Warga Palestina Dilarang Masuk Bunker Saat Rudal Iran Serang Israel

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel, diskriminasi terhadap warga Palestina di Israel semakin menonjol. Banyak warga Palestina yang tinggal di negara tersebut kini terkendala untuk mendapatkan akses perlindungan dari serangan rudal, bukan hanya dari musuh asing, tetapi juga dari struktur sosial yang diskriminatif di dalam masyarakat mereka sendiri.

Samar al-Rashed, seorang ibu tunggal berusia 29 tahun yang tinggal di dekat Acre, merupakan salah satu contoh nyata dari situasi ini. Saat alarm tanda bahaya berbunyi, ia bergegas membawa putrinya yang berusia 5 tahun menuju tempat perlindungan. Namun, harapannya untuk menemukan keamanan terhalang oleh tatapan prejudis. Ketika tiba di pintu bunker, tetangganya menolak mereka masuk hanya karena mendengar Samar berbicara dalam bahasa Arab. Ia menggambarkan pengalaman tersebut, “Dia hanya menatap saya dan bilang: ‘Ini bukan untukmu,'” mengisyaratkan bahwa diskriminasi yang ia alami bahkan datang dari orang-orang terdekat.

Kondisi ini semakin diperparah oleh data yang menunjukkan bahwa sekitar 2 juta warga Palestina, yang legal merupakan warga negara Israel, tidak memiliki akses yang sama terhadap infrastruktur perlindungan sipil. Menurut laporan Pengawas Keuangan Negara Israel pada tahun 2022, lebih dari 70% rumah di wilayah Palestina di Israel tidak dilengkapi dengan ruang aman, berbanding jauh dengan hanya 25% di komunitas Yahudi. Hal ini menunjukkan ketimpangan yang mencolok dalam perlakuan terhadap dua kelompok di dalam negara yang sama.

Cerita serupa terungkap dari Mohammed Dabdoob, teknisi ponsel di Haifa. Saat berusaha menyelamatkan diri, ia mendapati pintu bunker umum terkunci meski telah mengetuk dan berbicara dalam bahasa Ibrani. “Saya pikir saya akan mati,” tuturnya mengenang situasi mencekam tersebut. Ketika pintu akhirnya dibuka, ia hanya bisa menyaksikan orang-orang yang selamat keluar tanpa menawarkan bantuan atau kata-kata. “Tidak ada rasa aman bagi kami, dari rudal maupun dari sesama warga,” ujarnya dengan nada getir.

Ketidakadilan juga terasa di kota campuran seperti Lydd, yang dihuni oleh warga Yahudi dan Arab. Yara Srour, seorang mahasiswi keperawatan, menceritakan betapa keluarganya ditolak masuk ke bunker yang terletak di kawasan “baru” yang dihuni oleh warga Yahudi kelas menengah. Ia menggambarkan bagaimana mereka mengetuk pintu dan memohon untuk masuk, namun hanya dilihat dari lubang intip. “Kami menatap langit yang menyala oleh roket yang dicegat,” imbuhnya, menambahkan rasa putus asa yang mendalam.

Dalam konteks ini, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyatakan bahwa rudal Iran menargetkan seluruh Israel tanpa memandang etnis. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa warga Palestina seringkali ditinggalkan dalam situasi yang mengancam nyawa. Kritikan terhadap kebijakan tersebut sering kali berakhir dengan penangkapan, sementara seruan untuk kekerasan terhadap orang Arab di media sosial hampir tak tersentuh oleh hukum.

Keadaan yang dihadapi oleh warga Palestina dalam krisis ini menekankan perlunya perhatian lebih dari komunitas internasional. Dalam kondisi darurat, di mana kehidupan terancam oleh serangan rudal dan ketidakadilan struktural, penting bagi suara-suara yang terpinggirkan ini didengar dan diakui. Diskriminasi yang dialami adalah sebuah pengingat akan tantangan besar yang harus dihadapi dalam mencapai perdamaian dan keadilan di wilayah tersebut.

Terkait