Analisis citra satelit menunjukkan bahwa Kamboja menjadi pemicu utama dalam konflik perbatasan yang semakin memburuk dengan Thailand. Temuan ini berasal dari penelitian Nathan Ruser, seorang pakar pertahanan dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI), yang menyelidiki data satelit antara Februari dan Juli 2025. Ruser mencatat bahwa terjadi 33 tindakan eskalasi oleh Kamboja, jauh lebih banyak dibandingkan 14 tindakan yang dilakukan oleh Thailand.
Sejak akhir Februari, citra satelit menunjukkan peningkatan aktivitas militer Kamboja. Pembersihan dan perbaikan jalan di daerah Sam Yaek Lao dan Chong Bok dideteksi antara 23 hingga 28 Februari. Selanjutnya, pada pertengahan Maret, pembangunan jalan menuju bukit strategis Phnom Prasitthi dan benteng pertahanan di lokasi tersebut juga terlihat.
Konsentrasi Pos Pertahanan
Aktivitas militer Kamboja berkali-kali ditingkatkan sepanjang bulan Maret 2025. Pos-pos pertahanan baru mulai muncul, termasuk pos besar di Bukit-641 yang terletak hanya 300 meter dari perbatasan. Pengamatan melalui foto udara mengungkapkan skala pertahanan yang dibangun, menciptakan rasa ketegangan antara dua negara.
Setelah baku tembak yang terjadi pada 28 Mei 2025, yang menewaskan salah satu perwira Kamboja, citra satelit mengindikasikan pengerahan 800 hingga 1.000 pasukan tambahan. Pengerahan ini termasuk unit elit, artileri roket, dan kendaraan lapis baja, serta tank T-55 yang diparkir dekat kuil Preah Vihear.
Penyebaran Ranjau Darat
Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa Kamboja mulai menanam ranjau darat, dengan lebih dari 120 ranjau PMN-2 ditanam pada 1 Juli 2025. Jumlah ini meningkat menjadi 300 ranjau pada 3 Juli, serta tambahan 100 ranjau di kawasan Segitiga Zamrud hingga 10 Juli. Praktik ini menimbulkan korban di pihak Thailand, termasuk dua kasus amputasi kalangan militer.
Pada 14 Juni 2025, citra satelit menunjukkan artileri jarak jauh Kamboja yang diarahkan ke Kota Kantharalak, Thailand. Kembali, puncak ketegangan terjadi pada 24 Juli 2025, saat artileri Kamboja menghantam kuil Ta Muen Thom, menyebabkan 11 warga sipil Thailand dan satu tentara tewas.
Perspektif Diplomasi yang Terus Berlanjut
Meskipun serangkaian tindakan agresif ini, proses diplomasi di antara kedua negara tidak sepenuhnya terhenti. Ruser menekankan, bukti-bukti yang dihasilkan dari analisis berbasis satelit memberikan gambaran jelas mengenai siapa yang memulai konflik. Analisis tersebut mengindikasikan bahwa tindakan Kamboja, mulai dari pembangunan infrastruktur militer hingga penempatan persenjataan dan ranjau darat, berkontribusi signifikan terhadap eskalasi ketegangan ini.
Dalam konteks ini, hasil penelitian Ruser memberikan pandangan baru tentang bagaimana konflik wilayah dapat dipahami dengan lebih baik, khususnya melalui pendekatan teknologi seperti citra satelit. Analisis ini bukan hanya untuk memperjelas akar masalah, namun juga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi upaya penyelesaian diplomatik di masa depan.
Sebagaimana laporan-laporan luas menyebutkan, perhatian tinggal pada bagaimana kedua negara dapat menjembatani perbedaan dan menciptakan situasi yang lebih damai di kawasan tersebut, agar ketegangan yang ada tidak terus berlarut-larut.





