Spanyol Menang pada Menit ke-106, Final yang Membenturkan Doa Gaza dan Sepak Bola

Gol Ferran Torres pada menit ke-106 membawa Spanyol menang 1-0 atas Argentina di final Piala Dunia di New Jersey. Kemenangan itu memberi Spanyol gelar dunia keduanya setelah 2010, tetapi pertandingan tersebut juga memantik pembacaan yang jauh melampaui sepak bola.

Di satu sisi, Lionel Messi menjalani Piala Dunia pada usia 39 tahun dan berada di ujung perjalanan panjangnya. Di sisi lain, Lamine Yamal yang berusia 19 tahun tampil dalam turnamen terbesar pertamanya, menjadi simbol pergantian generasi di panggung final.

Dominasi Spanyol hingga gol penentu

Spanyol menguasai permainan dengan sekitar 65 persen penguasaan bola dan mencatatkan 20 tembakan. Argentina hanya melepaskan dua tembakan sepanjang laga, sebelum Torres menyambar bola di depan gawang Emiliano Martínez pada masa tambahan waktu.

TimPenguasaan BolaTembakanHasil Final
SpanyolSekitar 65 persen20Menang 1-0
ArgentinaTidak dirinci2Kalah 0-1

Sebelum final, Spanyol juga disebut menjalani 38 pertandingan tanpa kalah dan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen. Catatan itu memperlihatkan kekuatan tim yang tidak hanya mengandalkan satu momen, melainkan konsistensi sepanjang kompetisi.

Namun, laga ini tidak berhenti sebagai perdebatan tentang penguasaan bola, tembakan, atau pergantian pemain. Bagi sebagian pendukung, hasil akhir ikut dikaitkan dengan sikap politik pemerintah masing-masing negara terhadap Palestina dan perang di Gaza.

Simbol politik yang tidak bisa dibebankan kepada pemain

Pada 28 Mei 2024, Spanyol bersama Irlandia dan Norwegia secara resmi mengakui Negara Palestina. Pemerintah Spanyol menyatakan langkah itu ditujukan untuk mendukung perdamaian dan solusi dua negara.

Setahun kemudian, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi yang menuntut gencatan senjata segera dan permanen di Gaza. Resolusi itu mendapat 149 suara setuju, 12 suara menolak, serta 19 abstain; Spanyol mendukungnya, sementara pemerintahan Argentina di bawah Javier Milei termasuk pihak yang menolak.

Data korban di Gaza membuat konteks itu terasa lebih berat bagi banyak orang. Hingga pertengahan Juli 2026, lebih dari 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas sejak perang pada Oktober 2023, sementara lebih dari 1.100 orang kembali terbunuh setelah gencatan senjata Oktober 2025.

Angka yang dikutip dari Kementerian Kesehatan Gaza dan lembaga internasional itu menggambarkan skala tragedi, meski tidak pernah sepenuhnya merangkum kehilangan setiap keluarga. Dalam situasi seperti itu, pertandingan sepak bola dapat berubah menjadi ruang bagi orang-orang untuk menaruh harapan dan solidaritas.

Meski demikian, hasil pertandingan tidak layak dipakai untuk menyamakan pemain dengan kebijakan pemerintah negaranya. Messi bukan Javier Milei, dan tim nasional Argentina bukan kabinet yang menentukan arah diplomasi di Buenos Aires.

Messi juga telah menjadi Duta Persahabatan UNICEF sejak 2010 serta mendukung berbagai upaya perlindungan anak. Karena itu, pembacaan politis terhadap final ini tetap perlu dibedakan dari penilaian terhadap individu yang bermain di lapangan.

Pertemuan Messi dan Yamal setelah 19 tahun

Ada kisah lain yang memberi lapisan emosional pada final ini. Pada 2007, fotografer Joan Monfort memotret Messi yang saat itu berusia 20 tahun bersama seorang bayi sekitar lima bulan dalam sesi kalender amal Sport dan UNICEF.

Bayi yang dimandikan Messi dalam bak plastik itu kemudian dikenal sebagai Lamine Yamal. Keluarga Yamal terpilih melalui undian untuk mengikuti pemotretan amal tersebut, tanpa mengetahui bahwa keduanya kelak bertemu di final Piala Dunia.

Jarak 19 tahun itu kembali muncul dalam sejumlah detail pertandingan. Yamal genap berusia 19 tahun pada 13 Juli, final berlangsung pada 19 Juli waktu Amerika, dan ia mengenakan nomor 19 yang juga dipakai Messi pada Piala Dunia pertamanya pada 2006.

Kebetulan tersebut tidak menentukan hasil laga, karena gol kemenangan dicetak Ferran Torres. Namun, pertemuan itu menggambarkan dua fase sepak bola yang bertaut: Messi membawa pencapaian masa lalu, sedangkan Yamal menandai masa depan Spanyol.

Yamal tumbuh di Rocafonda, kawasan pekerja dengan banyak keluarga migran, dari ayah berdarah Maroko dan ibu asal Guinea Khatulistiwa. Kisahnya menunjukkan bagaimana pemain dari pinggiran dapat menjadi figur sentral bagi sebuah negara di panggung dunia.

Seperti ditulis www.kompas.com, sebagian orang memaknai kemenangan Spanyol sebagai ruang untuk tetap berharap di tengah penderitaan Gaza. Tidak ada statistik yang dapat membuktikan kaitan antara doa dan gol pada menit ke-106, tetapi doa sering menjadi bentuk keteguhan bagi mereka yang merasa tidak berdaya.

Di New Jersey, papan skor hanya mencatat Spanyol 1 dan Argentina 0. Di luar stadion, final itu meninggalkan pengingat bahwa sepak bola kerap memantulkan luka, harapan, dan pertanyaan kemanusiaan yang jauh lebih besar daripada sebuah trofi.

Source: www.kompas.com
Terkait