mendukung pengembangan kapasitas aparatur negara Indonesia. Mewakili Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, ia menyebut kerja sama puluhan tahun kedua negara telah menghasilkan capaian konkret di banyak sektor.

Sektor itu mencakup perdagangan, investasi, infrastruktur, energi, pendidikan, dan pengembangan SDM. Menurut Sari, kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok telah memberikan manfaat nyata serta terus mendukung kesejahteraan bersama.

Ia juga menyebut minat aparatur pemerintah Indonesia untuk mengikuti program peningkatan kapasitas internasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Kesempatan yang tersedia kini tidak hanya berupa pelatihan jangka pendek, tetapi juga program pendidikan jenjang magister.

173 program pelatihan disiapkan untuk periode 2024-2026

Sari mengatakan pemerintah Tiongkok menyediakan sedikitnya 173 program pelatihan bagi aparatur pemerintah Indonesia pada periode 2024-2026. Program itu terdiri dari skema bergelar dan non-gelar yang disesuaikan dengan prioritas pembangunan nasional Indonesia.

Ia menegaskan bahwa kerja sama teknis Indonesia-Tiongkok melampaui pelatihan biasa. Program itu dipandang sebagai investasi jangka panjang melalui peningkatan kapasitas, transfer pengetahuan, dan perluasan jejaring internasional.

Jaringan alumni sebagai penghubung yang terus hidup

Pemerintah Indonesia berharap komunitas alumni terus berkembang menjadi wadah yang dinamis. Peran itu dinilai penting untuk berbagi praktik terbaik, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan menjaga hubungan antarmasyarakat tetap aktif.

Sari menilai nilai utama dari program ini tidak hanya ada pada keterampilan yang diperoleh peserta. Persahabatan, saling pengertian, dan kepercayaan yang tumbuh di antara kedua negara juga menjadi hasil penting yang memperkuat fondasi kerja sama jangka panjang.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version