Prancis baru saja mengumumkan niatnya untuk secara resmi mengakui negara Palestina dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dijadwalkan pada bulan September mendatang. Presiden Emmanuel Macron menegaskan langkah bersejarah ini pada Kamis (24/7) waktu setempat, yang menambah jumlah negara yang mengakui atau berencana mengakui Palestina menjadi 142. Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat (AS) merupakan dua negara utama yang menentang langkah ini, menciptakan ketegangan baru dalam isu yang merupakan salah satu konflik paling berlarut-larut di dunia.
Reaksi dari Amerika Serikat
Menanggapi pengumuman tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan tegas mengecam tindakan Prancis. Dia menyebut keputusan ini sebagai "sembrono" dan mengklaim bahwa itu hanya mendukung propaganda kelompok Hamas serta menghalangi upaya perdamaian. Rubio mengingatkan bahwa keputusan ini merupakan tamparan bagi para korban serangan Hamas pada 7 Oktober, yang baru saja menciptakan ketegangan baru antara kedua belah pihak.
Tanggapan dari Israel
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tidak ketinggalan dalam memberikan reaksi. Ia berargumen bahwa pengakuan terhadap Palestina dalam situasi seperti ini dapat memberi imbalan kepada teror dan berpotensi menciptakan proksi Iran di wilayah tersebut. Menurut Netanyahu, format negara Palestina saat ini justru akan lebih menjadi ancaman bagi Israel daripada solusi damai.
Dukungan dari Eropa dan Dunia Arab
Di sisi lain, reaksi positif datang dari berbagai belahan dunia. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyatakan dukungannya terhadap keputusan Macron. Ia menekankan pentingnya melindungi solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai kedamaian. Sanchez menilai banyak tindakan yang merusak proses perdamaian harus dihentikan.
Reaksi positif juga datang dari Arab Saudi. Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan rasa syukur atas langkah bersejarah ini dan mendesak negara-negara lain yang belum mengakui Palestina untuk mengambil tindakan serupa. Mereka meneguhkan seruan untuk mendukung hak-hak rakyat Palestina dan memperjuangkan kedamaian.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri Yordania juga menyampaikan apresiasi atas langkah ini. Juru bicara kementerian, Sufian Qudah, menyebutkan bahwa langkah ini merupakan arah yang positif menuju solusi dua negara dan pengakhiran pendudukan.
Sambutan dari Palestina dan Hamas
Pejabat senior Otoritas Palestina, Hussein al-Sheikh, memberikan sambutan hangat terhadap keputusan ini. Ia menilai langkah Macron mencerminkan komitmen Prancis terhadap hukum internasional serta dukungan atas hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib mereka sendiri.
Pujian juga datang dari kelompok militan Hamas, yang menilai pengakuan ini sebagai langkah positif dalam upaya menegakkan keadilan bagi rakyat Palestina. Mereka menyerukan kepada semua negara, terutama di Eropa, untuk mengikuti jejak Prancis dalam mengakui negara Palestina.
Dampak Kebijakan Prancis
Dengan langkah ini, Prancis menjadi kekuatan Eropa yang signifikan dalam isu Palestina dan menjadi negara pertama di antara anggota G7 yang mengambil langkah ini. Langkah ini berpotensi memicu diskusi lebih lanjut dalam isu-isu diplomatik, serta bisa meningkatkan tekanan terhadap negara-negara lain untuk mempertimbangkan pengakuan mereka terhadap Palestina.
Hal ini menandai fase baru dalam geopolitik Timur Tengah, di mana reaksi dari negara-negara besar akan menjadi sangat penting dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Prancis, melalui keputusan ini, tampaknya ingin memposisikan dirinya sebagai mediator netral dalam satu konflik yang berusia puluhan tahun. Pengakuan ini bukan hanya langkah simbolis, tetapi juga dapat membuka ruang bagi diskusi baru mengenai pernyataan dan perlindungan hak-hak rakyat Palestina yang selama ini terpinggirkan.
Di tengah berbagai reaksi dan pro dan kontra yang muncul, langkah Prancis tentu akan terus menjadi sorotan dunia internasional, dan dampaknya akan dirasakan oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik ini.




