Helikopter polisi Kolombia tipe UH-60 Black Hawk mengalami kecelakaan tragis setelah diserang oleh pesawat nirawak atau drone saat terlibat dalam operasi antinarkoba di wilayah pegunungan Provinsi Antioquia, Rabu (20/8/2025). Insiden ini menyebabkan tewasnya 12 orang yang berada di dalam helikopter tersebut. Gubernur Antioquia, Andres Julian Rendon, menyatakan bahwa helikopter milik Kepolisian Nasional Kolombia tengah mendukung tim di lapangan yang sedang menghancurkan tanaman koka saat serangan berlangsung.
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, langsung menuding kelompok pemberontak yang merupakan mantan anggota FARC sebagai pelaku serangan drone ini. Kelompok tersebut dikenal menolak perjanjian damai tahun 2016 yang mengakhiri konflik bersenjata selama lebih dari 50 tahun yang memakan korban sekitar 450.000 jiwa. Sebelumnya, kelompok yang sama juga bertanggung jawab atas serangan bom mobil di pangkalan militer.
Serangan Drone Sebagai Taktik Baru dalam Konflik
Rekaman video yang beredar menunjukkan helikopter itu tertabrak drone saat sedang turun mendekati area pendaratan, yang kemudian jatuh menghantam perbukitan. Video lain, yang diduga direkam oleh militan pemberontak, merekam asap yang mengepul dari lokasi kecelakaan. Para pakar militer menilai ini adalah insiden pertama di Belahan Bumi Barat di mana helikopter polisi berhasil ditembak jatuh dengan menggunakan drone. Taktik semacam ini sebelumnya telah digunakan dalam konflik di Ukraina untuk menarget helikopter tempur Rusia seperti Mi-8 dan Mi-24.
Menurut laporan Wall Street Journal, pemberontak Kolombia mulai mengadopsi teknologi drone sejak April 2024. Militer negara tersebut mencatat ada sedikitnya 301 serangan drone di berbagai daerah, terutama di Provinsi Cauca dan Norte de Santander, yang dikenal sebagai pusat perkebunan koka dan jalur utama perdagangan narkoba. Sedangkan kantor berita El Tiempo mengungkapkan pemberontak menggunakan gerombolan drone mikro dengan teknologi canggih seperti kamera pencitraan termal dan sistem kontrol frekuensi yang berubah-ubah agar sulit dilumpuhkan.
Dampak Serangan Drone bagi Keamanan Regional
Serangan drone yang dilakukan oleh kelompok pemberontak sudah menewaskan sedikitnya empat tentara dan seorang warga sipil. Selain itu, lebih dari 57 orang mengalami luka-luka akibat serangan ini. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius di Amerika Serikat, negara yang aktif memberikan dukungan keamanan di Amerika Latin. Washington menyatakan peningkatan penggunaan drone oleh kelompok pemberontak dan kartel narkoba merupakan ancaman signifikan. Bahkan, ada laporan bahwa anggota geng narkoba Meksiko ikut bergabung dengan Korps Internasional Ukraina untuk mempelajari pengoperasian drone pandangan orang pertama (FPV), sebuah teknologi yang efektif dalam perang Rusia-Ukraina.
Jenderal Gregory M Guillot, yang bertanggung jawab atas keamanan perbatasan AS, sedang mengajukan perubahan aturan operasi agar drone jenis ini bisa segera dilumpuhkan atau dijatuhkan ketika terdeteksi. Hal ini penting untuk mencegah insiden serupa yang bisa semakin belanjut dan memperburuk situasi keamanan di wilayah tersebut.
Profil Helikopter UH-60 Black Hawk dalam Operasi Militer
Helikopter UH-60 Black Hawk yang terlibat dalam insiden ini umumnya dijalankan oleh 4 awak dan bisa membawa hingga 11 tentara bersenjata atau 6 tandu. Helikopter ini memiliki kecepatan maksimum sekitar 290 km/jam dan jangkauan operasi hampir 600 km, menjadikannya kendaraan udara utama dalam berbagai operasi militer maupun kepolisian, khususnya dalam lingkungan pegunungan maupun medan berat di Kolombia.
Helikopter ini kerap digunakan dalam operasi antinarkoba yang berisiko tinggi, terutama saat mengincar perkebunan koka dan jaringan perdagangan narkoba yang dilindungi kelompok bersenjata. Serangan drone yang berhasil menembus pertahanan helikopter ini menunjukkan era baru dalam konflik bersenjata dengan penggunaan sistem senjata yang semakin canggih dan asimetris.
Situasi di Kolombia menunjukkan gambaran jelas bagaimana teknologi drone mulai digunakan sebagai alat efektif dalam konflik pemberontakan dan penegakan hukum. Kejadian ini bukan hanya menimbulkan kerugian nyawa yang besar, tetapi juga mencerminkan tantangan baru bagi militer dan aparat keamanan dalam menghadapi ancaman modern dari kelompok-kelompok bersenjata dan kriminal bersenjata.





