Pada Jumat, 18 Juli 2023, sekelompok pemukim Israel melakukan serangan yang mengerikan terhadap ratusan domba milik warga Palestina di al-Miteh, Lembah Yordan, Tepi Barat yang diduduki. Insiden tersebut menyebabkan sejumlah besar domba terbantai, serta memaksa dua keluarga untuk mengungsi dari rumah mereka menuju al-Auja, dekat kota Yerikho. Kejadian ini menyoroti tren kekerasan yang semakin meningkat di wilayah tersebut, terutama terhadap komunitas Badui yang menjadi target utama pemukim.
Berdasarkan keterangan dari Mahmoud Kaabneh, seorang penduduk yang terpaksa meninggalkan rumahnya, serangan dimulai pada Kamis malam ketika pemukim mencoba mencuri keledai milik saudaranya, Salem. Ketika keluarga Salem mencoba melindungi hewan mereka, lebih banyak pemukim datang dan menyerang rumah tersebut, serta beberapa anggota keluarga lain yang berada di sekitar. Dalam kekacauan itu, para pemukim berhasil membuka kandang domba dan mencuri sekitar 350 ekor.
Dengan keberadaan tentara Israel di lokasi, banyak yang berharap agar pihak berwenang bisa mencegah kekerasan. Namun, Kaabneh melaporkan bahwa tentara tidak mengambil tindakan untuk menghentikan serangan. Sebaliknya, ketika penduduk lokal berusaha untuk menyelamatkan ternak mereka, mereka justru menghadapi perlawanan dari tentara yang menangkap dan memukuli 20 orang selama empat jam.
Setelah serangan tersebut, penduduk setempat menemukan lebih dari 100 domba mati. Beberapa domba dibunuh dengan pisau, sementara yang lainnya mengalami luka parah akibat pukulan. Kekejaman ini menggambarkan metode yang digunakan pemukim untuk menghancurkan mata pencaharian masyarakat Palestina, dengan tujuan yang jelas untuk mengusir mereka dari tanah yang mereka tinggali.
Kekerasan terhadap ternak merupakan praktik yang terjadi secara rutin di area tersebut, dengan serangan terhadap masyarakat Badui hampir setiap hari. Meski demikian, serangan terbaru ini mencatatkan tingkat kekerasan yang sangat ekstrem, menyebabkan ketakutan yang mendalam di kalangan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Kaabneh menekankan, “Kami hidup dalam ketakutan, setiap hari merasa terancam.”
Situasi di Tepi Barat semakin memanas, dengan kekerasan dari pemukim Israel terhadap warga Palestina yang terus berlanjut. Terlebih lagi, keberadaan tentara Israel yang sering kali tidak netral semakin memperburuk keadaan. Di banyak kasus, alih-alih melindungi warga Palestina, mereka justru berkolaborasi dengan pemukim.
Bagi keluarga-keluarga yang kehilangan ternak dan tempat tinggal mereka, dampak ekonomi sangat signifikan. Domba merupakan sumber utama mata pencaharian mereka, sehingga kehilangan ratusan ekor domba tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup mereka, tetapi juga memperburuk kondisi sosial dan ekonomi di daerah tersebut.
Penanganan insiden ini oleh pihak berwenang juga menjadi sorotan. Banyak orang menyerukan agar komunitas internasional mengambil langkah lebih lanjut untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah tersebut. Dalam skala yang lebih besar, tindakan pemukim terhadap warga Palestina dan hewan ternaknya menjadi catatan penting dalam diskusi mengenai konflik yang terjadi di wilayah ini.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa masalah di Tepi Barat bukan hanya soal tanah, tetapi juga berkaitan erat dengan keberlangsungan hidup masyarakat yang terancam. Dengan adanya insiden baru-baru ini, harapan bagi keadilan dan ketenangan di wilayah tersebut tampak semakin jauh. Di saat yang bersamaan, penyokong hak asasi manusia terus menyerukan perlunya perhatian global yang lebih mendalam terhadap krisis yang tengah memburuk di Tanah Air mereka.




