Kematian Zara Qairina, siswi asal Malaysia, menguak dugaan praktik perundungan yang jauh lebih berat dari sekadar pemalakan. Keluarga Zara melalui akun media sosial menyampaikan fakta-fakta mengejutkan mengenai pelecehan yang dialami oleh gadis tersebut saat tinggal di asrama.
Menurut pengakuan kakak Zara, Syira Leizel Janice Abdullahz, Zara tidak hanya sering menjadi korban pencurian barang pribadi dan uang saku, tetapi juga mengalami perlakuan kasar dari teman-temannya. Syira mengungkapkan bahwa Zara sering kehilangan dompetnya, namun meski demikian, ia berusaha tetap tegar. “Tidak apa-apa, Zara lawan saja semua orang. Zara tidak takut,” ucap Syira menirukan kata-kata Zara.
Kasus ini telah menarik perhatian kepolisian Malaysia. Direktur Departemen Investigasi Kriminal Kepolisian Federal, Datuk M. Kumar, menyatakan bahwa kematian Zara memang mengarah pada kasus bullying. Pernyataan ini menunjukkan adanya pengakuan resmi mengenai bukti-bukti yang mengindikasikan perundungan.
Lebih jauh, keluarga mengungkap kondisi yang lebih mengerikan. Zara diduga mengalami pelecehan seksual dari salah satu siswi tomboy di asrama tersebut. “Seorang siswi tomboi diduga meraba-raba dan mencium mulut serta daerah pribadi Zara saat dia sedang tidur,” terang Syira melalui unggahan di Facebook. Dugaan pelecehan ini menambah berat beban yang harus ditanggung Zara selama di asrama.
Selain pelecehan, Zara pernah disuruh mengambil air panas pada waktu dini hari sekitar pukul 2-3 pagi, padahal kamarnya berada di lantai tiga, sebuah tindakan yang dinilai tidak wajar dan membahayakan keselamatannya. Hal ini merupakan salah satu bentuk intimidasi yang dialami Zara selama berada di lingkungan asrama.
Meskipun menghadapi berbagai dugaan kekerasan dan pelecehan, Zara tetap ingin melanjutkan pendidikannya di asrama. Bahkan setelah ibunya datang dan memperingatkan siswa-siswi yang melakukan kekerasan, Zara tampak tegar dan bertekad untuk bertahan. “Ibu Zara pernah datang ke asrama dan memperingatkan siswa-siswi yang melakukan perundungan,” ungkap Syira. Namun, di balik ketegaran itu, Zara ternyata menanggung banyak beban yang tidak pernah ia tunjukkan ke orang lain.
Keluarga Zara menolak untuk tinggal diam dan terus menyerukan keadilan bagi adik mereka. Mereka berharap agar kasus ini mendapatkan penanganan serius dari pihak berwajib dan agar praktik bullying di lingkungan pendidikan dapat diatasi secara tuntas.
Kepolisian hingga kini masih mengusut kasus ini dengan serius. Namun, keterbukaan keluarga dan saksi di media sosial menambah tekanan agar fakta lengkap bisa ditemukan. Kasus Zara Qairina menjadi pengingat pentingnya perlindungan bagi para siswa di lingkungan sekolah, khususnya di asrama, agar tidak menjadi korban perundungan dan pelecehan yang berbahaya.
Peristiwa tragis ini juga memunculkan sorotan luas tentang bagaimana sistem pengawasan di asrama perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Dengan fakta-fakta yang terungkap, diharapkan ada perubahan kebijakan yang menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh siswa selama menempuh pendidikan.





