Sebuah mobil Tesla menabrak rumah warga dan menewaskan seorang nenek berusia 76 tahun yang berada di dalam bangunan itu. Pengemudinya kini menghadapi tuduhan pembunuhan tidak berencana setelah aparat menahan dirinya usai insiden tersebut.
Kantor Sheriff Harris County menyebut kendaraan itu keluar jalur lalu melesat menembus dinding rumah. Rekaman kamera bel pintu memperlihatkan mobil bergerak sangat kencang sebelum menghantam area pemukiman dan memicu kerusakan berat.
Detik-detik sebelum benturan
Dokumen pemeriksaan menunjukkan mobil listrik tersebut mencapai kecepatan 73 mil per jam, atau sekitar dua kali lipat dari batas aman yang berlaku di area itu. Aparat juga menyatakan tidak ada pengereman sama sekali selama beberapa menit sebelum tabrakan keras terjadi.
Pengemudi, seorang kurir makanan yang bekerja untuk DoorDash dan diidentifikasi sebagai Butler, mengaku sempat sibuk mengutak-atik layar sentuh di dasbor untuk mengatur musik. Ia juga menyatakan tidak berada di bawah pengaruh alkohol maupun obat-obatan saat kejadian.
Tuduhan dan pembatasan dari pengadilan
Hakim kemudian menetapkan uang jaminan pembebasan bersyarat sebesar 150.000 dolar AS. Selain itu, pengemudi diwajibkan memakai alat pemantau elektronik di pergelangan kaki dan dilarang mengemudikan kendaraan bermotor selama proses hukum berjalan.
Aparat menahan Butler atas tuduhan pembunuhan tidak berencana. Langkah ini menandai seriusnya penanganan kasus yang berawal dari kecelakaan lalu lintas namun berujung pada hilangnya nyawa.
Tesla membantah sistemnya bermasalah
Di tengah proses pidana, Tesla menolak anggapan bahwa insiden itu terjadi karena malafungsi sistem. Ashok Elluswamy, Kepala AI Tesla, menyebut pengemudi secara manual membatalkan sistem self-driving dengan menekan pedal akselerator penuh hingga 100% di kawasan perumahan itu.
Elon Musk juga menyampaikan bahwa mode kemudi otomatis penuh seharusnya berjalan lambat saat melewati kawasan padat penduduk. Pernyataan itu memperlebar perdebatan soal apakah kecelakaan dipicu kesalahan manusia atau kelemahan teknologi.
Keluarga korban menggugat Tesla
Keluarga korban, Avila, tidak menerima penjelasan perusahaan dan langsung mengajukan gugatan perdata. Mereka menuduh Tesla lalai karena diduga tidak memberi peringatan yang transparan mengenai potensi cacat pada sistem kemudi otomatis.
Gugatan itu membuat kasus ini tidak hanya menyentuh ranah pidana pengemudi, tetapi juga sorotan atas tanggung jawab produsen mobil listrik. Perkara tersebut kini menjadi perhatian publik karena menyangkut keamanan penggunaan teknologi otomasi di jalan raya dan di lingkungan permukiman.
