Rusia melancarkan serangan udara terbesar sejak awal invasi ke Ukraina, menimbulkan kerusakan parah di ibukota Kyiv sekaligus menewaskan beberapa warga sipil, termasuk seorang bayi. Serangan pada Minggu (7/9) ini menyebabkan gedung utama pemerintah di Kyiv terbakar hebat dan mencatat kerusakan struktur yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak konflik dimulai pada Februari 2022.
Kerusakan pada Gedung Pemerintah Kyiv
Perdana Menteri Ukraina, Yulia Svyrydenko, melalui akun Telegram resmi menyatakan bahwa untuk kali pertama gedung pemerintahan mengalami kerusakan berarti akibat serangan udara. Atap dan lantai atas gedung tersebut terbakar, menimbulkan kepulan asap tebal yang terlihat jelas setelah matahari terbit di distrik Pecherskyi, pusat administratif kota.
Seorang saksi mata melaporkan bahwa api yang membakar bagian atas gedung masih terus dipadamkan oleh tim penyelamat saat dia melaporkan kejadian tersebut. “Tim penyelamat sedang bekerja keras memadamkan api,” ungkap saksi.
Serangan Drone Terbesar Menyerang Kyiv
Menurut laporan Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan serangan besar-besaran berupa 805 unit drone dan 13 rudal dalam satu malam, menandai serangan drone terbesar sejak konflik penuh ini dimulai. Sistem pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh 751 drone dan empat rudal, meskipun puluhan serangan drone berhasil mencapai sasaran dan menimbulkan kerusakan fatal.
Di distrik Darnytskyi, puing-puing reruntuhan apartemen empat lantai menjadi saksi tragedi dimana jasad seorang bayi dan seorang wanita muda ditemukan oleh tim pencari. Pejabat darurat setempat melaporkan sedikitnya 18 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut, sebagian di antaranya berada di tempat perlindungan bom yang seharusnya aman.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengkonfirmasi kematian seorang wanita tua yang tertimpa reruntuhan di lokasi penampungan. Sementara itu, seorang wanita hamil termasuk di antara para korban luka-luka yang mendapat perawatan medis.
Kebakaran Akibat Puing Drone
Serangan juga menyebabkan kebakaran parah di distrik barat Sviatoshynskyi, di mana puing-puing drone yang jatuh memicu api di apartemen tinggi 16 lantai dan dua gedung lain yang masing-masing berdiri sembilan lantai. Beberapa bagian bangunan mengalami keruntuhan bagian, sementara fasad gedung rusak berat. Foto-foto yang diunggah oleh petugas darurat menunjukkan tingkat kehancuran yang signifikan di lokasi kejadian.
Yulia Svyrydenko menekankan bahwa serangan ini memperlihatkan kebutuhan mendesak Ukraina akan dukungan militer internasional tambahan. “Kami akan membangun kembali gedung-gedung itu. Namun, nyawa yang hilang tidak bisa dikembalikan. Musuh terus meneror dan membunuh rakyat kami setiap hari,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Administrator Militer Kyiv, Mykola Tkachenko, menuduh Rusia melakukan serangan yang sengaja menyasar warga sipil. “Rusia dengan penuh kesadaran menyerang target sipil,” tulisnya dalam sebuah pernyataan resmi di Telegram.
Dampak Serangan di Kota Lain dan Tanggapan NATO
Selain Kyiv, kota lain di Ukraina juga terkena imbas serangan udara ini. Di Kremenchuk, serangkaian ledakan merusak jembatan vital di atas Sungai Dnipro serta memutus aliran listrik di beberapa wilayah. Kota Kryvyi Rih juga mengalami kerusakan infrastruktur penting walaupun tidak ada korban jiwa. Sedangkan di Odesa, sejumlah blok apartemen dan fasilitas sipil rusak parah setelah terjadi kebakaran akibat serangan.
Mengantisipasi eskalasi ancaman serangan udara yang meluas hingga wilayah barat Ukraina, Polandia mengambil langkah dengan mengaktifkan patroli pesawat tempur bersama negara-negara sekutu NATO di wilayah udara mereka. Komando Operasional Angkatan Bersenjata Polandia mengkonfirmasi pengamanan bersama tersebut sebagai respon strategis atas ketidakstabilan situasi di kawasan tersebut.
Serangan udara skala besar ini menjadi titik kritis terbaru dalam konflik yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun, memicu kekhawatiran internasional terhadap eskalasi kekerasan yang dapat memperluas jangkauan dan intensitas pertempuran di kawasan Eropa Timur. Ukraina terus menyerukan bantuan militer dari komunitas global guna mempertahankan pertahanan terhadap serangan yang semakin masif dan merusak.





