Jet Tempur NATO Dikerahkan, Rusia Serang Ukraina Pakai Ratusan Drone dan Rudal

NATO menanggapi serangan udara besar-besaran oleh Rusia ke Ukraina dengan mengerahkan jet tempur di wilayah udara Polandia pada Rabu pagi (10/9). Langkah ini menyusul serangan menggunakan ratusan drone dan puluhan rudal yang dilancarkan Rusia dalam serangan semalam.

Menurut Komando Operasional Polandia, sejumlah pesawat Polandia dan sekutu mulai beroperasi di wilayah udaranya sejak pagi hari. Sementara itu, Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia meluncurkan 502 drone serang dan umpan serta 24 rudal selama serangan tersebut. Ledakan terdengar di berbagai daerah Ukraina barat seperti Lviv, Ivano-Frankivsk, Khmelnytskyi, dan Lutsk, yang semuanya berada dekat perbatasan dengan Polandia.

Serangan Drone dan Rudal Rusia

Ratusan drone yang diterjunkan Rusia dalam serangan ini merujuk pada kombinasi drone serang dan drone umpan yang didesain untuk membebani sistem pertahanan udara Ukraina. Serangan ini menandai eskalasi agresi udara dari Rusia dengan target meliputi fasilitas penting dan pusat pemerintahan di negara tersebut. Ledakan di wilayah barat Ukraina menjadi indikasi signifikan terhadap dampak serangan yang cukup masif dan terkoordinasi.

Komponen Asing dalam Rudal Rusia

Tidak hanya serangan yang intensif, Ukraina juga mengungkap fakta penting mengenai rudal jelajah Rusia yang menghantam gedung pemerintahan di Kyiv pekan lalu. Rudal Iskander 9M727 tersebut ditemukan mengandung puluhan komponen elektronik produksi negara-negara Barat, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Swiss. Foto dan daftar komponen ini dirilis oleh Vladyslav Vlasiuk, Komisioner Presiden Ukraina untuk Kebijakan Sanksi.

Ditemukan sekitar 35 suku cadang buatan perusahaan-perusahaan Amerika seperti Texas Instruments, Analog Devices, dan Altera, yang diproduksi berbagai tahun baik sebelum maupun setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Detail ini memperlihatkan bahwa meskipun ada embargo dan sanksi ketat dari negara Barat, komponen elektronik canggih masih berhasil masuk ke dalam perlengkapan militer Rusia.

Celah Sanksi dan Perdagangan Tidak Resmi

Negara-negara Barat sudah mengambil langkah-langkah keras dengan melarang ekspor komponen teknologi tinggi ke Rusia, namun Moskow tampaknya memanfaatkan jalur perdagangan tidak resmi melalui negara ketiga seperti Tiongkok dan Kazakhstan untuk mendapatkan suku cadang yang dibutuhkan.

Perusahaan Jerman Infineon Technologies mengklaim telah menghentikan semua pengiriman chip secara langsung maupun tidak langsung ke Rusia. Namun mereka mengakui adanya kesulitan dalam pengendalian distribusi karena produksi chip yang sangat besar setiap tahunnya. Begitu juga perusahaan Texas Instruments memastikan sejak Februari 2022 mereka berhenti menjual produknya ke Rusia dan Belarus, menekankan bahwa chip yang ditemukan di Rusia kemungkinan besar masuk melalui jalur ilegal.

Pengaruh Temuan Komponen Terhadap Kebijakan Sanksi

Menurut Vlasiuk, meskipun rudal terbaru masih memakai puluhan komponen Barat, jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan temuan sebelumnya. Sebagian besar suku cadang sekarang berasal dari produksi Rusia dan Belarus. Pemerintah Ukraina telah melaporkan hasil temuan ini kepada sekutu internasional guna memperkuat kebijakan sanksi dan menutup celah perdagangan komponen kritis tersebut.

Mayoritas komponen yang ditemukan merupakan produk dual-use, yang awalnya didesain untuk peralatan sipil seperti elektronik rumah tangga dan gadget pintar, namun kemudian disalahgunakan untuk pengembangan senjata canggih seperti bom terpandu, rudal, dan drone militer.

Langkah NATO mengerahkan jet tempur dan pelaporan detil komponen asing dalam rudal Rusia menjadi sinyal kuat sebuah konflik udara dan teknologi yang terus berkembang. Ini juga memperlihatkan betapa kompleksnya perang modern yang melibatkan kampanye udara, teknologi canggih, dan diplomasi sanksi dalam konflik yang berkepanjangan di wilayah Eropa Timur.

Berita Terkait

Back to top button