Gaza Mau Dijadikan Tempat Wisata? Israel Terima Kecaman dari Seluruh Dunia

Sejumlah pemimpin sayap kanan Israel menggelar pertemuan publik pada Selasa (22/7/2025) di Knesset, membahas rencana kontroversial untuk menjadikan Jalur Gaza sebagai kawasan wisata “Riviera” yang ramah turis. Rencana ini terlihat sangat janggal di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di daerah tersebut. Di acara bertajuk “Riviera di Gaza: Dari Visi ke Realitas”, dihadiri oleh Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dan aktivis pendukung permukiman Yahudi, Daniella Weiss, rencana tersebut memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak, termasuk dunia Arab dan warga Palestina.

Gagasan untuk menjadikan Gaza sebagai pusat pariwisata bukanlah hal baru. Sebelumnya, mantan Presiden AS Donald Trump mengusulkan konsep serupa yang mengharuskan pengusiran penduduk Palestina dan memasukkan wilayah tersebut di bawah kendali AS. Penduduk Palestina melihat ini sebagai pengulangan dari “Nakba”, peristiwa bersejarah yang menyakitkan bagi mereka ketika banyak yang diusir dari tanah mereka saat pembentukan negara Israel pada 1948.

Rencana di Knesset mencakup pembangunan perumahan bagi 1,2 juta pemukim Yahudi baru, pengembangan kawasan industri dan pertanian, serta kompleks wisata pesisir di Gaza. Meskipun Israel telah menarik diri dari delapan permukiman Yahudi di Gaza pada tahun 2005, sejak itu, suara untuk pemukiman kembali telah bangkit terutama setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Ketidakpuasan ini terus berkembang di kalangan sebagian kecil masyarakat Israel, yang menganggap Gaza sebagai area yang harus diisi oleh pemukim Yahudi.

Krisis kemanusiaan di Gaza sudah mencapai tingkat yang sangat kritis. Setelah 21 bulan konflik dan dua bulan blokade ketat oleh Israel, akses terhadap bantuan kemanusiaan sangat terbatas. Meskipun Israel mulai melonggarkan blokade pada akhir Mei 2025, kenyataan di lapangan tetap menyedihkan. Warga Gaza menghadapi kekurangan makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya, dengan laporan tentang meningkatnya kasus malnutrisi dan kelaparan.

Menurut laporan dari organisasi kemanusiaan dan otoritas lokal, kondisi di Gaza semakin memprihatinkan. Ketersediaan bahan pangan yang sangat terbatas, ketersediaan air bersih yang langka, serta fasilitas kesehatan yang tidak memadai menjadi permasalahan mendesak yang perlu diselesaikan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 21 anak telah tewas karena kelaparan, menambah kepedihan yang dialami oleh rakyat Palestina.

Kecaman terhadap rencana ini datang dari berbagai penjuru. Tokoh masyarakat dan aktivis hak asasi manusia menyerukan perhatian internasional atas masalah ini, menekankan bahwa gagasan menjadikan Gaza sebagai tempat wisata adalah bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan. Banyak yang berpendapat bahwa tema wisata tidak sepatutnya diajukan pada saat rakyat di wilayah tersebut sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Sebagai penutup, wacana ini seharusnya lebih fokus pada upaya pemulihan kondisi kemanusiaan di Gaza sebelum membayangkan wilayah tersebut sebagai tujuan wisata. Dengan kondisi yang demikian kritis, banyak pihak berharap bahwa perhatian dunia internasional akan beralih untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina ketimbang membahas gagasan turis yang berpotensi menghancurkan.

Exit mobile version