Misteri Uranium Iran: Antrean Truk di Fordow Sebelum Serangan AS

Beberapa hari setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir strategis Iran, yakni di Isfahan, Natanz, dan Fordow, situasi terkait cadangan uranium yang diperkaya 60% oleh Teheran masih menyisakan banyak misteri. Dalam serangan yang dikenal sebagai operasi Night Hammer pada 22 Juni 2025, AS menjatuhkan 14 bom penghancur dan lebih dari 20 rudal Tomahawk untuk menghancurkan pusat-pusat pengayaan uranium Iran. Meski Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil mengurangi kemampuan Iran untuk membangun kembali fasilitasnya, Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, membantah pernyataan itu.

Menurut laporan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Iran memiliki sekitar 5 ton uranium yang diperkaya rendah dan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%, angka yang jauh di atas batas perjanjian JCPOA yang hanya membolehkan pengayaan hingga 3,67%. Jika uranium tersebut diperkaya lebih lanjut hingga 90%, jumlahnya bisa cukup untuk membuat sekitar 10 bom nuklir. Situasi ini menciptakan suasana ketegangan dan kekhawatiran di tingkat internasional mengenai kemungkinan proliferasi nuklir.

Sebelum serangan, citra satelit menunjukkan aktivitas mencolok di Fordow, termasuk antrean panjang truk di pintu masuk terowongan pada 19-20 Juni. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa Iran telah melakukan pemindahan cadangan uranium ke lokasi-lokasi yang lebih aman. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyatakan bahwa Iran telah memberi tahu pihaknya tentang evakuasi uranium jika fasilitas mereka terancam. Disebutkan bahwa bahan nuklir disimpan dalam kontainer kecil yang bisa dimuat ke dalam mobil. Banyak analis menduga bahwa Iran telah mengambil langkah-langkah antisipatif untuk melindungi cadangan uranium dari serangan.

Namun, pemerintah AS meyakini bahwa seluruh cadangan uranium masih berada di Fordow dan rusak akibat serangan. Wakil Presiden JD Vance menegaskan bahwa lokasi uranium Iran bukan menjadi perhatian yang perlu dibahas, sembari mengklaim serangan tersebut telah melumpuhkan kemampuan negara itu untuk memperkaya uranium. Meskipun demikian, banyak ahli berargumen sebaliknya. Kelsey Davenport dari Arms Control Association menyatakan kekhawatiran bahwa sejumlah besar material nuklir masih belum diketahui keberadaannya. David Albright, mantan inspektur senjata nuklir PBB, menambahkan bahwa Iran bisa saja telah memindahkan cadangan uranium ke lokasi-lokasi yang sulit dilacak.

Pakar dari James Martin Center for Nonproliferation Studies, Sam Lair, berpendapat bahwa Iran memiliki waktu yang cukup untuk memindahkan cadangan uranium, bahkan sebelum serangan udara dimulai. Dia menunjukkan bahwa selama 12 hari konflik sebelum serangan, Iran tampak siap menghadapi kemungkinan serangan lebih lanjut. Selain itu, pada hari yang sama dengan dimulainya operasi Lion Rising, IAEA juga mencatat bahwa Iran merencanakan pembangunan situs pengayaan uranium baru, menunjukkan kesiapan negara tersebut untuk menghadapi tekanan internasional.

Skenario ini menciptakan tantangan besar bagi komunitas internasional, terutama dalam hal negosiasi dengan Iran. Beberapa analis berargumen bahwa ketidakjelasan mengenai nasib cadangan uranium ini dapat memberi Teheran daya tawar dalam proses diplomasi. Apakah Iran dapat mengamankan program nuklirnya tetap menjadi pertanyaan mendesak. Serangan menjelang potensi perundingan menunjukkan kompleksitas situasi ini dan pentingnya upaya untuk memantau dan memahami dinamika internal Iran terkait program nuklirnya.

Kepemilikan serta pengelolaan uranium yang diperkaya masih menjadi fokus perhatian global, sementara Iran tampaknya terus menyiapkan diri untuk menghadapi setiap kemungkinan serangan di masa depan. Ketidakpastian ini menambah lapisan kompleksitas dalam diplomasi internasional dan tantangan yang harus dihadapi Arena global dalam upaya mencegah proliferasi nuklir.

Berita Terkait

Back to top button