Insiden mengejutkan terjadi pada 15 Juni lalu di Pangkalan Udara San Javier, Murcia, Spanyol, ketika seekor burung camar menabrak kokpit jet tempur Eurofighter yang tengah melakukan pertunjukan udara. Momen dramatis tersebut berhasil diabadikan oleh fotografer penerbangan Javier Alonso de Medina Salguero. Insiden ini menunjukkan betapa rentannya pesawat terhadap ancaman dari fauna, khususnya burung, yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
Menurut Javier, momen tersebut berlangsung saat ia dan penonton lain menantikan atraksi dari Eurofighter. Mendadak, pesawat meninggalkan pertunjukan secara tiba-tiba, dan tidak lama kemudian terdengar laporan radio tentang tabrakan dengan burung camar. “Ketika saya memeriksa foto-foto hasil jepretan saya, saya menyadari bahwa saya telah menangkap seluruh kejadian,” ungkap Javier.
Akibat tabrakan, kokpit jet tersebut mengalami kerusakan serius. Burung camar itu meninggalkan lubang besar di kanopi jet dengan nilai sekitar 98 juta dolar AS, setara dengan Rp1,6 triliun. Beruntungnya, pilot Eurofighter tersebut dapat mendarat dengan selamat tanpa mengalami cedera. Insiden ini menyoroti masalah yang lebih luas di dunia penerbangan terkait dengan “bird strike” atau kecelakaan akibat burung, yang sering kali diabaikan.
Menurut data dari beberapa sumber, insiden bird strike bukanlah hal yang aneh dalam industri penerbangan. Setiap tahun, ribuan insiden serupa terjadi di seluruh dunia, menyebabkan kerugian miliaran dolar serta mengancam keselamatan penerbangan. Seiring meningkatnya populasi burung di banyak daerah, risiko terhadap pesawat terbang juga semakin besar. Sebuah studi menyebutkan bahwa hampir 80% bird strike terjadi di bawah ketinggian 3.000 kaki, seringkali saat pesawat lepas landas atau mendarat.
Penting untuk dicatat bahwa langkah pencegahan terus diupayakan oleh otoritas penerbangan. Banyak bandara yang mulai menerapkan sistem pengendalian hama untuk mengurangi kemungkinan pertemuan antara burung dan pesawat. Misalnya, teknik mengusir burung dengan suara atau menggunakan predator alami saat bandara tidak beroperasi. Namun, efektivitas metode ini sering kali bervariasi tergantung pada lingkungan.
Insiden di San Javier ini juga mengingatkan kita akan kejadian-kejadian serupa, seperti pendaratan darurat yang dilakukan oleh US Airways Penerbangan 1549 di Sungai Hudson pada tahun 2009, setelah pesawat tersebut menabrak sekelompok burung. Kasus tersebut diibaratkan menjadi contoh dramatis bagaimana burung dapat menyebabkan situasi kritis yang mengancam jiwa.
Dalam konteks pesawat tempur, Eurofighter merupakan salah satu jet tercanggih yang beroperasi dalam Angkatan Udara Spanyol. Dengan kemampuan tempur yang tinggi dan teknologi mutakhir, insiden yang terjadi justru menunjukkan bahwa tidak ada pesawat yang sepenuhnya kebal terhadap bahaya luar. Mengingat biaya perawatan dan pemeliharaan yang sangat tinggi, kehilangan jet seharga RP1,6 triliun akibat burung tentu menjadi kerugian yang signifikan bagi anggaran militer.
Bagi para penggiat penerbangan dan pengamat industri, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran terhadap risiko yang dihadapi oleh pesawat di angkasa. Selain itu, upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi penerbangan harus terus ditingkatkan dan diusut, agar insiden serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.
Sementara itu, bagi masyarakat umum, insiden ini juga menunjukkan kerentanan dunia penerbangan dan pentingnya keselamatan dalam setiap perjalanan udara. Para penumpang sebaiknya tetap waspada dan memahami bahwa meskipun teknologi penerbangan telah berkembang pesat, tantangan dari alam seperti burung tetap menjadi risiko yang nyata.




