Kwibohora 32 Mengingatkan Rwanda, Pembebasan Menuntut Tanggung Jawab Generasi

Peringatan Kwibohora ke-32 menegaskan bahwa pembebasan Rwanda tidak dipandang sebagai peristiwa sejarah yang selesai pada satu titik. Bagi Rwanda, makna kemerdekaan harus terus dijaga melalui persatuan, kedaulatan, institusi yang kuat, dan peluang bagi generasi muda.

Pesan itu disampaikan Duta Besar Rwanda untuk Indonesia Sheikh Abdul Karim Harelimana dalam peringatan Kwibohora 32 di Jakarta, Jumat (17/7/2026). Ia menekankan bahwa kemajuan nasional harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pembebasan sebagai komitmen berkelanjutan

Kwibohora adalah istilah dalam bahasa Kinyarwanda yang berarti membebaskan. Hari Pembebasan Rwanda diperingati setiap 4 Juli untuk menandai berakhirnya Genosida 1994 terhadap Tutsi serta pembebasan negara itu dari masa penderitaan dan kehancuran.

Menurut Harelimana, nilai pembebasan menuntut kerja lintas generasi, bukan sekadar mengenang capaian masa lalu. Ia menyebut menjaga persatuan dan memperkuat negara sebagai bagian dari tugas yang harus diteruskan.

"Pembebasan bukanlah sebuah tujuan akhir yang telah selesai dicapai. Pembebasan merupakan komitmen berkelanjutan untuk menjaga persatuan, melindungi kedaulatan, memperkuat institusi, menciptakan kesempatan bagi generasi muda, serta memastikan setiap orang dapat turut merasakan kemajuan negara kita," kata Harelimana.

Peringatan tersebut juga menjadi ruang untuk mengenang lebih dari satu juta korban Genosida 1994 terhadap Tutsi. Genosida yang berlangsung selama 100 hari itu disebut sebagai salah satu tragedi paling buruk pada Abad ke-20.

Harelimana mengajak masyarakat memberikan penghormatan kepada para korban dan berdiri bersama para penyintas. Ia juga menegaskan komitmen agar tragedi serupa tidak berulang di mana pun di dunia.

Menurutnya, masa tergelap itu tidak menghentikan perjalanan Rwanda. Hari Pembebasan menandai momen ketika harapan mengalahkan keputusasaan bagi bangsa tersebut.

Dari kehancuran menuju rekonsiliasi

Dubes Rwanda itu turut memberi penghormatan kepada anggota Tentara Patriotik Rwanda atau Inkotanyi. Mereka disebut telah mengakhiri genosida, membebaskan negara, dan mengembalikan harapan bagi jutaan warga.

Pengorbanan tersebut, kata Harelimana, menjadi fondasi pembangunan Rwanda selama 32 tahun terakhir. Negara itu memilih persatuan ketimbang perpecahan, rekonsiliasi ketimbang pembalasan, serta pembangunan institusi ketimbang ketidakstabilan.

Ia menyebut tata kelola yang akuntabel, keamanan, kesetaraan gender, inovasi, dan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari perkembangan Rwanda. Perbaikan layanan kesehatan, perluasan akses pendidikan, serta pertumbuhan ekonomi juga menjadi bidang yang disorot dalam transformasi tersebut.

Berbagai capaian itu dinilai lahir dari kepemimpinan, ketangguhan rakyat, dan kekuatan institusi. Harelimana mengatakan masa depan Rwanda ditentukan oleh pilihan bersama, bukan semata-mata oleh luka masa lalu.

Ia juga mengutip pesan Presiden Rwanda Paul Kagame pada Hari Pembebasan 4 Juli bahwa perjalanan negara tersebut masih terus berlanjut. Pesan itu dinilai mencerminkan inti Kwibohora 32, yakni kewajiban setiap generasi menjaga hasil perjuangan pendahulunya.

Tanggung jawab itu turut diarahkan kepada diaspora Rwanda, termasuk komunitas Rwanda di Indonesia. Harelimana meminta mereka menjunjung profesionalisme, integritas, kerja keras, dan komitmen pada keunggulan sambil memberi kontribusi positif bagi Indonesia maupun Rwanda.

Indonesia melihat inspirasi dan peluang kemitraan

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto menyatakan Kwibohora bukan hanya tentang kebebasan yang telah diraih. Menurutnya, peringatan itu juga mencerminkan keberanian Rwanda untuk membangun kembali dan bangkit dengan tujuan yang jelas.

"Pembebasan bukanlah satu peristiwa tunggal dalam sejarah, melainkan perjalanan berkelanjutan yang dibentuk oleh ketangguhan, persatuan, dan tekad rakyat Rwanda untuk mengubah kepedihan menjadi kemajuan," kata Santo dalam sambutannya. Ia menyampaikan penghormatan dan solidaritas dari rakyat serta Pemerintah Indonesia kepada rakyat Rwanda.

Santo menilai perjalanan Rwanda menginspirasi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mempercayai kekuatan persatuan dan pembaruan nasional. Di tengah ketidakpastian global, ia menyebut perdamaian, rekonsiliasi, dan pembangunan perlu terus dipelihara bersama.

Indonesia dan Rwanda, menurut Santo, berkomitmen mempererat kerja sama di bidang politik dan keamanan, perdagangan dan investasi, pendidikan, serta pembangunan. Kemajuan menuju perjanjian perdagangan preferensial juga disebut membuka jalur baru bagi hubungan ekonomi kedua negara.

Namun, kemitraan Indonesia-Rwanda disebut tidak berhenti pada agenda perdagangan. Santo menekankan hubungan kedua negara bertumpu pada saling percaya, penghormatan, dan solidaritas yang langgeng untuk membangun masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda.

Source: www.liputan6.com
Terkait