Badan Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mengecam keras perintah evakuasi massal yang dikeluarkan oleh militer Israel di Deir el-Balah, wilayah Gaza Tengah. OCHA menilai langkah ini sebagai “pukulan mematikan lain” terhadap upaya kemanusiaan, di tengah situasi yang semakin memburuk akibat konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Perintah evakuasi tersebut dikeluarkan pada Minggu pagi dan meminta warga serta pengungsi untuk segera berpindah ke selatan, seiring dengan rencana operasi militer yang akan dimulai. Ribuan keluarga terlihat membawa barang-barang seadanya, berusaha mencari tempat yang dianggap lebih aman. Dengan perkiraan antara 50.000 hingga 80.000 orang yang akan terdampak, OCHA menekankan pentingnya melindungi lokasi-lokasi sipil seperti klinik kesehatan, infrastruktur air, dan gudang bantuan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Hampir seluruh penduduk Gaza telah mengalami pengungsian, dengan banyak yang terpaksa berpindah sebanyak satu kali atau lebih sejak perang dimulai. Kini, sekitar 87,8% wilayah Gaza telah berada di bawah zona militer atau perintah pengosongan. Ini memaksa 2,1 juta warga sipil untuk bertahan di sisa 12% wilayah yang terfragmentasi, di mana akses terhadap layanan dasar semakin sulit didapatkan. Menurut OCHA, evakuasi yang dipaksakan ini hanya akan memperburuk situasi dan semakin menghambat akses organisasi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan.
Situasi di Gaza kini kian genting. OCHA juga melaporkan bahwa pengusiran kepemimpinan organisasi, seperti mencabut izin tinggal kepala kantor OCHA di Israel, yaitu Jonathan Whittall, menambah tantangan dalam penyediaan bantuan kemanusiaan. Whittall sering berbicara tentang kondisi kemanusiaan yang memburuk, dan tindakan ini dilihat sebagai upaya untuk membungkam suara-suara yang mengkritik situasi di Gaza.
Angka kematian akibat perang ini menunjukkan dampak yang tragis. Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat bahwa hampir 58.895 warga Palestina telah kehilangan nyawa mereka selama konflik tersebut. PBB menganggap angka ini sebagai kredibel. Di sisi lain, konflik yang berawal dari serangan Hamas yang mengakibatkan 1.219 jiwa di Israel, sebagian besar adalah warga sipil, menambahkan kompleksitas situasi ini.
PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan telah menyuarakan kekhawatiran tentang dampak jangka panjang dari konflik ini terhadap warga sipil. Tindakan pemindahan paksa hanya akan memperburuk kondisi yang telah sulit. OCHA telah memperingatkan bahwa risiko menurunnya akses terhadap layanan kesehatan, air bersih, dan bantuan makanan sangat tinggi jika infrastruktur sipil terus menerus dirusak dalam perang ini.
Selain itu, perintah evakuasi ini juga menjadi limbah waktu bagi upaya diplomasi internasional dalam meredakan ketegangan. PBB berperan penting dalam upaya memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang bertikai, namun dengan meningkatnya tindakan militer, ruang bagi perundingan semakin menyusut.
Komunitas internasional diharapkan untuk mengambil tindakan dalam menghadapi krisis ini. Koalisi negara-negara dan organisasi non-pemerintah harus bersama-sama berusaha untuk memperbaiki situasi di lapangan dan memberikan dukungan kemanusiaan yang mendesak bagi warga Gaza. Tanpa adanya aksi nyata, nasib jutaan orang di wilayah yang terperangkap dalam konflik ini tetap dipertaruhkan.
Krisis di Gaza menunjukkan tantangan kemanusiaan yang kompleks dan mendesak, dengan kebutuhan akan perhatian dan respons lebih lanjut dari komunitas global menantang cara berpikir dan tindakan diplomasi yang ada.




