Israel Perang Darat di Kota Gaza, Trump Peringatkan Hamas Soal Sandera

Israel telah memulai operasi darat besar-besaran di Kota Gaza setelah beberapa hari melancarkan serangan udara intensif. Langkah ini dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dengan tujuan utama menghancurkan unit Hamas yang masih bertahan di pusat Kota Gaza. Informasi ini berasal dari seorang pejabat Israel yang tidak bersedia menyebutkan namanya kepada media AS Axios pada Senin, 15 September 2025.

Penggunaan Kekuatan Darat dan Udara secara Bersamaan

Dalam operasi ini, IDF mengerahkan tank dan kendaraan lapis baja ke berbagai wilayah di Gaza yang sebelumnya sudah mengalami gempuran serangan udara masif. Serangan darat dan udara yang digelar secara simultan menandai eskalasi serius dalam konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun antara Israel dan Hamas. Meski demikian, hingga kini Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai operasi darat tersebut.

Peringatan Donald Trump Kepada Hamas

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan peringatan keras kepada Hamas terkait sandera yang mereka pegang. Trump mengimbau agar Hamas tidak menyakiti sandera yang mereka tahan dan menegaskan konsekuensi serius jika hal tersebut terjadi. “Saya harap para pemimpin Hamas memahami konsekuensi jika mereka melakukan itu. Jangan biarkan hal itu terjadi, atau semua komitmen akan batal. Bebaskan semua sandera segera,” tegas Trump secara terbuka.

Kekhawatiran atas Krisis Kemanusiaan

Operasi darat di Kota Gaza menimbulkan kekhawatiran dunia internasional mengenai potensi ekonomi dan kemanusiaan di wilayah yang padat penduduk itu. Gaza dihuni lebih dari dua juta orang yang kini menghadapi risiko tinggi atas korban sipil akibat serangan militer. Beberapa pejabat senior Israel sendiri, termasuk Komandan IDF Eyal Zamir serta pimpinan dinas intelijen Mossad dan Shin Bet, dilaporkan sudah mengingatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu perihal risiko besar yang menyertai operasi darat ini.

Mereka memperingatkan kemungkinan tinggi terjadinya korban sipil, bahaya terhadap keselamatan para sandera, serta dampak serius jika Israel harus mengambil alih pemerintahan militer penuh atas Gaza yang sempit dan padat penduduk.

Dukungan dan Syarat dari Amerika Serikat

Di sisi lain, dukungan datang dari beberapa pejabat Amerika Serikat, khususnya Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Ia menuturkan bahwa pemerintahan Amerika mendukung operasi Israel asalkan berlangsung cepat dan tuntas. “Ini bukan perang Trump, ini perang Netanyahu. Dialah yang akan memutuskan apa yang akan terjadi selanjutnya,” ujar seorang pejabat AS yang dikutip media terkait.

Latar Belakang Konflik Terkini

Konflik Israel-Palestina kembali memuncak setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di wilayah Israel selatan. Serangan tersebut menewaskan sekitar 1.219 orang, kebanyakan adalah warga sipil, dan menyebabkan penculikan 251 sandera. Dari jumlah itu, sekitar 47 sandera masih berada di Gaza, dengan sekitar 20 diyakini masih hidup.

Balasan dari Israel atas serangan tersebut tergolong besar. Sejak itu, serangan Israel telah menewaskan hampir 65.000 warga Palestina, kebanyakan warga sipil. Meski Hamas sempat menyetujui usulan gencatan senjata sementara yang mengikutsertakan pembebasan sandera secara bertahap, Israel menolak tawaran tersebut. Israel menuntut pembebasan seluruh sandera secara serentak, pelucutan senjata Hamas, serta pengambilalihan penuh kendali atas Jalur Gaza.

Dampak Internasional

Konflik yang semakin memanas ini mendapat perhatian luas dari komunitas dunia. Banyak negara dan organisasi internasional menyerukan berhentinya kekerasan dan mengingatkan risiko yang dihadapi warga sipil di Gaza. Sebagian pihak juga menyoroti keputusan Spanyol yang membatalkan kontrak senjata dengan Israel senilai Rp 11,9 triliun akibat eskalasi konflik di Gaza.

Karena situasi yang dinamis dan sangat kompleks ini, berbagai upaya diplomatik terus dipantau secara ketat oleh dunia guna menghindari penderitaan lebih lanjut dan mencari solusi menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Berita Terkait

Back to top button