Iran memperingatkan bahwa balasan atas serangan baru Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklirnya tidak akan dibatasi pada satu sasaran. Sumber militer Iran menyatakan kepentingan AS dan negara-negara yang mendukung tindakan permusuhan terhadap Teheran dapat masuk daftar target.
Peringatan itu menandai potensi meluasnya cakupan konflik di Timur Tengah. Dalam pernyataan yang dikutip mediaindonesia.com, sumber tersebut menyebut pangkalan dan aset militer AS di kawasan sebagai sasaran yang mungkin dipertimbangkan Teheran.
Balasan Disebut Tidak Akan Terbatas
Sumber militer Iran mengatakan serangan baru terhadap fasilitas nuklir Iran akan memicu respons yang lebih luas. Menurut sumber itu, langkah tersebut justru dapat meningkatkan konflik sehingga AS dan pihak yang mendukungnya harus menanggung biaya signifikan.
“Tanggapan setelah serangan baru apa pun terhadap fasilitas nuklir Iran tidak akan terbatas,” kata sumber tersebut kepada RIA Novosti. Ia menambahkan bahwa serangan semacam itu akan memperbesar konflik, bukan mengakhirinya.
Ancaman itu secara khusus diarahkan pada fasilitas yang mewakili kepentingan AS, pangkalan, serta aset militer di Timur Tengah. Kepentingan sekutu AS yang terlibat dalam tindakan permusuhan terhadap Iran juga disebut dapat menjadi bagian dari daftar target Teheran.
Ancaman Trump terhadap Lokasi Nuklir Iran
Pernyataan dari pihak Iran muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman serangan terhadap lokasi di Iran yang dinilai Washington berkaitan dengan program nuklir Teheran. Trump menyatakan lokasi-lokasi tersebut akan menjadi sasaran serangan besar.
Pernyataan Trump disampaikan pada Selasa (21/7), menurut informasi yang dikutip dalam laporan tersebut. Tidak ada rincian mengenai lokasi spesifik yang dimaksud Washington dalam ancaman itu.
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 28 Februari | Konflik yang disebut dalam laporan mulai terjadi. |
| Sebelum 18 Juni | Teheran dan Washington menandatangani memorandum untuk menjamin berakhirnya konflik. |
| Sejak 8 Juli | Pasukan AS melakukan serangkaian serangan terhadap Iran. |
| 21 Juli | Donald Trump menyatakan lokasi terkait program nuklir Iran dapat menjadi sasaran serangan besar. |
Memorandum Tak Menghentikan Ketegangan
Teheran dan Washington sebelumnya menandatangani memorandum pada malam sebelum 18 Juni untuk menjamin berakhirnya konflik yang dimulai pada 28 Februari. Namun, laporan itu menyebut serangkaian serangan AS terhadap Iran telah berlangsung sejak 8 Juli.
Komando Pusat AS menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Iran kemudian merespons dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Selat Hormuz menjadi salah satu konteks penting dalam rangkaian ketegangan ini karena disebut dalam alasan serangan yang disampaikan Komando Pusat AS. Sementara itu, pernyataan sumber militer Iran menunjukkan bahwa cakupan respons Teheran dapat menyentuh aset AS di berbagai titik kawasan.
Gencatan Senjata Disebut Tidak Lagi Berlaku
Setelah serangan balasan Iran terhadap pangkalan AS, Trump menyatakan gencatan senjata antara AS dan Iran tidak lagi berlaku. Pernyataan tersebut mempertegas perubahan dari upaya penghentian konflik melalui memorandum menuju fase ketegangan baru.
Sumber militer Iran tidak menjelaskan target tertentu, waktu pelaksanaan, maupun bentuk serangan balasan yang disebutkan. Namun, pernyataannya menempatkan kepentingan AS dan sekutunya di Timur Tengah sebagai bagian utama dari ancaman respons Iran bila serangan terhadap fasilitas nuklir kembali terjadi.
Situasi ini membuat ancaman terhadap Konflik AS-Iran kembali berpusat pada dua isu yang disebut dalam laporan, yakni program nuklir Iran dan serangan terhadap aset militer di kawasan. Dengan gencatan senjata yang dinyatakan tak lagi berlaku, ketegangan antara kedua pihak tetap menjadi perhatian di Timur Tengah.
Source: mediaindonesia.com






