Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa penyebaran disinformasi mengenai cuaca ekstrem di media sosial dapat menghambat upaya penyelamatan korban yang terdampak bencana. Dalam situasi darurat, seperti badai atau kebakaran hutan, informasi yang menyesatkan sering kali lebih cepat viral dibandingkan dengan peringatan resmi yang seharusnya dapat menyelamatkan nyawa.
Menurut laporan dari Centre for Countering Digital Hate (CCDH), unggahan yang berisi informasi palsu ini menyebar luas di platform-platform media sosial seperti Meta, X, dan YouTube. Fenomena ini muncul selama bencana alam, termasuk kebakaran hutan di Los Angeles serta Badai Helene dan Milton. CCDH menegaskan bahwa penyebaran teori konspirasi terkait iklim bukanlah kebetulan, melainkan merupakan masalah serius yang perlu diperhatikan.
Studi tersebut menganalisis sekitar 300 unggahan yang viral dan ditemukan bahwa hampir seluruh konten menyesatkan tersebut tidak mendapatkan label cek fakta atau peringatan dari platform terkait. Klaim-klaim absurd seperti menyebut badai sebagai “senjata rekayasa geografis” dan mengaitkan kebakaran hutan dengan “laser pemerintah” menjadi contoh nyata dari informasi yang bisa menyesatkan publik.
Imran Ahmed, CEO CCDH, mengecam sikap platform media sosial yang dianggap sengaja membiarkan kebohongan ini menyebar karena keuntungan finansial. Ia menyatakan, “Sementara keluarga berduka dan petugas tanggap darurat menyisir puing-puing setelah bencana, perusahaan media sosial tanpa malu-malu mengeksploitasi situasi ini untuk keuntungan.” Pernyataan ini menunjukkan betapa mendesaknya perlu adanya perubahan dalam cara platform menangani disinformasi.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar unggahan menyesatkan tersebut berasal dari pengguna terverifikasi dengan jangkauan yang luas. Ini termasuk individu-individu yang sering kali memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan informasi resmi dari lembaga seperti FEMA atau media terpercaya seperti LA Times. Ini tentunya menciptakan kebingungan dan memperburuk situasi di lapangan ketika informasi yang akurat menjadi sulit ditemukan.
Sam Bright dari organisasi DeSmog memperingatkan, “Disinformasi iklim merenggut nyawa. Seiring dengan semakin seringnya cuaca ekstrem, kebohongan ini akan semakin berbahaya.” Pernyataan ini memberikan gambaran jelas tentang betapa pentingnya menangani masalah disinformasi di media sosial agar tidak mengorbankan keselamatan publik.
Studi CCDH juga memberikan rekomendasi untuk meningkatkan tanggung jawab perusahaan teknologi dalam menyaring konten yang bisa membahayakan masyarakat. Dengan meningkatnya frekuensi bencana alam yang dipicu oleh perubahan iklim, tindakan yang lebih tegas terhadap disinformasi menjadi sangat mendesak. Keterlibatan aktif dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan media sosial hingga pemerintah, diperlukan untuk menciptakan lingkungan informasi yang lebih aman.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak perubahan iklim, penting bagi masyarakat untuk dapat mengakses informasi yang akurat dan terpercaya. Penanganan disinformasi tidak hanya menjadi tugas perusahaan media sosial, tetapi juga tanggung jawab semua pihak untuk memastikan keselamatan bersama. Upaya kolektif ini diharapkan dapat membantu menyelamatkan nyawa, terutama dalam situasi darurat yang semakin umum terjadi akibat perubahan iklim.
Dalam upaya melawan disinformasi, edukasi masyarakat menjadi hal yang krusial. Masyarakat perlu dilengkapi dengan kemampuan untuk mengenali informasi yang valid dan menghindari jebakan informasi palsu, terutama yang berkaitan dengan situasi kritis. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap disinformasi di era digital saat ini.




