Gempa bumi kuat yang mengguncang Caracas, ibu kota Venezuela, membuat ribuan warga berhamburan ke luar rumah dan bertahan di jalanan. Banyak dari mereka masih mengenakan piyama karena guncangan datang mendadak saat warga sedang berada di dalam rumah dan tidak sempat bersiap.
Situasi itu langsung memicu kepanikan, terutama karena listrik dan koneksi internet padam setelah guncangan. Dalam kondisi gelap dan tanpa akses informasi, warga memilih tetap berada di ruang terbuka karena takut gempa susulan dan khawatir bangunan di sekitar mereka runtuh.
Warga keluar dalam keadaan belum sempat berganti pakaian
Jurnalis lokal di Caracas, Noris Soto, menjadi salah satu saksi yang merasakan langsung kepanikan tersebut. Ia mengatakan getaran yang terjadi terasa sangat berbeda dari pengalaman sebelumnya.
“Rasanya tidak seperti apa pun yang pernah saya rasakan sebelumnya,” kata Soto kepada CNN.
Saat gempa terjadi, banyak warga sedang berada di rumah dan sebagian lain tengah menikmati suasana libur Piala Dunia. Karena guncangan datang tiba-tiba, banyak orang hanya sempat menyelamatkan diri tanpa sempat berganti pakaian, sehingga jalanan pun dipenuhi warga dengan pakaian tidur.
Soto menggambarkan bahwa orang-orang takut kembali ke rumah mereka. Kekhawatiran terbesar saat itu adalah kemungkinan gempa susulan yang bisa membuat bangunan yang sudah terdampak menjadi semakin berbahaya.
Caracas lama tak mengalami gempa besar
Caracas sebenarnya berada di atas patahan seismik aktif utama. Namun, kota ini telah lama tidak merasakan aktivitas tektonik besar, sehingga banyak warga tidak lagi menganggap ancaman gempa sebagai risiko yang dekat.
Gempa destruktif terakhir di kota itu tercatat terjadi pada 1967. Jarak waktu yang panjang tanpa guncangan besar membuat kewaspadaan masyarakat menurun, meski ancaman geologis tetap ada.
Kondisi itu ikut menjelaskan mengapa banyak warga terlihat panik dan kebingungan saat gempa terjadi. Bagi sebagian besar penduduk, peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang tidak mereka antisipasi.
Kerusakan banyak terjadi pada bangunan tua
Di tengah kepanikan warga, pertanyaan lain muncul soal mengapa kerusakan tampak cukup besar. Kenneth O’Dell, Principal di MHP Structural Engineers, menilai banyak bangunan yang rusak dibangun sebelum awal 1970-an dan memakai kode bangunan lama.
O’Dell, yang juga mantan Presiden Structural Engineers Association of California, menyebut bangunan beton dari era itu termasuk yang paling rentan. Menurut dia, struktur tersebut belum dirancang dengan standar ketahanan gempa modern yang kini menjadi acuan.
“Jenis bangunan yang akan menunjukkan kerusakan adalah struktur beton dari bangunan rentan yang kemungkinan dibangun dengan kode bangunan versi lama yang mereka gunakan di sana di Venezuela,” ujar O’Dell.
Ia menambahkan, Venezuela sebenarnya telah memperbarui regulasi konstruksi dan mengadopsi standar yang lebih ketat, termasuk mengacu pada American Concrete Institute. Namun, bangunan lama yang belum direnovasi tetap menyimpan risiko besar saat gempa kuat terjadi.
Trauma dan ketidakpastian membuat warga bertahan di luar
Setelah gempa, warga memilih berkumpul di ruang-ruang terbuka sambil menunggu situasi lebih aman. Mereka saling mencari kabar keluarga, mencoba menenangkan diri, dan menghindari bangunan yang dikhawatirkan masih tidak stabil.
Pemandangan warga bertahan di jalanan, termasuk yang hanya memakai piyama, menjadi gambaran paling jelas dari kepanikan malam itu. Situasi tersebut juga menunjukkan bagaimana gempa mendadak masih bisa melumpuhkan kota besar ketika jaringan listrik padam, komunikasi terputus, dan banyak bangunan tua belum sepenuhnya siap menghadapi guncangan kuat.
