Profil Mariam Dagga, Jurnalis Perempuan Meninggal Dibunuh Tentara Israel

Mariam Dagga, seorang jurnalis perempuan asal Gaza yang dikenal gigih mendokumentasikan keadaan warga Palestina di tengah konflik, meninggal dunia dalam serangan tentara Israel pada Senin, 25 Agustus 2025. Dagga tewas saat sebuah rumah sakit, tempat ia sering mengambil gambar dan video, diserang oleh militer Israel. Kejadian tragis ini menambah daftar panjang jurnalis yang kehilangan nyawa saat meliput perang di Gaza.

Profil dan Karier Jurnalistik Mariam Dagga

Mariam Abu Dagga lahir dan besar di Khan Younis, Gaza. Ia menempuh pendidikan jurnalistik di Universitas Al-Aqsa dan mulai berkarier sebagai jurnalis foto sejak 2015. Dagga menjadi salah satu dari sedikit jurnalis perempuan yang aktif meliput konflik di wilayah tersebut. Ia dikenal sebagai fotografer lepas yang sering bekerja untuk The Associated Press (AP) dan sejumlah media internasional lainnya.

Fokus utama karya Mariam adalah mengabadikan kehidupan warga sipil Palestina yang terdampak perang, termasuk keluarga yang kehilangan tempat tinggal, antrean bantuan yang panjang, suasana duka di pemakaman, serta dokter dan tenaga medis yang berjuang merawat anak-anak terluka dan kekurangan gizi. Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menjadi lokasi favoritnya dalam melakukan peliputan.

Penghormatan dari Rekan Kerja dan Organisasi

Julie Pace, Pemimpin Redaksi sekaligus Wakil Presiden Senior AP, menyatakan bahwa Mariam bekerja dalam kondisi yang sangat sulit untuk menyampaikan kisah dari Gaza ke seluruh dunia, dengan perhatian khusus pada dampak perang terhadap anak-anak. Rekan-rekan jurnalis menggambarkan Mariam sebagai sosok yang gigih, penuh dedikasi, serta sangat menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

Sarah El Deeb, reporter AP yang berlokasi di Beirut, mengatakan bahwa Mariam selalu siap melakukan liputan meski di tengah kekejaman perang, dengan kesabaran dan kemampuan tinggi untuk menangkap realitas pahit warga Gaza. Sementara itu, Adhwan Alahmari, editor di Independent Arabia, mengutuk serangan yang menewaskan Mariam sebagai pelanggaran hukum internasional yang terang-terangan.

Kehidupan Pribadi dan Komitmen Mariam Dagga

Di luar profesinya, Mariam dikenal sebagai sosok yang hangat dan penuh perhatian, terutama terhadap putranya yang kini berusia 13 tahun dan tinggal di Uni Emirat Arab bersama ayahnya sejak awal konflik. Rekan-rekannya menceritakan bahwa Mariam sering berbicara lewat telepon dengan sang anak, yang sempat ingin kembali ke Gaza agar bisa bersama ibunya.

Dalam surat wasiat yang dititipkan kepada sahabat dekat, Mariam menuliskan pesan penuh kasih untuk putranya agar selalu mengingat bahwa ibunya telah berjuang demi kebahagiaan dan ketenangan hidupnya. Sama halnya, adiknya, Nada Dagga, mengungkapkan bahwa Mariam pernah mendonorkan ginjalnya untuk ayah mereka sebagai bukti kepedulian dan pengorbanannya.

Meskipun selama perang Mariam terpaksa berpindah-pindah tempat akibat konflik, ia tidak pernah meninggalkan tugas jurnalistiknya. Kiprahnya mendapat pengakuan berupa penghargaan internal dari AP atas laporan fotografinya mengenai anak-anak yang menghadapi kekurangan gizi di Gaza.

Kondisi Berbahaya bagi Jurnalis di Wilayah Konflik

Perang Israel-Hamas menjadi salah satu konflik paling mematikan bagi pekerja media. Menurut Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), setidaknya 189 jurnalis Palestina telah tewas akibat serangan Israel selama 22 bulan terakhir, sebuah angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah jurnalis yang meninggal dalam perang Rusia-Ukraina, yaitu sebanyak 18 orang.

Dalam sebuah wawancara pada April lalu dengan laman Eye on Palestine, Mariam menyerukan komunitas internasional agar memberikan perlindungan terhadap jurnalis di Gaza serta membantu mengakhiri konflik yang terus berkepanjangan. Ia berulang kali menegaskan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman di Gaza selama serangan udara terjadi secara terus-menerus.

Ungkapan terakhirnya menggambarkan betapa sulitnya hidup di wilayah tersebut: “Setiap tempat berbahaya, terkena serangan udara … Di setiap rumah ada sebuah kisah. Di setiap rumah ada yang ditahan. Di setiap rumah ada penderitaan.”

Kepergian Mariam Dagga bukan hanya kehilangan pribadi bagi keluarga dan rekan kerja, namun juga menjadi pengingat keras terhadap risiko yang harus dihadapi oleh para jurnalis yang berani membawa kisah-kisah kemanusiaan di tengah situasi konflik bersenjata yang penuh bahaya.

Berita Terkait

Back to top button