Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan keinginannya agar militer Israel tidak bergantung pada Amerika Serikat. Ia menyebut Israel perlu membangun jaringan persenjataan yang benar-benar mandiri dan memproduksi senjata sendiri.
Pernyataan itu memunculkan kembali pertanyaan soal arah hubungan Israel dan AS, terutama di tengah perbedaan pandangan terkait Iran dan konflik di Timur Tengah. Netanyahu menyampaikannya saat berbicara di hadapan para perwira cadangan dalam program pelatihan di Tepi Barat.
Dorongan untuk mandiri di bidang pertahanan
Netanyahu mengatakan Israel tetap menghargai dukungan Amerika, tetapi ketergantungan pada pasokan luar negeri harus dikurangi. Ia menegaskan bahwa Israel perlu punya kemampuan industri pertahanan sendiri agar bisa memenuhi kebutuhan militernya secara lebih independen.
“…kami perlu melepaskan diri dari ketergantungan dan membangun jaringan persenjataan independen kami sendiri,” kata Netanyahu, dikutip dari AFP. Ia juga menekankan bahwa Israel harus memproduksi persenjataan sendiri.
Seruan itu datang tidak lama setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Dalam konteks itu, pernyataan Netanyahu dinilai memperlihatkan dorongan Israel untuk memperkuat kemandirian strategisnya di tengah situasi kawasan yang masih sensitif.
Peran besar AS dalam kekuatan militer Israel
Hubungan pertahanan Israel dan AS selama ini sangat erat. Sejak Israel berdiri pada 1948, Washington menjadi pendukung utama melalui bantuan ekonomi dan militer.
Data Council on Foreign Relations menunjukkan total bantuan AS kepada Israel telah melampaui 300 miliar dolar AS. Angka itu menjadikan Israel penerima bantuan terbesar dari Washington sejak 1946.
Selain itu, perjanjian kerja sama pertahanan yang ditandatangani pada 2016 dan mulai berlaku pada 2019 memberi Israel bantuan pembelian persenjataan sekitar 3,8 miliar dolar AS setiap tahun. Nilai tersebut setara dengan sekitar 15 persen anggaran pertahanan Israel dan berlaku hingga 2028.
Ketergantungan pada dukungan AS inilah yang kini kembali disorot setelah Netanyahu berbicara soal kebutuhan untuk membangun jaringan senjata independen. Isyarat tersebut menunjukkan bahwa Israel ingin mengurangi risiko jika dinamika politik dengan Washington berubah.
Hubungan Netanyahu dan Trump ikut memanas
Pernyataan terbaru Netanyahu juga dibaca dalam konteks hubungan yang makin rumit dengan Presiden AS Donald Trump. Keduanya disebut memiliki pandangan berbeda mengenai cara menghadapi Iran dan mengelola keamanan di Timur Tengah.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump secara terbuka mengkritik langkah Israel dalam konflik dengan kelompok Hizbullah di Lebanon. Trump menilai eskalasi itu bisa mengganggu proses diplomasi dan upaya perdamaian dengan Iran.
Trump juga pernah mengecam Israel dan Iran setelah kedua pihak dituduh melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mengakhiri perang selama 12 hari pada tahun lalu. Sikap itu memperlihatkan adanya jarak pandang antara Washington dan Tel Aviv dalam merespons konflik kawasan.
Bukan kali pertama muncul seruan lepas dari ketergantungan AS
Ketegangan seperti ini bukan hal baru dalam relasi Netanyahu dan Washington. Pada Mei 2025, saat perbedaan sikap soal Iran juga mengemuka, Netanyahu sempat melontarkan gagasan agar Israel mulai melepaskan diri dari ketergantungan pada bantuan Amerika Serikat.
Pernyataan itu kini muncul lagi dengan nada yang lebih tegas, disertai penekanan pada pembangunan industri pertahanan domestik. Di tengah dukungan besar yang selama puluhan tahun datang dari Washington, sikap Netanyahu menandai dorongan Israel untuk menambah ruang manuver strategisnya sendiri.
