Sedikitnya 47 orang tewas di Lebanon akibat serangkaian serangan udara Israel, sementara militer Israel mengatakan empat tentaranya juga tewas. Serangan itu terjadi ketika gencatan senjata langsung antara Israel dan Hezbollah mulai berlaku pada Jumat sore.
Israel Defense Forces menyebut telah menghantam 80 target yang terkait dengan Hezbollah, kelompok bersenjata yang didukung Iran, dan menewaskan “puluhan” anggotanya. Di sisi lain, kementerian kesehatan Lebanon juga melaporkan 97 orang घायल atau luka-luka akibat serangan udara tersebut.
Di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan, kementerian kesehatan mengatakan sembilan orang tewas di Harouf, tujuh di Haboush, dan enam di al-Duweir, termasuk seorang anak. Kantor berita negara Lebanon lebih dulu menyebut bombardemen semalam di distrik itu sebagai salah satu yang paling intens selama perang.
Hezbollah menyatakan pihaknya menyergap kelompok Israel di Lebanon selatan. Kelompok itu mengklaim menghancurkan tiga tank dengan rudal berpemandu dan menyerang pasukan dengan tembakan roket serta artileri.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan belasungkawa atas tewasnya empat tentara Israel. Ia juga mengatakan telah memerintahkan IDF untuk “menyerang Hezbollah dengan kekuatan penuh”.
“Instruksi saya jelas: Israel tidak akan menoleransi serangan terhadap tentara kami atau wilayah kami, dan akan membalas dengan harga yang sangat berat kepada Hezbollah,” kata Netanyahu di X. Menteri Keamanan Nasional Israel dari kubu sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, bahkan mengatakan “seluruh Lebanon harus terbakar” setelah kabar tewasnya empat tentara itu.
Gencatan senjata di tengah eskalasi
Serangan terbaru ini datang setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan yang ditujukan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, termasuk penghentian permusuhan permanen di Lebanon. Baik Israel maupun Hezbollah tetap saling melancarkan serangan setelah pengumuman kesepakatan itu, sebelum seorang pejabat AS memastikan gencatan senjata langsung telah disetujui.
Sebelum kabar gencatan senjata, Israel mengatakan tidak berniat menarik pasukannya dari Lebanon. Israel juga menegaskan konfliknya dengan Hezbollah terpisah dari perang melawan Iran.
Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelumnya menilai perluasan serangan Israel sebagai “eskalasi berbahaya”. Ia menambahkan bahwa serangan itu tidak akan menghalangi upaya mencapai gencatan senjata komprehensif secepat mungkin.
Dampak perang yang terus membesar
Lebanon terseret ke dalam perang antara Israel, AS, dan Iran tak lama setelah konflik itu dimulai, ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel kemudian membalas dengan kampanye pengeboman di seluruh Lebanon dan menduduki sekitar 5 persen wilayah negara itu di selatan.
Menurut kementerian kesehatan Lebanon, lebih dari 3.900 orang telah tewas sejak konflik terbaru dimulai, termasuk perempuan dan anak-anak. Lebih dari 11.600 orang lainnya terluka, sekitar satu juta orang masih mengungsi, dan puluhan komunitas di selatan dilaporkan hancur total.
Hezbollah sebelumnya menyatakan akan terus menyerang selama invasi masih berlangsung. Di saat yang sama, Netanyahu juga berada di bawah tekanan domestik untuk melanjutkan operasi militer melawan Hezbollah, meski langkah itu berpotensi memicu benturan dengan Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka mengkritik tindakan Israel di Lebanon.
Tekanan diplomatik dari Washington dan Eropa
Perjanjian AS-Iran itu menyerukan penghentian permusuhan di semua front dan penghormatan terhadap integritas teritorial serta kedaulatan Lebanon. Kesepakatan itu juga memuat ketentuan soal program nuklir Iran, keringanan sanksi, dan komitmen kedua pihak untuk mengejar penyelesaian akhir dalam 60 hari, dengan tenggat yang bisa diperpanjang atas persetujuan bersama.
Putaran baru pembicaraan langsung yang dijadwalkan pada Jumat tertunda setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencananya ke Swiss untuk menghadiri pertemuan itu. Vance sebelumnya mengkritik sikap sejumlah anggota kabinet Netanyahu terhadap kesepakatan tersebut dan secara terbuka menyebut mereka perlu “wake up and smell reality”.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot juga mengatakan Israel harus “menghormati” kesepakatan AS-Iran yang ditandatangani pada Kamis. Ia mendorong AS memberi tekanan pada pemerintah Israel agar mematuhi isi perjanjian itu.
Sementara itu, para pejabat AS sebelumnya mengatakan Lebanon termasuk dalam kerangka gencatan senjata. Namun, penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon bukan syarat kesepakatan, dan Israel tetap memiliki hak untuk membela diri.
