Chichiriviche de la Costa selamat dari kerusakan fisik terburuk, tetapi desa terpencil di pesisir Venezuela itu kini menghadapi ancaman lain yang mendesak. Akses yang sulit, wisatawan yang menghilang, dan perdagangan ikan yang berhenti membuat pasokan pangan serta pendapatan warga menipis.
Desa berpenduduk sekitar 2.000 jiwa itu berada di wilayah terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 pada 24 Juni. Bencana kembar di negara bagian pesisir La Guaira tersebut menewaskan sedikitnya 5.069 orang dan menghancurkan ratusan bangunan.
Desa Relatif Utuh, tetapi Terputus dari Penghidupan
Berbeda dari Catia La Mar yang luluh lantak, Chichiriviche de la Costa tidak mengalami korban jiwa akibat gempa. Namun, letaknya yang terpencil membuat warga semakin rentan ketika arus barang dan kegiatan ekonomi tersendat.
Jalan menuju desa melewati tanjakan curam, tikungan tajam, serta jalur yang belum diaspal di sepanjang pesisir Venezuela. Kondisi medan ini menyulitkan pengiriman bantuan dan memperbesar dampak isolasi bagi warga.
| Peristiwa | Data Utama | Dampak |
|---|---|---|
| Gempa pertama | Magnitudo 7,2 | Melanda wilayah pesisir La Guaira |
| Gempa kedua | Magnitudo 7,5 | Bencana kembar menewaskan sedikitnya 5.069 orang |
Warga selama ini menggantungkan kehidupan pada pariwisata, hasil pertanian, dan perikanan. Ketika pengunjung berhenti datang, pasar bagi ikan dan hasil tani ikut menghilang.
Wilfrank Liendo, 40, yang bekerja sebagai petani, menggambarkan tekanan ekonomi yang dirasakan keluarganya. “Kami hidup dari pariwisata. Jika turis tidak datang, kami dalam masalah besar. Saya tidak punya pendapatan, tidak ada orang yang bisa membeli hasil tani kami,” katanya.
Bantuan Pangan untuk Menutup Kekosongan Pasokan
Warga sempat menerima bantuan kemanusiaan dari Belanda melalui helikopter tidak lama setelah bencana. Namun, kebutuhan pangan tetap menjadi persoalan karena desa kehilangan sumber pendapatan dan akses normal ke pasokan.
Pada Kamis (16/7) waktu setempat, Program Pangan Dunia (WFP) mulai membagikan bantuan di alun-alun desa. Distribusi itu menjadi bagian dari program bantuan tiga bulan senilai US$80 juta.
Menurut mediaindonesia.com, WFP mengirim konvoi truk dari Catia La Mar menuju Chichiriviche de la Costa melalui jalur pesisir yang berat. Bantuan yang dibawa mencakup beras, pasta, tepung, minyak, dan garam.
Andreina Liendo, 54, menerima sekitar 50 kilogram bahan pangan bersama putranya yang berusia empat tahun. Pasokan tersebut diharapkan dapat mencukupi kebutuhan keluarganya selama satu bulan.
“Puji Tuhan, tidak ada korban jiwa di sini, tapi kami mengalami kekurangan pasokan,” ujar Andreina. Pernyataan itu menunjukkan bahwa desa yang tidak hancur secara langsung tetap menghadapi konsekuensi berat setelah gempa.
Nelayan Tetap Melaut, Uang Tunai Tetap Langka
Para nelayan di Chichiriviche de la Costa masih melaut dan membagikan hasil tangkapan kepada warga maupun pengungsi. Akan tetapi, ikan sulit diubah menjadi uang tunai karena pembeli, terutama wisatawan, tidak lagi datang.
Nelayan Adalberto Maypora, 70, mempertanyakan pasar yang tersisa bagi hasil tangkapan mereka. “Tidak ada uang tunai. Jika turis tidak datang ke sini, kepada siapa kami harus menjual ikan?” tuturnya.
Koordinator darurat WFP Marc-Andre Prost menyatakan bantuan ditujukan untuk membantu komunitas melewati masa ketika mereka tidak memiliki pendapatan. Ia menekankan pentingnya memberi perhatian kepada komunitas terpencil pada hari-hari dan minggu-minggu pertama setelah gempa La Guaira.
Masalah warga tidak berhenti pada makanan dan penghasilan yang hilang. Sejumlah rumah mengalami retakan, sementara pemiliknya tidak memiliki biaya untuk melakukan perbaikan.
Leida Bello, 45, harus membawa bantuan pangannya ke rumah dengan dinding retak dan sebagian bangunan yang telah runtuh. Margarita Mayora, 79, bahkan memilih tidur di teras karena trauma melihat retakan di langit-langit rumahnya.
WFP berencana menyediakan sekitar 500.000 ton makanan bagi daerah terpencil dan tempat penampungan sementara di seluruh zona gempa. Bagi Chichiriviche de la Costa, pasokan itu menjadi penopang penting ketika desa masih terisolasi dan mata pencaharian warganya belum pulih.
Source: mediaindonesia.com






