Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS berhasil menghancurkan sebuah kapal pengangkut narkoba di perairan Karibia selatan yang baru saja berangkat dari Venezuela. Dalam operasi militer tersebut, 11 orang dilaporkan tewas. Trump menyatakan kapal itu dikendalikan oleh geng kriminal Tren de Aragua, sebuah organisasi narkotika yang aktif di wilayah tersebut.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, melalui akun media sosialnya menyebutkan bahwa kapal tersebut dioperasikan oleh jaringan narkoba yang berbahaya. Ia mempertegas bahwa serangan yang dilakukan Angkatan Laut AS bersifat fatal dan sebagai bagian dari upaya memperkuat perang melawan perdagangan narkotika di kawasan Amerika Latin.
Penambahan Keberadaan Armada Laut AS
Serangan itu menjadi bagian dari langkah intensifikasi kehadiran militer AS di sekitar perairan Venezuela. Dalam beberapa minggu terakhir, Amerika Serikat telah menempatkan sekitar 4.500 personel militer di kawasan Karibia dengan tujuan memutus jalur distribusi kokain ke dalam wilayah Amerika Serikat. Walaupun demikian, pemerintah AS belum mengumumkan rencana serangan darat di wilayah Venezuela.
Trump menyatakan bahwa operasi tersebut berhasil melumpuhkan kapal dengan muatan narkoba dalam jumlah besar. Ia juga memberikan peringatan tegas bagi siapa saja yang mencoba menyelundupkan narkoba ke wilayah AS akan menghadapi konsekuensi serupa.
Reaksi dari Pemerintah Venezuela
Menanggapi insiden tersebut, Presiden Venezuela Nicolás Maduro memerintahkan pengerahan pasukan di sepanjang pantai dan perbatasan dengan Kolombia. Maduro juga menyerukan kepada warga negaranya untuk bergabung dengan milisi sipil demi memperkuat pertahanan nasional. Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, menegaskan bahwa Venezuela siap menghadapi segala bentuk serangan militer dari Amerika Serikat.
Maduro mengutuk tindakan Washington tersebut sebagai sebuah ancaman yang berlebihan, tidak bermoral, dan tindakan kriminal yang merusak kedaulatan negaranya. Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025 lalu.
Tanggapan dari Negara-Negara Tetangga
Selain Venezuela, negara-negara tetangga seperti Meksiko dan Kolombia juga mengekspresikan keprihatinan atas tindakan militer AS di kawasan Karibia. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Kolombia Gustavo Petro menyatakan bahwa intervensi tersebut berpotensi memperburuk ketegangan regional. Mereka menyerukan agar penyelesaian masalah narkoba dilakukan dengan pendekatan yang lebih diplomatis dan menghindari konfrontasi militer.
Sementara itu, dalam dinamika politik lainnya, mantan penasihat keamanan nasional AS, Michael Flynn, mendukung langkah keras dengan menyerukan agar rezim Maduro digulingkan dan kelompok kriminal di Venezuela dihapuskan agar negara tersebut dapat “dibuat hebat kembali.”
Potensi Konflik dan Langkah Selanjutnya
Hingga saat ini, belum jelas apakah Angkatan Laut AS akan melanjutkan operasi militer lebih jauh terhadap Venezuela di masa mendatang. Donald Trump menjanjikan akan memberikan informasi tambahan mengenai rincian serangan ini dalam waktu dekat. Serangan tersebut menjadi sinyal tegas bagi Washington dalam memperketat operasi pemberantasan narkoba di kawasan, sekaligus menunjukkan ketegangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Dengan situasi yang semakin kompleks di kawasan Karibia, perkembangan terbaru ini menjadi pusat perhatian dunia internasional, mengingat potensi dampak lebih luas terhadap stabilitas kawasan dan hubungan bilateral antara AS dan negara-negara Amerika Latin.





