Timur Tengah kembali menjadi pusat perhatian dunia dalam sepekan terakhir. Dua kabar besar yang mencolok datang dari Iran dan Gaza, masing-masing menyangkut pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keputusan Hamas membubarkan badan yang mengelola pemerintahan di Jalur Gaza.
Kedua peristiwa itu menambah lapisan baru pada situasi yang sudah tegang. Di saat yang sama, Iran juga kembali menutup Selat Hormuz, sementara rangkaian kabar dunia lain ikut memicu sorotan, mulai dari blunder Presiden Donald Trump di KTT NATO hingga kontroversi pencabutan kartu merah pemain AS.
Pemakaman Ali Khamenei di Mashhad
Ayatollah Ali Khamenei dimakamkan di kompleks suci Imam Reza di Mashhad setelah sepekan prosesi pemakaman yang dihadiri lautan pelayat di Iran maupun Irak. Prosesi itu berlangsung di tengah situasi yang masih panas, ketika Iran dan AS kembali saling melancarkan serangan setelah gencatan senjata yang sempat berlaku.
Putra sekaligus penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei, juga menjadi perhatian karena belum terlihat di hadapan publik sejak perang dimulai. www.kompas.com mencatat bahwa rangkaian prosesi ini menjadi salah satu peristiwa paling menonjol dalam kabar dunia sepekan terakhir.
Hamas Resmi Mundur dari Pengelolaan Gaza
Di Gaza, Hamas mengumumkan pembubaran badan yang selama hampir dua dekade mengelola pemerintahan di Jalur Gaza. Keputusan yang diumumkan pada Senin (6/7/2026) itu membuka jalan bagi komite teknokrat untuk mengambil alih administrasi sipil di wilayah tersebut.
Hamas memimpin pemerintahan Gaza sejak merebut kendali dari faksi Palestina Fatah pada 2007, setelah memenangi pemilu legislatif setahun sebelumnya. Langkah terbaru ini menandai perubahan penting dalam struktur pemerintahan sipil di Gaza, meski dampak politik lanjutannya masih harus dilihat.
Iran Tutup Selat Hormuz Lagi
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menutup sementara Selat Hormuz sampai pemberitahuan lebih lanjut. Dalam pernyataan yang disiarkan melalui lembaga penyiaran negara, IRGC menyatakan bahwa campur tangan asing dan upaya menetapkan “jalur ilegal” melalui selat itu akan ditanggapi dengan tegas.
IRGC juga memperingatkan bahwa setiap agresi Amerika Serikat akibat penutupan ini akan dibalas dengan keras. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis bagi arus pelayaran dan energi, sehingga langkah Iran langsung menarik perhatian internasional.
Blunder Trump di KTT NATO
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat kekeliruan saat berbicara di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turkiye. Dalam pernyataannya kepada media pada Rabu (8/7/2026), Trump keliru menyebut “Republik Islam Jepang” ketika membahas serangan rudal yang dikaitkan dengan Iran terhadap kapal induk AS.
Dilansir Turkiye Today, kekeliruan itu terjadi saat Trump memuji kapal induk USS Abraham Lincoln sebagai salah satu kapal terbesar dan tercantik milik Angkatan Laut AS. Momen itu menjadi salah satu sorotan tersendiri dari agenda diplomatik yang seharusnya fokus pada isu pertahanan dan kerja sama aliansi.
Kontroversi Pencabutan Kartu Merah Pemain AS
Keputusan FIFA mencabut skorsing penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menjelang laga babak 16 besar Piala Dunia melawan Belgia menuai kecaman dari berbagai pihak. UEFA, Federasi Sepak Bola Jerman, Federasi Sepak Bola Belgia, hingga sejumlah tokoh sepak bola menilai keputusan itu berpotensi merusak integritas kompetisi.
Balogun sebelumnya dijatuhi kartu merah saat AS mengalahkan Bosnia-Herzegovina 2-0 di babak 32 besar. Kontroversi ini membuat keputusan FIFA menjadi bahan perdebatan di tengah persaingan menuju fase gugur turnamen.
Australia Larang Daun Kelor
Moringa oleifera atau daun kelor tidak dapat dijual sebagai makanan atau bahan makanan di Australia setelah dianggap tidak aman dikonsumsi manusia. Keputusan yang diberlakukan pada November 2025 oleh Badan Standar Pangan Australia Selandia Baru atau FSANZ itu kini ingin diubah oleh petani kelor di Australia.
Para petani menjadi bingung apakah mereka masih bisa menjual hasil panen saat musim panen tiba. Kebijakan ini membuat daun kelor, yang selama ini dikenal luas di banyak tempat, justru masuk dalam perdebatan soal keamanan pangan di Australia.
Source: www.kompas.com






