Seorang pria berusia 41 tahun di Amerika Serikat tercatat mengalami infeksi aktif Covid-19 selama lebih dari 750 hari atau sekitar dua tahun lebih. Kasus ini menjadi perhatian para pakar kesehatan karena menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat bertahan dan bereplikasi terus-menerus di dalam tubuh manusia untuk jangka waktu yang sangat panjang.
Pria tersebut memiliki riwayat HIV, yang membuat sistem imunnya sangat lemah. Kondisi medis ini menyebabkan jumlah sel T pembantu dalam darahnya hanya 35 sel per mikroliter, jauh di bawah kisaran normal antara 500 hingga 1.500 sel per mikroliter. Imunitas yang sangat rendah itu diduga menjadi faktor utama mengapa virus Covid-19 mampu bertahan lebih dari dua tahun dalam tubuhnya. Selama masa infeksi panjang ini, pasien mengalami gejala pernapasan yang menetap serta harus menjalani rawat inap sebanyak lima kali karena kondisi kesehatannya memburuk.
Berbeda dengan kasus long Covid atau Covid berkepanjangan yang ditandai oleh gejala residual tanpa adanya virus aktif, pada kasus ini virus SARS-CoV-2 masih tetap aktif dan terus berproliferasi. Hal ini menunjukkan bahwa virus benar-benar mampu bertahan hidup sangat lama dalam tubuh inang dengan imunitas yang terganggu.
Potensi Evolusi Virus dari Infeksi Persisten
Ahli epidemiologi dari Universitas Harvard, William Hanage, menekankan pentingnya memperhatikan kasus infeksi persisten seperti ini. Ia mengingatkan bahwa virus yang bertahan lama di dalam tubuh dapat berpotensi mengalami mutasi dan beradaptasi menjadi varian baru yang lebih efisien dalam menginfeksi sel manusia. “Infeksi jangka panjang memungkinkan virus mengeksplorasi cara menginfeksi sel secara lebih efisien. Hal ini memperkuat bukti bahwa varian yang lebih mudah menular dapat muncul dari infeksi semacam itu,” ujar William Hanage.
Studi terbaru yang dilakukan oleh tim dari Universitas Boston juga menemukan bahwa virus pada pasien tersebut mengalami mutasi dengan laju yang serupa dengan varian yang beredar di masyarakat umum. Analisis genetik menunjukkan sejumlah mutasi terjadi pada protein spike virus, termasuk mutasi yang biasa ditemukan pada varian Omicron. Temuan ini menguatkan teori bahwa varian-varian baru Covid-19 dapat berasal dari tekanan seleksi yang terjadi saat virus beradaptasi di dalam tubuh manusia dengan imunitas lemah.
Meskipun virus tersebut tetap aktif dalam tubuh pasien, para peneliti tidak menemukan indikasi bahwa virus tersebut menular ke orang lain. Hal ini mungkin karena virus mengalami penurunan kemampuan penularan setelah beradaptasi pada satu inang. Namun, para ahli tetap mengingatkan bahwa kasus lain dengan infeksi jangka panjang mungkin saja menghasilkan varian baru yang tetap bisa menyebar.
Imbas Kesehatan dan Kebutuhan Penanganan Khusus
Kasus ini menunjukkan risiko serius yang dihadapi oleh individu dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV. Lemahnya imunitas membuka peluang bagi virus untuk bertahan dalam waktu lama dan terus bermutasi. Ini sekaligus memperkuat urgensi akses layanan kesehatan yang optimal dan terapi yang tepat bagi kelompok rentan agar infeksi bisa ditangani segera dan mencegah terjadinya adaptasi virus yang berbahaya.
William Hanage menegaskan bahwa penanganan infeksi persisten harus menjadi prioritas dalam kesehatan masyarakat. Hanya dengan pemantauan ketat serta pendekatan medis yang inklusif, risiko pembentukan varian baru dari infeksi berkepanjangan bisa diminimalkan. Selain itu, ketersediaan terapi antiretroviral dan fasilitas kesehatan yang layak bagi pasien HIV juga sangat dibutuhkan untuk mendukung sistem kekebalan mereka agar lebih mampu melawan infeksi Covid-19.
Pentingnya Pengawasan dan Penelitian Lanjutan
Kasus pria AS yang bertahan mengalami infeksi Covid-19 selama lebih dari 750 hari ini menjadi peringatan global akan potensi ancaman dari Covid-19 yang belum sepenuhnya selesai. Terlebih, kasus ini juga memberikan wawasan baru bagaimana virus SARS-CoV-2 dapat bertahan, berevolusi, dan beradaptasi dalam kondisi tertentu. Oleh karena itu, peneliti dan otoritas kesehatan terus mendorong perlunya pengawasan jangka panjang serta penelitian mendalam pada kelompok pasien dengan risiko tinggi infeksi persisten.
Kewaspadaan ini penting untuk mencegah kemunculan varian baru yang bisa menggagalkan upaya pengendalian pandemi. Data dari kasus ini juga mendukung pengembangan strategi vaksinasi dan terapi yang lebih efektif, khususnya untuk pasien dengan imunodefisiensi. Penguatan sistem kesehatan, akses layanan yang merata, serta edukasi publik pun menjadi bagian penting dari upaya pencegahan infeksi persisten yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat secara luas.





