
Sebuah pencapaian penting dalam penelitian perubahan iklim dilaksanakan oleh ilmuwan dari British Antarctic Survey di Cambridge, yang baru saja menerima silinder es berusia 1,5 juta tahun dari Antarktika. Inti es ini tidak hanya menyimpan jendela ke masa lalu bumi, tetapi juga potensi untuk mengubah cara kita memahami perubahan iklim saat ini.
Es ini diambil dari lapisan dalam Antarktika dan dianggap memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Menurut Dr. Liz Thomas, Kepala Penelitian Inti Es, penelitian ini berfokus pada periode yang sampai saat ini kurang dipahami. "Ini adalah periode yang sama sekali tidak diketahui dalam sejarah Bumi kita," katanya. Dengan mencairkan es ini, para ilmuwan berharap dapat mengungkap pola angin kuno, suhu, dan curah hujan masa lalu, serta fluktuasi permukaan laut yang terjadi jutaan tahun yang lalu.
Jejak Masa Lalu dalam Es
Di balik penampakan jernihnya, es ini menyimpan informasi berharga berupa debu kuno, abu vulkanik, dan alga laut mikroskopis yang terperangkap selama jutaan tahun. Saat proses pencairan berlangsung, ilmunawan akan menggunakan teknik canggih seperti inductively coupled plasma mass spectrometer (ICPMS) untuk menganalisis lebih dari 20 unsur dan logam jejak. Analisis ini termasuk unsur tanah jarang yang berbicara tentang aktivitas geologis dan perkembangan iklim masa lalu.
Perjalanan yang Panjang dan Ekstensif
Inti es dengan ketebalan 2,8 kilometer ini diekstraksi dari Antarktika Timur, tepat di dekat basis Concordia. Setelah diambil, es ini dipotong menjadi blok-blok seberat satu meter dan diangkut dengan kapal. Proses hingga tiba di Cambridge melibatkan van pendingin khusus yang memastikan es tetap dalam kondisi optimal. "Memegang itu dengan tangan yang dilapisi sarung tangan dengan hati-hati adalah perasaan yang luar biasa," ungkap James Veale, Insinyur Ekspedisi Kutub.
Mengungkap Teka-Teki Transisi Mid-Pleistosen
Salah satu fokus penting dari penelitian ini adalah untuk memecahkan teka-teki terkait perubahan besar dalam sistem iklim yang dikenal sebagai Transisi Mid-Pleistosen. Sekitar 800.000 hingga 1,2 juta tahun yang lalu, siklus glasiasi bumi yang semula berlangsung setiap 41.000 tahun ternyata beralih menjadi siklus 100.000 tahun. Pergeseran mendalam ini belum sepenuhnya dipahami, dan analisis dari es purba ini bisa menjadi kunci untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Kami perlu dapat kembali ke masa lalu untuk memahami proses-proses dan titik balik yang berbeda ini," jelas Dr. Thomas.
Signifikansi untuk Masa Depan
Data dari es yang dicairkan tidak hanya akan menyoroti kondisi Bumi yang telah berlalu, tetapi juga diharapkan dapat menjadi cermin untuk memahami tantangan yang dihadapi Bumi di masa depan. Analisis ini berpotensi membantu perumusan strategi yang lebih baik dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin mendesak.
Kegiatan penelitian ini merupakan contoh nyata dari bagaimana eksplorasi ilmiah dapat memberikan wawasan mendalam tentang iklim Bumi. Para ilmuwan berharap bahwa temuan dari inti es tersebut bisa memberikan perspektif yang bernilai untuk memahami siklus iklim dan pengaruhnya terhadap kehidupan di planet kita.
Kini, dunia menanti dengan penuh harap hasil dari penelitian ini yang diharapkan dapat menjawab banyak misteri yang masih menyelimuti sejarah iklim Bumi.




