Korsel, AS, dan Jepang Gelar Latihan Militer Gabungan di Pulau Jeju 2024

Korea Selatan (Korsel), Amerika Serikat (AS), dan Jepang mulai menggelar latihan militer gabungan yang melibatkan angkatan laut dan angkatan udara di perairan sekitar Pulau Jeju, Korsel pada Senin (15/9/2025). Latihan yang dinamakan Freedom Edge ini bertujuan untuk memperkuat interoperabilitas pasukan ketiga negara serta kesiapan menghadapi ancaman nuklir dan rudal balistik dari Korea Utara.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan bahwa latihan ini meliputi operasi bersama di laut, udara, serta dunia maya, sebagai upaya strategis guna meningkatkan kemampuan respons terhadap eskalasi situasi militer di Semenanjung Korea. “Latihan Freedom Edge menunjukkan komitmen kami dalam memperkokoh kerja sama pertahanan trilateral yang canggih dan relevan dengan konteks keamanan regional saat ini,” ujar perwakilan kementerian tersebut.

Menurut Komando Indo-Pasifik AS, operasi bersama ini akan berlangsung hingga Jumat (19/9/2025) dengan berbagai skenario latihan yang mencakup:

1. Latihan operasi rudal balistik dan pertahanan udara.
2. Simulasi evakuasi medis di medan tempur.
3. Latihan operasi maritim gabungan menggunakan aset udara dan laut dari ketiga negara.

Menurut penjelasan Komando Indo-Pasifik, kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk demonstrasi nyata atas sinergi pertahanan trilateral yang semakin diperkuat demi mengatasi ancaman militer dari Korea Utara yang kian kompleks.

Meski mendapat dukungan dari Korsel, AS, dan Jepang, latihan gabungan ini mendapat kecaman keras dari Korut. Kim Yo Jong, saudara perempuan sekaligus penasihat utama pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menyebut latihan tersebut sebagai tindakan provokatif dan konfrontatif. Ia menilai latihan militer ini merupakan “pertunjukan kekuatan yang sembrono dan gegabah” yang akan membawa konsekuensi buruk bagi ketiga negara tersebut. Pernyataan ini menegaskan ketegangan yang terus berlanjut antara Korea Utara dengan aliansi militer regional yang dipimpin Korsel, AS, dan Jepang.

Latihan Freedom Edge menjadi bagian dari sejumlah latihan militer gabungan yang rutin dilakukan, namun agenda pada tahun ini diperluas dengan penekanan pada ancaman superioritas teknologi rudal balistik dan penggunaan dunia maya dalam skenario perang modern. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya pengujian senjata strategis oleh Korea Utara yang memicu kekhawatiran global akan potensi konflik besar di kawasan.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menegaskan komitmen kedua negara dalam meningkatkan kerja sama pertahanan bilateral dan trilateral dengan Jepang. Dalam pertemuan bilateral di Gedung Putih pada Agustus 2025, kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat posisi militer dan diplomasi guna meredam ketegangan yang timbul akibat aktivitas militer Korea Utara.

Pulau Jeju dipilih sebagai lokasi latihan bersama karena posisi strategisnya di lepas pantai barat daya Korsel, memungkinkan simulasi operasi maritim dan udara secara optimal di perairan yang menjadi jalur penting bagi aktivitas militer dan perdagangan regional. Keberadaan pangkalan militer modern di Pulau Jeju memfasilitasi pengerahan alutsista canggih untuk latihan gabungan ini.

Beberapa ahli keamanan regional memandang latihan Freedom Edge sebagai sinyal kuat bagi Korut dan negara lain bahwa aliansi pertahanan trilateral Korsel, AS, dan Jepang tetap solid meski ada tekanan politik dan protes dari Pyongyang. Mereka menilai bahwa kerja sama ketiga negara di bidang militer tidak hanya penting untuk mengantisipasi ancaman rudal Korea Utara, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi strategis untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan kekuatan di Asia Timur.

Reaksi Korea Utara melalui Kim Yo Jong yang menolak latihan ini dan menyamakan sebagai aksi pamer kekuatan menegaskan sensitivitas yang sangat tinggi di kawasan. Namun, AS, Korsel, dan Jepang menegaskan latihan tersebut murni bersifat defensif dan bertujuan menjaga perdamaian serta mencegah perkembangan senjata nuklir yang semakin mengancam.

Latihan militer gabungan ini menjadi bukti nyata keberlanjutan kerja sama pertahanan antara tiga negara demokrasi utama di kawasan Asia-Pasifik dengan agenda memperkuat kehadiran militer untuk menghadapi ancaman dari rezim yang dinilai agresif dan tidak stabil. Dalam konteks geopolitik yang tengah dinamis, latihan Freedom Edge mencerminkan kesiapan dan solidaritas militer guna menjaga keamanan dan ketertiban di kawasan yang berpotensi menimbulkan konflik bersenjata yang lebih luas.

Berita Terkait

Back to top button