Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza terus meningkat, dengan laporan terbaru menyebutkan bahwa hampir 1.000 warga sipil kehilangan nyawa saat menunggu bantuan kemanusiaan. Data yang dirilis oleh kantor media pemerintah Gaza pada Minggu, 20 Juli 2025, menunjukkan bahwa sebanyak 995 orang tewas dan 6.011 lainnya mengalami luka-luka. Angka ini merupakan hasil dari insiden yang berlangsung sejak 27 Mei 2025, di mana warga yang mengantre di pusat distribusi bantuan disebut sebagai “jebakan maut”.
Para pejabat di Gaza menjelaskan bahwa pusat-pusat distribusi yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza sering dijadikan target serangan oleh militer Israel. Kementerian Kesehatan setempat mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait kondisi kesehatan masyarakat, di mana jutaan warga mengalami kekurangan gizi. Sebanyak 60.000 bayi dilaporkan mengalami malnutrisi, serta 600.000 anak-anak di bawah usia 10 tahun yang terancam akibat kurangnya pasokan makanan. Selain itu, 60.000 ibu hamil juga tidak mendapatkan makanan yang cukup.
Menurut laporan surat kabar Israel, Haaretz, sejumlah tentara Israel yang bertugas di Gaza mengungkapkan bahwa mereka menerima perintah untuk secara sengaja menembaki warga sipil yang tak bersenjata di dekat lokasi distribusi bantuan. Meski demikian, pihak pemerintah Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, mengingkari tuduhan tersebut.
Israel sedang menghadapi kritik internasional terkait dengan keputusannya untuk tidak bekerja sama dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Akibat tindakan ini, banyak pengungsi yang semakin kesulitan mendapatkan akses terhadap bantuan yang sangat dibutuhkan. Pada akhir Oktober 2024, parlemen Israel bahkan mengesahkan undang-undang yang melarang kegiatan UNRWA di wilayah Israel, menuduh stafnya terlibat dalam kegiatan yang mendukung serangan Hamas.
Sementara itu, laporan PBB menunjukkan ketidakpuasan atas kurangnya bukti yang ditunjukkan Israel untuk mendukung tuduhannya terhadap UNRWA. Di sisi lain, titik-titik distribusi bantuan yang baru dibuka oleh Israel dan Yayasan Kemanusiaan Gaza, yang didukung oleh AS, berada di daerah selatan Jalur Gaza. Namun, para pengamat khawatir bahwa bantuan tersebut digunakan untuk tujuan yang tidak adil, seperti mengusir warga Palestina secara paksa dari daerah tertentu.
Kondisi di Gaza semakin diperburuk oleh kurangnya akses terhadap obat-obatan dan fasilitas medis. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa tidak adanya pasokan makanan dan perawatan kesehatan yang memadai berisiko meningkatkan angka kematian secara signifikan di antara warga sipil. Masyarakat Gaza kini berada di bawah tekanan yang sangat besar, dengan umat manusia dalam keadaan krisis kemanusiaan yang akut.
Sementara itu, berbagai organisasi internasional terus mendesak agar akses bantuan kemanusiaan yang aman dan efektif dijamin oleh semua pihak yang terlibat. Tuntutan ini semakin mendesak mengingat banyaknya laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah tersebut.
Serangkaian kejadian tragis ini menyoroti kompleksitas konflik di Gaza, di mana warga sipil sering kali menjadi korban dari tindakan militer. Dengan meningkatnya angka korban dan kebutuhan mendesak akan bantuan, dunia internasional diharapkan dapat menanggapi situasi ini dengan lebih efektif dan memberikan dukungan kepada warga yang paling terpukul oleh konflik berkepanjangan ini.




