Seorang nenek asal Palestina, Maha Almassri (61 tahun), ditangkap oleh otoritas imigrasi Australia dalam sebuah operasi penggerebekan di rumah putranya di Sydney, pada Kamis (10/7/2025) dini hari. Penangkapan ini dilakukan oleh 15 anggota pasukan perbatasan Australia dan terjadi setelah Almassri diberi tahu bahwa visanya dibatalkan karena dianggap gagal memenuhi tes karakter.
Sebelum menetap di Australia, Almassri melarikan diri dari konflik yang berkepanjangan di Gaza melalui perbatasan Rafah ke Mesir pada Februari 2024. Dia kemudian memasuki Australia dengan menggunakan visa turis dan tinggal bersama keluarga di Sydney. Menurut sepupu Almassri, Mohammed, nenek tersebut mengalami ketakutan yang mendalam setelah penangkapannya, bahkan mengalami kesulitan berbicara melalui telepon akibat stres yang berat.
Pembatalan visa Almassri diumumkan oleh Asisten Menteri Kewarganegaraan dan Urusan Multikultural, Julian Hill. Dalam dokumen terkait, Hill menyatakan bahwa ada kecurigaan kuat bahwa Almassri tidak lulus uji karakter, yang dianggap penting untuk keamanan nasional Australia. Laporan menyebutkan bahwa Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) menilai Almassri dapat menjadi risiko bagi keamanan nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kesulitan yang dialami Almassri dan keluarganya semakin diperparah oleh situasi politik yang tidak menentu di Gaza. Mohammed mengungkapkan bahwa cuaca kesehatan sepupunya menurun drastis setelah penangkapan tersebut. “Dia sudah tua. Apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada negara dan tidak ada rumah untuk kembali di Gaza,” ujarnya, menekankan putus asanya situasi yang dihadapi.
Juru bicara Menteri Dalam Negeri, Tony Burke, mengonfirmasi bahwa pemerintah Australia tidak akan memberikan komentar lebih lanjut mengenai kasus Almassri. Ia menambahkan bahwa informasi yang beredar di publik belum tentu sesuai dengan data dari lembaga intelijen dan keamanan terkait.
Sebagai catatan, situasi pengungsi Palestina di Australia bukanlah hal baru. Pada tahun lalu, Amnesty International melaporkan bahwa lebih dari 7.000 permohonan visa dari warga Palestina telah ditolak oleh pemerintah Australia sejak dimulainya agresi Israel di Gaza pada 2023. Penolakan ini menjadi gambaran nyata dari tantangan yang dihadapi oleh pengungsi Palestina yang mencari perlindungan di negara lain.
Maha Almassri sebelumnya telah mengajukan permohonan visa perlindungan dan diberikan visa sementara pada Juni 2024. Namun, dengan pembatalan visa yang sekarang terjadi, nasibnya tergantung pada proses hukum yang mungkin dapat diajukan, meskipun situasi di pusat penahanan Villawood sangat gawat.
Penangkapan ini memicu reaksi beragam di masyarakat. Beberapa kalangan berpendapat bahwa langkah-langkah yang diambil otoritas Australia mencerminkan pendekatan yang lebih ketat terhadap pengungsi dan imigran, khususnya di tengah meningkatnya kecamanan akan ancaman keamanan. Sementara itu, banyak orang juga menekankan pentingnya hak asasi manusia bagi semua individu, termasuk mereka yang melarikan diri dari konflik dan penindasan.
Tindakan perihal Almassri menunjukkan tantangan besar yang dihadapi oleh sistem imigrasi Australia, terutama dalam konteks teks mengenai keamanan nasional dan hak asasi manusia. Masyarakat internasional pun mengawasi dengan cermat bagaimana kasus ini berkembang, apalagi dengan latar belakang geopolitik yang kompleks di kawasan Timur Tengah.




