147 Orang Tewas Kelaparan di Gaza, Trump Soroti Kurangnya Bantuan Israel

Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, dengan laporan terbaru menyatakan bahwa 147 orang tewas akibat kelaparan, termasuk 88 anak-anak. Otoritas kesehatan Gaza mencatat situasi ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan yang telah merenggut hampir 60.000 jiwa selama dua tahun terakhir. Gambaran tragis ini mendorong kritik internasional, termasuk dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang meminta Israel untuk memperluas akses bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Menurut data dari otoritas kesehatan setempat, dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 14 orang meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi. Gambar anak-anak yang menderita kelaparan semakin mengguncang dunia dan menimbulkan pertanyaan terkait tanggung jawab negara dalam krisis ini. Menanggapi situasi yang mengkhawatirkan, Trump menekankan pentingnya bagi Israel untuk memastikan aliran bantuan kemanusiaan tidak terhambat. “Banyak orang kelaparan. Kami akan mendirikan pusat-pusat makanan yang mudah diakses tanpa pagar atau batasan,” ujar Trump saat kunjungannya ke Skotlandia.

Pernyataan Kontradiktif dari Pemimpin Israel

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa tidak ada kelaparan di Gaza, meskipun ia mengakui bahwa kondisi di wilayah tersebut memang sulit. Netanyahu berjanji akan memastikan distribusi bantuan berjalan lancar. Namun, pernyataan ini bertolak belakang dengan kenyataan yang dihadapi oleh ribuan warga Palestina yang kesulitan memberi makan anak-anak mereka.

Wessal Nabil, seorang ibu di Beit Lahiya, menggambarkan perjuangan sehari-harinya. “Kalau tidur lapar, bangunnya juga lapar. Kami hanya berusaha mengalihkan perhatian mereka agar tenang,” ungkapnya. Kisah-kisah serupa mencerminkan kesulitan yang dihadapi oleh banyak keluarga di Gaza.

Tekanan Internasional dan Respons Israel

Tekanan dari komunitas internasional tampaknya mendorong Israel untuk mengambil tindakan. Pada akhir pekan lalu, Israel mengumumkan jeda kemanusiaan harian di tiga wilayah Gaza, membuka koridor aman untuk konvoi bantuan kemanusiaan. Meskipun jeda ini positif, badan PBB menyatakan bahwa distribusi bantuan tetap jauh di bawah target yang diharapkan. Program Pangan Dunia mencatat pengiriman sekitar 60 truk bantuan, jauh dari 100 truk yang diperlukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Jan Egeland, Kepala Dewan Pengungsi Norwegia, menyatakan, “Anak-anak meninggal setiap hari karena kelaparan dan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Waktu sudah habis.” Pernyataan ini menyoroti bahwa meskipun ada upaya untuk mendistribusikan bantuan, kebutuhan di lapangan tetap kritis.

Akses Bantuan dan Koordinasi Internasional

Menanggapi situasi tersebut, Gedung Putih mengumumkan bahwa mereka akan bekerja sama dengan negara-negara lain untuk meningkatkan akses bantuan. Informasi terkait pembentukan pusat makanan akan segera diumumkan. “Israel akan terus bekerja sama dengan badan internasional serta negara mitra untuk memastikan aliran bantuan dalam jumlah besar ke Jalur Gaza,” kata Netanyahu dalam pernyataannya.

Meskipun ada langkah-langkah untuk meningkatkan distribusi bantuan, laporan terkini menyebutkan bahwa banyak jumlah bantuan yang dikirimkan masih terbatas jika dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Ini menunjukkan tantangan besar dalam mengatasi krisis kemanusiaan yang mendalam di Gaza.

Kondisi Mengerikan di Lapangan

Krisis ini bukan hanya sekadar angka; setiap angka mewakili kehidupan yang hilang dan penderitaan yang dirasakan oleh warga di Gaza. Dengan hampir satu dari tiga orang mengalami kelaparan, penting bagi masyarakat internasional untuk mendorong tindakan nyata dan mendesak agar bantuan dialokasikan dengan cepat.

Keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemimpin dunia dan organisasi internasional, sangat diperlukan untuk mengatasi krisis yang semakin memburuk ini. Sebagai bagian dari upaya tersebut, para aktivis dan organisasi kemanusiaan terus mendesak agar akses bantuan kemanusiaan dapat diterima tanpa adanya batasan yang memperberat kondisi yang sudah sulit ini.

Berita Terkait

Back to top button