Zelensky Desak Eropa-AS Bersatu, Dorong Pengadilan Khusus untuk Putin

Shopee Flash Sale

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini mendesak pentingnya persatuan antara Eropa dan Amerika Serikat untuk menghadapi invasi Rusia yang berkelanjutan. Dalam sebuah pidato di hadapan Majelis Parlemen Dewan Eropa, Zelensky menekankan bahwa persatuan ini terbukti krusial, terutama selama kepemimpinan Donald Trump. "Kami membutuhkan hubungan yang kuat dengannya," ujar Zelensky, merujuk pada Trump. Seruan ini muncul setelah pertemuan antara keduanya di KTT NATO di Den Haag.

Zelensky juga mengumumkan penandatanganan kesepakatan pembentukan pengadilan khusus yang akan mengadili para pejabat tinggi Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin, atas kejahatan agresi yang terjadi sejak invasi dimulai pada Februari 2022. Dalam konteks ini, Zelensky menekankan bahwa pertanggungjawaban untuk tindakan agresi sangatlah penting. "Kita harus menunjukkan dengan jelas bahwa agresi berujung pada hukuman," tegasnya.

Pengadilan khusus ini diharapkan menjadi langkah hukum yang memadukan kekuatan politik dan hukum untuk menegakkan keadilan. Menurut Zelensky, meskipun proses ini memerlukan waktu, keberanian politik yang kuat dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap pelaku kejahatan perang, termasuk Putin, harus diadili. "Setiap penjahat perang Rusia harus dihadapkan ke pengadilan," tambahnya.

Perluasan Kerja Sama Internasional

Sekretaris Jenderal Dewan Eropa, Alain Berset, mendukung inisiatif Zelensky dengan menyerukan perluasan kerja sama internasional. Ia menekankan pentingnya dukungan dari negara-negara lainnya untuk pengadilan ini. Meskipun lokasi pengadilan belum ditentukan, Zelensky menyebut Den Haag sebagai tempat yang ideal, mengingat kota tersebut juga merupakan markas bagi Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Berset mengungkapkan, "Prinsip hukum internasional harus berlaku untuk semua, tanpa pengecualian dan tanpa standar ganda." Pengadilan ini menjadi yang pertama di bawah naungan Dewan Eropa, yang merupakan lembaga hak asasi manusia tertinggi di Eropa. Dewan ini terdiri dari 46 anggota, termasuk Ukraina, Inggris, dan Turki, tetapi tidak termasuk Uni Eropa, mengingat Rusia telah dikeluarkan dari keanggotaan karena invasinya ke Ukraina.

Mengisi Kekosongan Hukum

Pengadilan khusus ini dirancang untuk melengkapi kewenangan ICC yang terbatas. ICC sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Putin dan beberapa pejabat militer lainnya atas kejahatan tertentu, seperti penculikan anak-anak Ukraina dan serangan terhadap warga sipil. Namun, ICC tidak memiliki yurisdiksi untuk mengadili tindakan politik yang melandasi invasi, yang tergolong kejahatan agresi.

Dalam menghadapi tantangan hukum ini, Dewan Eropa percaya bahwa pengadilan baru ini dapat mengisi “kekosongan hukum” yang ada. Pengadilan tersebut akan memiliki mandat untuk menuntut para pemimpin senior Rusia atas agresi terhadap Ukraina, suatu langkah yang dianggap vital dalam upaya menegakkan keadilan internasional.

Tantangan dan Harapan

Zelensky berjanji untuk terus mendorong konsolidasi dukungan internasional, yakin bahwa persatuan antara Eropa dan Amerika Serikat adalah kunci kemenangan melawan agresi Rusia. Dia mencerminkan harapan bahwa meskipun proses hukum ini akan memenuhi banyak rintangan, akan ada keberanian kolektif dari seluruh Eropa untuk memperjuangkan keadilan.

Sebagai penutup, inisiatif untuk membentuk pengadilan khusus dan pentingnya solidaritas antara Eropa dan AS menandakan fase baru dalam upaya Ukraina. Selama agresi yang berlangsung, pemimpin Ukraina menunjukkan determinasi yang kuat untuk memastikan bahwa pelaku kejahatan diadili, sekaligus mengubah dinamika geopolitik yang ada di Eropa.

Berita Terkait

Back to top button