Isi Lengkap Tulisan Pilu Ayah Juliana Marins Sambut Jenazah Anaknya

Author: Qoo Media

Jenazah Juliana Marins, seorang pendaki asal Brasil, tiba di rumahnya setelah terjatuh di lereng Gunung Rinjani, Lombok pada 21 Juni 2025. Proses evakuasinya memakan waktu hingga tiga hari dan jenazahnya akhirnya tiba di Brasil pada 24 Juni, setelah menjalani autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Rasa kehilangan mendalam dirasakan oleh keluarganya, terutama ayahnya, Manoel Marins, yang menuliskan surat penuh rasa pilu menyambut kepergian sang putri. Dalam tulisannya, Manoel mengingat sosok Juliana, sapaan akrabnya adalah “Juju”, yang selalu dipenuhi semangat hidup.

“Ah, Juju, kecantikanku, hartaku, putriku, cintaku. Kau selalu sangat istimewa. Nakal, gelisah, senyumanmu yang indah dan keinginan yang besar untuk hidup,” ungkap Manoel dalam surat yang viral di media sosial. Juliana dikenal sebagai sosok yang penuh perhatian kepada orangtuanya dan sering kali berjanji untuk menjaga mereka di hari tua.

Kesedihan Manoel semakin mendalam ketika ia mengenang momen saat Juliana meminta izin untuk melakukan backpacking ke Gunung Rinjani. “Ketika aku bertanya, apakah kau ingin kami memberimu uang untuk membantumu di perjalanan tersebut, kau berkata, ‘tidak usah’.” Ia menjelaskan bahwa Juliana pergi dengan hasil kerja kerasnya sendiri, yang menunjukkan semangat kemandirian putrinya.

Kebahagiaan akan pencapaian Juliana saat berada di jalur pendakian itu berujung pada kesedihan tak terduga. “Tapi kemudian, betapa hancurnya hati sang ayah saat mengetahui kepulangan anaknya berupa jenazah,” ujar Manoel dengan suara tertahan. Namun, di tengah duka mendalam ini, ia berusaha mengenang setiap momen indah yang pernah dibagikan bersama Juliana.

Manoel menegaskan, meskipun fisik Juliana telah pergi, keberadaannya tetap hidup dalam ingatan keluarga. “Kehadiranmu tetap ada di rumah kami, di kamar tidurmu, di tempat favoritmu, di sofa ruang tamu,” tulisnya, mengekspresikan betapa mendalamnya ikatan tersebut. Ia menambahkan bahwa kehadiran Juliana akan selalu ada dalam hati mereka.

Di akhir suratnya, Manoel mengungkap harapan untuk bertemu kembali suatu hari nanti. “Terbanglah ke pelukan Bapa yang kekal, yang menantimu untuk menjagamu selamanya,” ucapnya, mencerminkan keyakinan bahwa hubungan mereka takkan terputus meski dalam dimensi yang berbeda. Ia berharap mereka kelak bisa menuntaskan impian yang belum sempat dicapai, termasuk rencana penerbangan paralayang yang telah mereka rencanakan bersama.

Peristiwa tragis ini tidak hanya mengguncang keluarga Juliana tetapi juga memberi dampak yang mendalam bagi komunitas pendaki di Brasil dan di seluruh dunia. Kehilangan ini mengingatkan banyak orang akan risiko yang dihadapi para pendaki, terutama saat menjelajahi medan yang berbahaya.

Kasus ini juga memicu perbincangan tentang keselamatan dalam pendakian, pentingnya perencanaan yang matang, serta kesiapan mental dan fisik. Organisasi pendakian di berbagai negara diharapkan lebih meningkatkan program pelatihan dan keselamatan bagi para pendaki, agar tragedi serupa dapat terhindari di masa depan.

Masyarakat Brasil dan penggemar olahraga pendakian sedih mendengar berita ini, namun mereka juga memberikan penghormatan kepada Juliana atas semangat dan passion yang dimilikinya. Baginya, pendakian bukan hanya sekadar hobi, tetapi merupakan cara hidup yang membawa kedamaian dan kebahagiaan.

Momen-momen menyentuh dari surat Manoel Marins mencerminkan kekuatan cinta orang tua, yang akan selalu ada meski terpisah oleh waktu dan ruang. Kontribusi dan kenangan yang ditinggalkan oleh Juliana akan terus hidup di hati banyak orang yang mengenalnya.

Terbaru