Ketegangan di Jalur Gaza kembali memanas setelah militer Israel menahan dua pegawai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di kediaman mereka. Insiden tersebut terjadi di tengah konflik yang berkepanjangan dan semakin melibatkan lembaga kemanusiaan internasional, memperburuk situasi yang kritis di wilayah itu.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui platform X, WHO mengungkapkan bahwa pasukan Israel memasuki rumah para staf dan memaksa perempuan serta anak-anak untuk pergi menuju Al-Mawasi, zona yang dianggap aman. Peristiwa ini menggambarkan bagaimana situasi di Gaza semakin memburuk, membuat warga sipil dan pekerja kemanusiaan terjebak dalam lingkaran kekerasan.
WHO melaporkan bahwa tindakan militer Israel tidak hanya mempengaruhi pegawai, tetapi juga menciptakan atmosfer yang menakutkan di daerah tersebut. “Staf pria dan anggota keluarga diborgol, diinterogasi dengan todongan senjata,” ungkap pernyataan tersebut, sebagaimana dilansir oleh Antara. Ini menunjukkan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, terutama di saat organisasi kemanusiaan berjuang untuk memberikan bantuan medis di tengah krisis.
Dari insiden tersebut, empat orang ditahan – dua di antaranya adalah pegawai WHO dan dua lainnya adalah anggota keluarga mereka. Sementara tiga orang telah dibebaskan, satu pegawai masih dalam penahanan. WHO menyatakan bahwa penahanan ini menggangu operasional mereka di Gaza, yang saat ini berjuang untuk mendukung sistem layanan kesehatan yang nyaris lumpuh akibat konflik yang berlangsung lama.
Dalam pernyataannya, WHO menekankan dampak parah dari insiden ini terhadap misi kemanusiaan mereka. “Kehadiran operasional WHO di Gaza kini terganggu, yang akan melumpuhkan upaya mempertahankan sistem kesehatan yang sudah runtuh,” ungkap mereka. Dengan lebih dari dua juta orang yang bergantung pada layanan kesehatan, situasi ini semakin mempersulit upaya penyelamatan jiwa di region yang didera perang ini.
Pihak internasionals mulai merespons situasi ini. Pada Senin lalu, Menteri Luar Negeri dari 25 negara, sebagian besar berasal dari Eropa, menandatangani pernyataan bersama yang mendesak penghentian segera konflik dan pemulihan jalur distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza. Langkah ini menunjukkan kepedulian global terhadap krisis kemanusiaan yang semakin mendalam dan perlunya tindakan segera untuk meredakan ketegangan.
Serangan militer Israel di Gaza bukanlah hal baru. Wilayah ini telah lama menjadi lokasi konflik yang merugikan warga sipil dan mengganggu kegiatan kemanusiaan. Dengan semakin banyaknya lembaga dan staf internasional yang terlibat, seperti WHO, diharapkan upaya untuk mengatasi krisis kesehatan bisa lebih efektif.
Sebagai tambahan, laporan-laporan sebelumnya juga mencatat bahwa tindakan kekerasan ini telah mengakibatkan banyak korban jiwa dan cedera di kalangan warga sipil, menambah beban yang sudah berat bagi sistem kesehatan yang ada. Situasi ini mengundang perhatian pembela hak asasi manusia di seluruh dunia dan menimbulkan kritik keras terhadap metode yang digunakan oleh militer Israel.
Dengan kondisi yang terus memburuk, perhatian global terhadap Gaza diharapkan bisa membantu menyelesaikan konflik yang berkepanjangan ini. Diplomat dan aktivis hak asasi terus berupaya untuk menghentikan siklus kekerasan sambil mendesak agar akses bantuan kemanusiaan dipulihkan. Keberadaan organisasi seperti WHO di daerah konflik sangat vital, namun tindakan-tindakan seperti penahanan pegawai mereka hanya akan memperburuk situasi dan menghalangi upaya penyelamatan yang mendesak.
