Sedikitnya 24 orang dilaporkan tewas dalam insiden tragis di Gaza selatan saat mereka antre untuk mendapatkan bantuan pada Sabtu (13/7). Kejadian ini mengundang sorotan tajam setelah sejumlah warga Palestina mengklaim pasukan Israel menembaki mereka saat berusaha mendapatkan bantuan makanan. Meskipun klaim ini disanggah oleh militer Israel, situasi kemanusiaan di kawasan tersebut kian memburuk.
Menurut keterangan dari Rumah Sakit Nasser, korban yang tewas merupakan bagian dari kerumunan yang tengah menanti distribusi bantuan. Apalagi, situasi di Gaza saat ini semakin mendesak dengan blokade yang diberlakukan Israel serta ancaman kelaparan massal yang menghantui penduduk. Dalam hal ini, militer Israel membantah keras adanya keterlibatan mereka dalam penembakan terhadap warga sipil. Seorang pejabat militer menjelaskan bahwa tembakan yang dilepaskan oleh pasukan mereka adalah tembakan peringatan untuk membubarkan kerumunan yang dianggap berpotensi menjadi ancaman.
Rekaman dan Kesaksian Mengerikan
Rekaman video yang diambil oleh warga setempat menunjukkan suasana mencekam pasca-insiden. Di halaman Rumah Sakit Nasser terlihat banyak kantong jenazah, dengan petugas medis dan warga yang berlumuran darah berusaha membantu. Saksi mata menyebutkan telah mendengar tembakan selama lima menit, saat mereka menunggu bantuan. Hal ini diperkuat oleh kesaksian paramedis yang menuduh tentara Israel melakukan penembakan secara "dingin dan terencana". Meski demikian, rekaman tersebut belum terverifikasi secara independen.
Media internasional, termasuk Reuters, juga melaporkan kesaksian serupa. Mereka mencatat keberadaan jenazah-jenazah yang dibungkus kain kafan putih, yang menambah kesedihan atas berlanjutnya kekerasan di Gaza. Dampak dari situasi ini sangat menyedihkan, terutama bagi anak-anak yang semakin mengalami kekurangan gizi.
Krisis Kemanusiaan yang Mendalam
Kejadian ini merupakan salah satu dari banyak insiden serupa yang terjadi di Gaza. Sejak Maret lalu, Israel memberlakukan blokade total terhadap pengiriman bantuan, yang berdampak pada ketersediaan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Meski sido mulai dilonggarkan pada akhir Mei setelah mendapat tekanan internasional, kondisi di lapangan tetap kritis. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa ribuan anak di Gaza kekurangan gizi, dan jumlah ini terus meningkat.
Sebagai bagian dari upaya distribusi bantuan baru, Israel dan Amerika Serikat membentuk Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang bertujuan untuk mengatur pengiriman bantuan di wilayah yang dimiliki. Namun, dalam pelaksanaannya, muncul berbagai kontroversi. Pada Jumat (12/7), Kantor HAM PBB mencatat setidaknya 798 kematian yang terkait dengan distribusi bantuan, dengan mayoritas terjadi di sekitar lokasi GHF.
Tuduhan Menyudutkan GHF
Berbagai tuduhan terkait distribusi bantuan mencuat, termasuk mengenai tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh kontraktor keamanan yang terlibat. Seorang mantan kontraktor GHF mengatakan bahwa ia menyaksikan rekan-rekannya menembaki warga Palestina yang tidak mengancam. Tudingan ini direspons oleh GHF yang keras menolak klaim tersebut, menyebutnya "sepenuhnya tidak benar" dan menganggap data yang dipakai oleh PBB sebagai "keliru dan menyesatkan".
Mengingat situasi di Gaza yang semakin parah, penting bagi komunitas internasional untuk terus memantau dan mendorong akses bagi organisasi bantuan untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan. Dengan demikian, diharapkan kondisi di lapangan dapat diperbaiki, tanpa adanya korban jiwa yang terus berjatuhan.




