Rumah Sakit Mata Gaza melaporkan lonjakan drastis kasus kebutaan di wilayah tersebut, dengan seluruh situasi yang disebabkan oleh agresi Israel yang berkepanjangan. Saat ini, tercatat sekitar 1.500 penderita, baik yang mengalami kebutaan sebagian maupun total, di Gaza City dan wilayah Al-Nasr. Dr. Abdel Salam Sabah, Kepala RS Mata Gaza, menyatakan bahwa dalam bulan ini saja, terdapat lebih dari 1.200 kasus baru yang dilaporkan.
Banyak dari pasien tersebut mengalami kehilangan penglihatan secara bertahap, sebagai akibat dari penyakit mata kronis yang semakin memburuk. Kurangnya akses terhadap perawatan medis dan obatan yang layak turut memperburuk situasi. Sebagai catatan, pasien yang biasa melakukan kontrol rutin di rumah sakit, kini terpaksa menghindari pengobatan lanjutan karena situasi keamanan yang memburuk dan pembatasan akses.
Di sisi lain, malnutrisi yang melanda wilayah tersebut memperparah kondisi kesehatan masyarakat. Vitamin dan mineral yang seharusnya mendukung kesehatan saraf optik menjadi sulit diakses, berdampak langsung pada peningkatan risiko kebutaan. Khususnya bagi mereka yang mengidap diabetes, risiko ini menjadi lebih tinggi, seiring dengan sulitnya akses terhadap perawatan kesehatan yang memadai.
Sejak ditutupnya seluruh titik penyeberangan ke Jalur Gaza pada 2 Maret 2025, akses bantuan makanan dan obat-obatan semakin terbatas. Kebijakan ini berdampak pada kehidupan sehari-hari penduduk, dengan banyak yang terpaksa mengalami kekurangan gizi yang parah. Menurut data yang dikumpulkan, 4.000 hingga 5.000 pasien yang rutin menjalani kontrol kini terancam kehilangan penglihatan sepenuhnya.
Agresi militer Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023 juga menciptakan dampak yang lebih luas. Data dari pihak berwenang mencatat bahwa lebih dari 58.895 warga Palestina tewas dari konflik ini, dengan jumlah korban yang sebagian besar terdiri dari wanita dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 140.980 orang lainnya mengalami cedera, banyak dari mereka menderita luka yang serius dan berpotensi mengancam kehidupan.
Pentingnya Perhatian Internasional
Kondisi yang dialami oleh warga Gaza, terutama di sektor kesehatan, memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional. Saat kebijakan blokade memaksa masyarakat untuk berjuang dengan ketidakpastian kesehatan, bantuan medis dan makanan dulunya mengalir, kini terputus tanpa pemberitahuan. Hal ini menimbulkan tantangan luar biasa bagi para profesional kesehatan yang berjuang untuk merawat pasien di tengah sumber daya yang terbatas.
Dr. Sabah menekankan pentingnya intervensi segera untuk menangani masalah ini. Mengingat ketidakmampuan masyarakat untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan, ada kekhawatiran bahwa angka kebutaan bisa meningkat lebih lanjut jika tidak ada tindakan yang diambil. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi membawa dampak signifikan pada kualitas hidup masyarakat di Gaza.
Menyikapi Kebutuhan Kemanusiaan
Dengan situasi yang semakin mengkhawatirkan, terdapat kebutuhan mendesak untuk menghimpun dukungan dari donor internasional guna mengirimkan bantuan yang sangat dibutuhkan. Meski hambatan birokrasi sering menjadi penghalang, upaya untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan memberikan akses terhadap perawatan yang layak harus menjadi prioritas.
Keberlanjutan hidup warga Gaza tidak hanya tergantung pada penghentian konflik semata, tetapi juga pada penanganan krisis kesehatan yang sedang berlangsung. Setiap langkah untuk mengembalikan akses terhadap jasa kesehatan, termasuk program rehabilitasi bagi penderita kebutaan, sangatlah penting demi memulihkan harapan dan masa depan bagi generasi mendatang.
Ketidakpastian dan ketidakadilan yang dialami oleh penduduk Gaza terus menuntut perhatian dunia, dan setiap detik yang berlalu tanpa tindakan dapat berarti kehilangan lebih banyak nyawa dan masa depan.




