Gelombang produk murah dari Tiongkok kembali menekan pasar global, tetapi kali ini sasarannya bukan hanya pakaian dan alas kaki. Kendaraan listrik, baterai lithium-ion, panel surya, hingga semikonduktor kini menjadi bagian dari China Shock kedua yang mengusik industri di banyak negara.
Tekanan paling terasa di wilayah yang masih mengandalkan manufaktur sebagai penopang ekonomi, terutama Eropa. Negara-negara di Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, dan Amerika Serikat juga menghadapi persaingan dari ekspor Tiongkok yang terus meningkat.
Guncangan Baru Menyasar Produk Berteknologi Tinggi
China Shock pertama terjadi sekitar 25 tahun lalu ketika barang murah Tiongkok membanjiri pasar Amerika Serikat. Gelombang tersebut dikaitkan dengan hilangnya sekitar 3 juta pekerjaan pabrik di AS.
Perbedaannya, tekanan terbaru datang dari produk dengan nilai teknologi lebih tinggi dan langsung berhadapan dengan sektor industri strategis. Kondisi ini membuat risiko deindustrialisasi serta ketegangan politik menjadi perhatian di banyak negara.
| Aspek | China Shock Pertama | China Shock Kedua |
|---|---|---|
| Produk utama | Pakaian dan alas kaki | EV, baterai lithium-ion, tenaga surya, semikonduktor |
| Dampak menonjol | Tekanan pada pekerjaan pabrik AS | Tekanan pada industri di Eropa dan berbagai kawasan |
| Wilayah terdampak | Terutama Amerika Serikat | Eropa, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, dan AS |
Krisis Properti Mendorong Kelebihan Kapasitas
Lonjakan ekspor Tiongkok berhubungan dengan perubahan arah investasi Beijing setelah gelembung pasar properti runtuh beberapa tahun lalu. Firma investasi KKR memperkirakan krisis tersebut menghapus kekayaan rumah tangga senilai US$10 triliun.
Sejak 2020, pemerintah Tiongkok mengalihkan investasi ke penambahan kapasitas manufaktur untuk menutup pelemahan sektor real estat. Industri kendaraan listrik, baterai, dan tenaga surya menjadi fokus besar dalam pergeseran tersebut.
Masalahnya, kapasitas pabrik tumbuh lebih cepat daripada permintaan dari konsumen domestik. Produsen akhirnya mencari pembeli di luar negeri untuk menjaga kegiatan produksi dan lapangan kerja tetap berjalan.
Data Bea Cukai Beijing menunjukkan ekspor pada paruh pertama tahun ini naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Julian Evans-Pritchard, kepala ekonomi Tiongkok di Capital Economics Singapura, menilai pertumbuhan permintaan domestik belum cukup menyerap tambahan produksi itu.
“Terjadi peningkatan besar dalam kapasitas manufaktur selama lima hingga enam tahun terakhir. Namun pertumbuhan permintaan domestik tidak cukup untuk menyerapnya,” ujar Evans-Pritchard.
Eropa Berhadapan dengan Tekanan Terberat
Amerika Serikat sejauh ini mencoba membatasi dampak gelombang baru melalui kebijakan tarif yang ketat. Eropa berada dalam situasi berbeda karena harus menjaga industri sendiri sambil menghadapi masuknya produk Tiongkok dalam jumlah besar.
Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan langkah bersama untuk melindungi industri Eropa dari produk Tiongkok yang disubsidi. Menurut laporan mediaindonesia.com, tekanan itu semakin nyata ketika produk manufaktur berharga murah masuk ke pasar yang selama ini didominasi produsen Eropa.
Pangsa Tiongkok dalam perdagangan barang global telah naik dari 4% pada 2000 menjadi 16% saat ini. IMF juga memperkirakan mata uang Tiongkok berada di bawah nilai wajarnya hingga 21%, yang membuat harga ekspornya semakin kompetitif.
Di sektor kendaraan, lebih dari 1 juta mobil buatan Tiongkok diimpor ke Uni Eropa pada tahun lalu. Angka tersebut memperlihatkan besarnya persaingan yang kini dihadapi industri otomotif Eropa.
Jerman dan Produsen Mobil dalam Posisi Sulit
Jerman menjadi salah satu negara yang paling rentan karena manufaktur merupakan kekuatan tradisional ekonominya. Volkswagen dilaporkan berencana menutup empat pabrik di Jerman serta memangkas 100.000 pekerja dalam restrukturisasi menghadapi persaingan dari Tiongkok.
Produsen mobil Tiongkok disebut mampu membuat hampir dua kali lipat jumlah kendaraan yang dapat dijual di pasar domestik mereka. Brad Setser dari Council on Foreign Relations mengatakan persaingan dan kelebihan pasokan membuat penjualan di pasar domestik Tiongkok sulit menghasilkan keuntungan.
“Tidak ada uang yang bisa dihasilkan dengan menjual di pasar Tiongkok yang sangat kompetitif dan kelebihan pasokan,” kata Setser. Situasi itu mendorong produsen untuk semakin agresif mencari pasar ekspor.
Tarif dan Konsumsi Menjadi Titik Tarik-Menarik
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak Tiongkok mengalihkan fokus dari kebijakan industri menuju dukungan terhadap konsumsi rumah tangga. Ia menilai model yang terlalu bergantung pada produksi dan ekspor tidak berkelanjutan serta merugikan negara lain.
AS diperkirakan meluncurkan tarif tambahan bulan ini untuk menghadapi kelebihan kapasitas struktural tersebut. Namun, respons bersama dari mitra dagang Tiongkok masih menghadapi tantangan karena Inggris dan Kanada mulai menempuh kesepakatan terpisah demi mempertahankan akses ke pasar Tiongkok.
Di dalam negeri, ekonomi Tiongkok juga menunjukkan pelemahan dengan pertumbuhan kuartal kedua sebesar 4,3%. Harga rumah yang terus turun enam tahun setelah gelembung pecah membuat konsumen tetap enggan berbelanja, sehingga ekspor kembali menjadi mesin pertumbuhan utama Beijing.
Source: mediaindonesia.com






