Ketegangan antara Israel dan Iran terus meningkat, dengan serangan besar-besaran Israel ke Teheran pada 13 Juni 2025 lalu mengubah dinamika konflik ini. Operasi yang diberi nama "Operation Rising Lion" ini menargetkan sekitar 150 lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas militer dan ilmiah. Serangan ini menyebabkan kematian sembilan ilmuwan nuklir Iran dan beberapa jenderal Garda Revolusi, serta menghancurkan blok apartemen yang menewaskan 60 orang, termasuk 29 anak-anak.
Sebagai respons, Iran meluncurkan sekitar 100 drone tempur ke wilayah Israel, terutama di Tel Aviv. Serangan balasan dari Iran ini merenggut nyawa tiga warga sipil dan melukai lebih dari 170 orang. Suara sirene serangan udara menggema sepanjang malam, memaksa ribuan orang di Israel untuk mencari perlindungan. Eskalasi yang terjadi antara kedua negara ini memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya Perang Dunia III, dengan berbagai pihak mulai memperhatikan potensi terlibatnya kekuatan besar.
Strategi dan Potensi Konflik Global
Prof. Anthony Glees, pengamat militer dari Universitas Buckingham, mengamati bahwa strategi Israel menggabungkan serangan udara, drone, dan serangan siber merupakan bentuk baru dari perang modern. Ia menekankan, “Ini bisa jadi cetak biru Perang Dunia III. Kita akan melihat bukan hanya bom dan rudal, tetapi juga serangan digital yang dapat melumpuhkan sistem komunikasi secara total.” Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah ini tidak sekadar konflik regional, tetapi berpotensi menjalar ke skala yang lebih luas.
Pemerintah dunia pun merespon dengan cepat. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, untuk membahas pentingnya deeskalasi konflik ini. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memerintahkan penarikan staf kedutaan dari Irak, Bahrain, dan Kuwait, meskipun terlihat bahwa AS cenderung mendukung Israel dalam situasi ini. “Kami tidak akan membiarkan mereka (Iran) memiliki senjata nuklir. Titik,” ungkap Trump.
Ancaman dan Tanggapan di Arena Internasional
PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan ke Iran belum selesai dan bersumpah akan memberikan serangan yang lebih keras. “Apa yang mereka rasakan baru permulaan. Kami akan menghancurkan semua fasilitas dan simbol kekuasaan Ayatollah,” tegas Netanyahu. Sumber militer Israel mengklaim bahwa fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Isfahan mengalami kerusakan parah, dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi adanya kebocoran radiasi meskipun masih dapat dikendalikan.
Di tengah ketegangan ini, negosiasi diplomatik yang dijadwalkan antara Iran dan AS di Oman dibatalkan oleh Teheran. “Tidak ada gunanya berunding di tengah hujan rudal,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran. Ancaman dari Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, semakin menambah kegelisahan global. Harga minyak internasional bahkan melonjak hingga 7% sebagai dampak dari serangan yang menghantam fasilitas gas South Pars di Bushehr.
Situasi yang Belum Jelas
Walaupun kekuatan proksi Iran, seperti Hezbollah dan Hamas, sedang dalam posisi lemah, tekanan terhadap pemimpin Iran, Ayatollah Khamenei, semakin meningkat. Khamenei berada di persimpangan sulit; menyerah bisa diartikan sebagai kekalahan besar, sementara melawan dapat membuka pintu bagi intervensi militer global.
Saat kedua negara bersiap untuk konflik jangka panjang, dunia kini menyaksikan dengan cemas. Pertanyaan yang menggantung adalah bukan hanya kapan konflik ini akan berakhir, tetapi apakah kita sedang menyaksikan babak awal dari Perang Dunia III? Waktu akan menjawab kekhawatiran ini, sementara ketidakpastian terus mengelilingi kawasan yang penuh dengan ketegangan ini.







