Irak dan AS Siap Perluas Kerja Sama Migas, Peta Energi Baghdad Bisa Berubah

Author: Qoo Media

Kunjungan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Washington pada Senin, 13 Juli 2026, diperkirakan membawa pesan yang lebih besar dari sekadar pertemuan diplomatik biasa. Baghdad dan Washington disebut akan menandatangani sejumlah kesepakatan di sektor minyak dan gas yang berpotensi memperluas kerja sama ekonomi kedua negara.

Langkah ini muncul di saat Irak harus menjaga keseimbangan hubungan dengan Iran dan Amerika Serikat di tengah ketegangan militer yang terus memanas. Di sisi lain, Irak juga sedang mencari cara untuk memperkuat sektor energinya dan mengurangi risiko gangguan pada jalur ekspor utama.

Fokus utama pada minyak, gas, dan jalur ekspor baru

Juru bicara pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, mengatakan kesepakatan yang disiapkan mencakup beberapa nota kesepahaman di sektor minyak dan gas. Salah satu targetnya adalah menggandeng lebih banyak perusahaan asal AS untuk membantu meningkatkan kapasitas produksi minyak Irak.

Menurut Al-Aboudi, perjanjian itu juga diarahkan untuk membuka jalur ekspor alternatif. Opsi ini dipandang penting agar Irak tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz yang rawan terganggu saat konflik di kawasan meningkat.

Agenda Utama Fokus Tujuan
Nota kesepahaman migas Minyak dan gas Memperluas kerja sama energi dengan AS
Keterlibatan perusahaan AS Produksi minyak Meningkatkan kapasitas produksi Irak
Jalur ekspor alternatif Logistik energi Mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz
Penguatan militer Keamanan Menjadi bagian dari pembahasan di Washington

Isu jalur ekspor menjadi sorotan karena Irak, seperti negara produsen minyak lain di Teluk, ikut merasakan tekanan saat pelayaran di Selat Hormuz terganggu selama konflik antara AS dan Iran. Gangguan itu ikut menekan pendapatan sektor minyak Irak.

Hubungan rumit Baghdad, Washington, dan Teheran

Selain energi, penguatan angkatan bersenjata Irak juga masuk dalam agenda pembahasan di Washington. Topik ini memperlihatkan bahwa kerja sama kedua negara tidak hanya berputar pada urusan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek keamanan.

Hubungan Irak dan AS selama ini memang kerap menghadapi tantangan. Persoalannya mencakup keberadaan pasukan AS di Irak, kedekatan Baghdad dengan Iran, dan tekanan Washington agar pemerintah Irak membatasi pengaruh kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Di tengah rumitnya posisi tersebut, kunjungan Ali al-Zaidi menjadi penanda bahwa Baghdad tetap berusaha menjaga komunikasi dengan Washington. Sejak ditunjuk sebagai perdana menteri pada April 2026, ia juga menerima ucapan selamat dari Presiden AS Donald Trump.

Dalam pesannya, Trump menyampaikan harapan agar kerja sama Baghdad dan Washington bisa semakin erat. Di Washington, harapan itu kini diuji lewat agenda konkret yang menyentuh sektor migas, ekspor energi, dan keamanan Irak.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru