Kebakaran di Rong Beer Na Lat Phrao, Bangkok, berubah menjadi tragedi besar setelah 30 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Penyidik kini menyoroti kombinasi mematikan antara pintu darurat yang terkunci, jalur evakuasi yang terhalang, dan asap beracun yang memenuhi ruangan.
Fakta-fakta baru yang muncul membuat insiden ini tidak lagi dipandang sebagai kebakaran biasa. Sejumlah korban selamat menyebut mereka kesulitan keluar karena minim petunjuk evakuasi, sementara api dengan cepat menjalar di dalam bar yang gelap setelah listrik padam.
Penyebab awal dan penyebaran api
Penyidik menemukan dugaan awal bahwa kebakaran dipicu korsleting listrik pada pendingin ruangan. Korsleting itu memutus aliran listrik dan membuat interior bar seketika gelap, sehingga pengunjung kehilangan kesempatan untuk mencari jalan keluar.
Api juga diduga cepat membesar karena penggunaan dekorasi plastik dan busa mudah terbakar di area panggung. Menurut Jenderal Polisi Kittiratt Phanphet, kondisi ini menunjukkan kurangnya kehati-hatian dan pengabaian terhadap keselamatan pengunjung.
Korban banyak ditemukan di toilet belakang
Sebagian besar korban tewas ditemukan menumpuk di toilet yang berada di bagian belakang bar. Mereka diduga berlari ke area itu untuk menghindari kobaran api yang muncul di panggung utama.
Pakar keselamatan kebakaran dari Engineering Institute of Thailand, Busakorn Saensuk, menjelaskan bahwa pengunjung secara naluriah akan bergerak menjauhi api menuju bagian belakang ruangan. Namun ketika sampai di sana, mereka tidak bisa keluar.
Busakorn menemukan pintu keluar di dekat toilet terkunci, sementara dua pintu utama terhalang tumpukan furnitur. Ia juga menyoroti ketiadaan penerangan darurat, yang membuat korban tidak bisa melihat jalur evakuasi di dalam kegelapan.
| Temuan di Lokasi | Kondisi | Dampak |
|---|---|---|
| Pintu keluar dekat toilet | Terkunci | Korban terjebak di bagian belakang |
| Dua pintu utama | Terhalang furnitur | Jalur kabur tertutup |
| Penerangan darurat | Tidak ada | Korban sulit menemukan jalan keluar |
Busakorn mengatakan, jika tanda darurat menyala, orang-orang setidaknya bisa melihat bahwa pintu tersebut terkunci dan mungkin berusaha membukanya. Dalam kondisi gelap total, peluang selamat menjadi jauh lebih kecil.
Asap beracun disebut membunuh lebih dulu
Profesor teknik struktur Worsak Kanok Nukulchai menilai asap beracun menjadi pembunuh pertama sebelum api menyentuh tubuh korban. Ia menyebut reaksi material plastik dan plafon busa menghasilkan karbon monoksida serta hidrogen sianida yang sangat mematikan.
Analisis ini memperkuat dugaan bahwa korban banyak kehilangan kesadaran dalam waktu singkat. Situasi itu membuat evakuasi makin sulit, terutama di ruang tertutup yang penuh asap.
Masalah izin dan rekam jejak pemilik
Investigasi juga mengungkap bar tersebut terdaftar sebagai restoran musik hidup, bukan tempat hiburan malam resmi. Celah hukum ini diduga membuat pengelola tidak diwajibkan secara hukum untuk memakai material bangunan tahan api.
Di sisi lain, media lokal melaporkan pemilik Rong Beer Na Lat Phrao memiliki rekam jejak buruk terkait insiden kebakaran. Ia diketahui pernah memiliki pub di Provinsi Yasothon yang juga ludes terbakar pada Desember 2019.
Meski kejadian di Yasothon berlangsung saat siang hari dan tempat itu kosong tanpa pengunjung, catatan tersebut kini ikut disorot dalam penyelidikan pidana di Bangkok. Pemerintah Kota Bangkok pun mulai meninjau ulang standarisasi bahan bangunan untuk seluruh kategori tempat usaha kuliner agar tragedi serupa tidak terulang.
Di tengah penyelidikan yang masih berjalan, 27 jenazah korban tewas telah berhasil diidentifikasi. Sementara itu, 24 dari 70 korban luka masih berada dalam kondisi kritis.
Kebakaran ini juga menghancurkan grup band indie lokal Thotsakan yang sedang tampil malam itu, karena dua personelnya dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Peristiwa itu menambah daftar panjang pertanyaan tentang kelalaian keselamatan di tempat hiburan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pengunjung.
Source: www.suara.com






