103 Demokrat Dukung Hentikan Dana Israel, Retak Besar Menjangkau Elite DPR AS

Perubahan sikap besar terjadi di DPR Amerika Serikat ketika 103 dari 211 anggota Partai Demokrat mendukung penghentian dana bantuan untuk Israel. Pilihan itu memperlihatkan keretakan yang kini menjangkau tokoh-tokoh senior partai, termasuk mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi.

Pemungutan suara pada Rabu (15/7/2026) memang berakhir dengan kekalahan amendemen tersebut. Namun, perolehan dukungan dari kubu Demokrat melonjak tajam dibandingkan penolakan serupa dua tahun sebelumnya.

Suara Demokrat Berubah Tajam

Usulan itu berupa amendemen dalam draf undang-undang belanja Kementerian Luar Negeri AS yang diajukan anggota Partai Republik berhaluan isolasionis, Thomas Massie. Amendemen tersebut menargetkan penghapusan bantuan sebesar 3,3 miliar dollar AS untuk Israel.

Menurut laporan Politico yang dikutip Kompas.com, hasil akhir mencatat 314 anggota menolak dan 104 anggota mendukung amendemen itu. Kekuatan suara Partai Republik membuat upaya penghapusan dana tersebut tidak lolos.

Data Pemungutan SuaraJumlahKeterangan
Mendukung amendemen104Total anggota DPR AS
Menolak amendemen314Total anggota DPR AS
Demokrat mendukung103 dari 211Memilih penghentian bantuan
Demokrat absen10Tidak memberikan suara
Demokrat penolak serupa dua tahun lalu37Mayoritas dari sayap kiri

Angka 103 anggota Demokrat yang memilih “ya” menjadi kontras dengan situasi dua tahun lalu. Saat itu, hanya 37 anggota Demokrat, yang mayoritas berada di sayap kiri jauh, menyatakan penolakan terhadap bantuan serupa.

Lonjakan dukungan itu menjadi sinyal bahwa perdebatan mengenai hubungan Washington dan Israel tidak lagi terbatas pada kelompok progresif. Perbedaan pandangan kini muncul di antara pimpinan Demokrat di DPR AS.

Pelosi dan Clark Memilih Mendukung

Nancy Pelosi ikut mendukung amendemen tersebut meski menyatakan keputusan itu diambil dengan enggan. Ia mengatakan langkah tersebut dimaksudkan untuk mengirim sinyal tegas kepada sekutu AS itu.

“Masyarakat Amerika secara tepat menuntut diakhirinya siklus perang yang berkepanjangan, dan pemerintahan Netanyahu tidak dapat mempertahankan jalannya saat ini,” tegas Pelosi. Sikapnya sejalan dengan Katherine Clark, perwakilan nomor dua Demokrat di DPR AS.

Clark mengatakan ada dorongan kuat untuk mengakhiri keadaan yang berjalan selama ini. “Ada perasaan nyata bahwa status quo tidak dapat berlanjut,” ujarnya menjelang pemungutan suara.

Perubahan peta suara tersebut juga muncul di tengah persaingan pemilu primer. Kandidat progresif disebut berulang kali mengalahkan petahana dengan janji kampanye menolak dana dari kelompok pro-Israel.

Jeffries Menolak karena Risiko bagi Gaza

Pemimpin Minoritas Demokrat Hakeem Jeffries mengambil posisi berbeda dengan menolak amendemen Massie. Ia menilai rancangan itu buruk karena berpotensi memangkas bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Gaza.

Meski demikian, Jeffries mengakui adanya tuntutan untuk merestrukturisasi hubungan bilateral dengan Israel. Isu itu menguat karena perjanjian bantuan keamanan selama 10 tahun yang diteken pada masa Presiden Barack Obama akan berakhir pada akhir tahun ini.

Untuk meredakan perbedaan internal, Jeffries menggelar dua pertemuan tertutup dengan anggota Demokrat. Dalam pertemuan itu, ia meminta para anggota memberikan suara sesuai hati nurani masing-masing.

Gregory Meeks, anggota senior Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri, juga menolak pembatalan dana. Namun, ia menekankan pentingnya memastikan Israel memenuhi standar yang diterapkan AS kepada negara lain.

Pesan Keras bagi Netanyahu

Ketua Kaukus Progresif DPR AS Greg Casar menyambut peningkatan suara dukungan sebagai perkembangan penting. Ia menyatakan frustrasi atas penggunaan dana pajak masyarakat untuk mendukung militer Israel.

“Rakyat Amerika berteriak menuntut diakhirinya subsidi pajak AS untuk militer Israel,” cetus Casar dalam suratnya. Setelah pemungutan suara, ia menyebut mayoritas Demokrat kini menolak pengiriman miliaran dollar senjata ke militer Israel.

Casar juga mengarahkan peringatannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurutnya, suara tersebut mengirim pesan bahwa “hari-hari pemberian cek kosong tanpa pertanggungjawaban untuk perang dan kejahatan perangnya telah berakhir, setidaknya dari Partai Demokrat.”

Source: www.kompas.com
Terkait