Iran, Tiongkok, dan Rusia Bertemu Bahas Nuklir: Diplomasi Global Terbaru

Iran menjadi tuan rumah pertemuan trilateral yang melibatkan Tiongkok dan Rusia, membahas isu penting terkait program nuklirnya. Pertemuan ini berlangsung di tengah ketegangan yang terus meningkat terkait sanksi internasional yang dikenakan oleh PBB terhadap Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengungkapkan bahwa diskusi tersebut bertujuan untuk merumuskan mekanisme pemulihan sanksi PBB.

Selain pertemuan triemporal ini, Iran sudah merencanakan perundingan nuklir dengan Inggris, Prancis, dan Jerman di Istanbul. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 25 Juli, dan menjadi langkah strategis dalam meredakan situasi setelah ketiga negara Eropa mencadangkan peringatan bahwa kegagalan untuk melanjutkan pembicaraan dapat memicu kembalinya sanksi internasional. Baqaei menegaskan bahwa Iran berharap pertemuan dengan London, Paris, dan Berlin akan berlangsung di tingkat wakil menteri luar negeri.

Dari perspektif sejarah, Iran memiliki kesepakatan nuklir tahun 2015 yang melibatkan enam negara besar, termasuk Inggris, Tiongkok, Prancis, Rusia, dan AS, serta Jerman. Kesepakatan tersebut berisi langkah-langkah pengendalian terhadap program nuklir Iran sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi. Namun, kesepakatan ini mulai berantakan ketika AS secara sepihak menarik diri pada 2018, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, yang kemudian mengembalikan sanksi yang luas.

Meskipun negara-negara Eropa berjanji untuk terus mendukung kesepakatan tersebut, implementasi mekanisme untuk mengimbangi sanksi AS tidak berjalan efektif. Sejumlah perusahaan Barat terpaksa mundur dari Iran, memperparah kondisi ekonomi negara tersebut. Baqaei menuduh pihak Eropa lalai dalam melaksanakan komitmen mereka terhadap kesepakatan, yang berdampak pada legitimasi dan kepercayaan Teheran terhadap proses negosiasi.

Dalam konteks terbaru, para menteri luar negeri dari negara-negara E3, yang merupakan singkatan bagi Inggris, Prancis, dan Jerman, mengadakan diskusi dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Pertemuan ini diadakan setelah serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni. Tim E3 peringatkan bahwa tindakan akan diambil untuk memulihkan sanksi PBB jika negosiasi yang terhenti tidak dijadwalkan ulang sebelum batas waktu yang ditentukan.

Araghchi menekankan bahwa jika Uni Eropa dan negara-negara E3 ingin terlibat secara konstruktif, mereka harus meninggalkan pendekatan yang bersifat ancaman dan tekanan, termasuk opsi snapback, yang menurutnya tidak memiliki dasar moral maupun hukum. Mekanisme snapback memungkinkan pemulihan sanksi PBB sebelum resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyetujui kesepakatan tersebut berakhir pada 18 Oktober.

Dalam perkembangan terbaru, Baqaei menambahkan bahwa Iran mulai menjauh dari kesepakatan tersebut sebagai respons atas ketidakpatuhan pihak Barat. Negara tersebut berkilah bahwa pengurangan komitmen mereka adalah langkah yang sah berdasarkan ketentuan dalam perjanjian 2015. Dalam situasi ini, sumber diplomatik dari Jerman menyatakan belangnya untuk memastikan bahwa Iran tidak memperoleh akses terhadap senjata nuklir, menegaskan komitmen E3 untuk terus mencari solusi diplomatik yang berkelanjutan dan terverifikasi.

Pertemuan trilateral antara Iran, Tiongkok, dan Rusia ini menunjukkan bahwa aliansi strategis memainkan peran penting dalam dinamika politik global, terutama dalam konteks isu nuklir yang melibatkan sejumlah kekuatan besar. Dharma kerja sama dalam menyusun kebijakan terkait program nuklir Iran menjadi penting untuk menciptakan stabilitas di kawasan tersebut dan mengurangi risiko proliferasi senjata nuklir.

Berita Terkait

Back to top button