Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 10 orang meninggal akibat kelaparan. Tragisnya, mayoritas dari korban adalah anak-anak. Dengan penambahan ini, jumlah total korban jiwa akibat kelaparan di Gaza kini mencapai 111 orang. Situasi ini menggambarkan dampak serius yang dihadapi oleh warga Gaza, terutama di tengah pengepungan yang berkepanjangan.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui Telegram, kementerian menekankan bahwa angka kematian akibat malnutrisi di wilayah tersebut terus meningkat. “Dalam 24 jam terakhir, telah tercatat 10 kasus kematian akibat kelaparan dan malnutrisi di rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza,” ungkap kementerian. Angka kematian ini menunjukkan krisis kemanusiaan yang mendalam di wilayah yang sudah terpuruk akibat serangkaian konflik.
Kondisi di Gaza semakin memburuk setelah Israel memberlakukan blokade total yang memutus akses terhadap makanan, air, dan obat-obatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa saat ini hanya terdapat sekitar 2.000 tempat tidur rumah sakit di Gaza, yang dihuni oleh sekitar dua juta jiwa. Lebih dari separuh rumah sakit di wilayah tersebut tidak beroperasi akibat kerusakan akibat serangan militer atau kekurangan pasokan medis.
Dengan lebih dari 59.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 142.000 terluka akibat serangan Israel yang dimulai sejak Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan potensi lonjakan angka kematian yang lebih parah. Menurut mereka, banyak warga terpaksa hidup dalam kondisi malnutrisi yang semakin memburuk, tanpa akses bantuan medis yang memadai.
Sejak awal konflik, situasi semakin mencekam ketika pada 7 Oktober 2023, serangan besar-besaran dilancarkan oleh militer Israel setelah kelompok Hamas melancarkan serangan penyerbuan. Sekitar 1.200 warga Israel dilaporkan tewas dalam peristiwa tersebut, yang kemudian memicu respons militer dari pihak Israel yang kini berfokus pada penghancuran infrastruktur Hamas di Gaza.
Otoritas Palestina dan berbagai organisasi internasional terus menyerukan perlunya bantuan kemanusiaan dan intervensi agar akses terhadap makanan dan layanan medis dapat diberikan kepada warga sipil yang terjebak dalam konflik ini. Mesir, sebagai mediator, juga tengah berupaya menengahi gencatan senjata 60 hari untuk menghentikan kekerasan dan memberikan ruang bagi bantuan kemanusiaan.
Potensi krisis kelaparan di Gaza menjadi gambaran nyata dan mendesak dari dampak berkepanjangan yang dialami oleh warga sipil. Anak-anak yang menjadi mayoritas dari korban sangat rentan dan memerlukan perhatian serta tindakan segera dari komunitas internasional.
Saat ini, perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas untuk mencari jalan keluar dari konflik kembali dilanjutkan di Doha, dengan harapan akan ada solusi yang berpihak pada keselamatan warga sipil. Namun, situasi terkini menunjukkan bahwa langkah nyata untuk mengatasi isu kelaparan dan malnutrisi di Gaza masih sangat diperlukan.
Banyak pihak mendorong agar dunia tidak lagi terlena dengan narasi politik yang ada dan lebih fokus pada tragedi kemanusiaan yang tengah berlangsung saat ini. Sebagai frontier kemanusiaan, Gaza membutuhkan perhatian lebih untuk mencegah semakin banyaknya nyawa melayang akibat kelaparan dan malnutrisi.





