Hasil Autopsi Juliana Marins: Bukti Kuat Bertahan Hidup 15 Menit di Brasil

Hasil autopsi ulang terhadap Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang tewas saat mendaki Gunung Rinjani, menguatkan kesimpulan awal yang telah dijelaskan oleh otoritas di Indonesia. Pada Kamis, 10 Juli 2025, pemerintah Brasil merilis hasil autopsi yang menyatakan bahwa Juliana meninggal akibat cedera serius setelah terjatuh dari ketinggian. Hasil ini mengindikasikan adanya kesamaan temuan antara dua negara terkait penyebab kematiannya.

Menurut laporan dari media Brasil, g1.globo.com, hasil autopsi tersebut menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah perdarahan internal yang disebabkan oleh trauma berat. Benturan keras yang dialaminya saat jatuh memicu kerusakan pada organ-organ vital, yang memperkuat analisis bahwa insiden tersebut melibatkan benuriks kinetik yang tinggi.

Juliana Bertahan Hidup 10-15 Menit Setelah Benturan

Dokumen resmi juga mencatat bahwa Juliana bertahan hidup sekitar 10 hingga 15 menit setelah insiden tersebut. Namun, dalam waktu tersebut, ia tidak mampu bergerak atau merespons. Para ahli forensik di Brasil sepakat bahwa tidak ada kemungkinan bagi Juliana untuk bertahan hidup dalam jangka waktu yang lebih lama setelah mengalami benturan fatal tersebut. Temuan ini sejalan dengan laporan dari dokter forensik di Indonesia yang mencatat bahwa Juliana mungkin bertahan selama kurang lebih 20 menit setelah jatuh.

Hasil tidak Jauh Berbeda dengan di Indonesia

Dokter Spesialis Forensik RS Bali Mandara, dr. Ida Bagus Putu Alit, menjelaskan bahwa luka berat akibat benturan di punggung merupakan penyebab utama kematian Juliana. Terjadi pendarahan hebat, terutama di rongga dada, yang memicu kondisi fatal ini. Dalam pemeriksaan, ditemukan banyak tulang yang patah di bagian dada, punggung, dan paha. Patah tulang yang terjadi menyebabakan kerusakan organ dalam dan perdarahan masif.

"Perkiraan kami adalah sekitar 20 menit setelah terjadi luka benturan," ungkap Putu Alit. Hal ini mencerminkan kesamaan yang mencolok antara hasil autopsi di dua lokasi berbeda.

Kronologi Singkat Kecelakaan Juliana di Rinjani

Juliana Marins, yang melakukan pendakian pada 20 Juni 2025, bersama lima pendaki lainnya, merasakan kelelahan pada hari kedua dan beristirahat di kawasan Cemara Tunggal. Sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 WITA pada 21 Juni, ia diduga terperosok ke jurang saat terlalu dekat dengan tepi tebing, jatuh ke arah Danau Segara Anak. Jenazahnya baru berhasil dievakuasi pada 25 Juni 2025 setelah pencarian yang intensif.

Permintaan Autopsi Ulang dari Keluarga

Keraguan pihak keluarga mengenai waktu kematian dan kemungkinan ada kelalaian dari otoritas lokal mendorong mereka untuk meminta autopsi ulang. Jenazah Juliana kemudian dikirim ke Brasil dan dimakamkan di Rio de Janeiro pada 4 Juli 2025. Proses ini menyoroti kesedihan dan upaya keluarga dalam mencari kejelasan terkait kematian anggota keluarganya.

Kesamaan hasil autopsi antara Brasil dan Indonesia menunjukkan pentingnya kerjasama internasional dalam menyelidiki kejadian tragis semacam ini. Temuan yang konsisten dapat menawarkan pemahaman lebih dalam tentang dampak kecelakaan mendaki gunung serta pentingnya keselamatan dalam kegiatan ekstrem. Kejadian ini juga menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai prosedur keselamatan bagi pendaki di lokasi-lokasi berisiko tinggi seperti Gunung Rinjani.

Berita Terkait

Back to top button