Israel Murka Saat Inggris Pimpin Barat Akui Negara Palestina, Ketegangan Meningkat

Israel menunjukkan kemarahan yang mendalam setelah Inggris secara resmi mengakui negara Palestina, sebuah langkah bersejarah yang juga diikuti oleh Australia dan Kanada. Pengakuan ini menjadi tekanan diplomatik signifikan terhadap Tel Aviv dan berpotensi mengubah arah solusi dua negara yang selama ini menjadi harapan penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Pengakuan Palestina oleh Inggris dan Negara Barat

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengumumkan pengakuan negara Palestina, menandai kali pertama kekuatan Barat yang pernah menguasai kawasan Mandat Palestina secara resmi mengakui kenegaraan Palestina sejak Perang Dunia I. Langkah ini disambut sebagai terobosan penting dalam diplomasi internasional, terutama karena diikuti pula oleh Australia dan Kanada, yang memberikan kesan sebagai inisiatif terkoordinasi dari negara-negara Barat.

Keputusan Inggris ini bertepatan dengan sidang khusus Majelis Umum PBB yang dipimpin oleh Prancis dan Arab Saudi. Forum tersebut kembali menegaskan pentingnya solusi dua negara sebagai jalan realistis untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung puluhan tahun. Sejumlah negara Eropa lain seperti Prancis, Belgia, Luksemburg, dan Malta juga menyatakan komitmen mereka untuk mendukung pengakuan Palestina, bergabung dengan lebih dari 145 negara anggota PBB yang sebelumnya telah mengakui keberadaan negara Palestina.

Reaksi Keras dari Israel

Pengumuman pengakuan ini memicu reaksi keras dari berbagai tokoh politik Israel lintas spektrum. Menteri Keamanan Nasional Israel dari kubu sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengecam keputusan tersebut sebagai “hadiah bagi teroris” dan mendesak langkah segera untuk menganeksasi wilayah Tepi Barat yang diduduki. Hal ini menandakan eskalasi sikap keras dari pemerintah Israel terhadap langkah diplomatik Barat.

Selain itu, kelompok keluarga sandera di Tel Aviv juga mengutuk pengakuan tanpa syarat terhadap Palestina. Mereka menyatakan bahwa langkah tersebut mengesampingkan nasib puluhan warga Israel yang masih ditahan oleh Hamas, memperumit upaya pembebasan. Tokoh oposisi seperti Benny Gantz juga menyuarakan keprihatinan yang serupa, menilai pengakuan ini justru dapat memperkuat posisi Hamas dan memperpanjang konflik yang bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Namun, tidak semua politisi Israel menentang langkah ini. Anggota parlemen sayap kiri, Ofer Cassif, memberikan perspektif berbeda dengan menyambut baik pengakuan Palestina. Ia menilai bahwa pengakuan tersebut merupakan langkah awal yang krusial untuk membuka jalan menuju perdamaian dan solusi jangka panjang. Cassif menambahkan bahwa pengakuan simbulik ini harus disertai tindakan konkrit, seperti embargo senjata, agar berkontribusi pada stabilitas kawasan.

Dinamika Politik dan Militer yang Makin Kompleks

Deklarasi Inggris terjadi pada masa krisis militer yang mendalam di Gaza. Israel baru saja mengerahkan divisi ketiga dalam operasi militer yang dinamakan “Gideon’s Chariots B”, sebuah serangan yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan memperparah krisis kemanusiaan. Sementara itu, pemerintah sayap kanan Israel melanjutkan ekspansi permukiman di Tepi Barat. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bahkan mengusulkan untuk mencaplok hingga 82 persen wilayah Tepi Barat, sebuah langkah yang secara resmi ditolak oleh Perdana Menteri Netanyahu yang tetap menolak keberadaan negara Palestina sebagai entitas yang sah.

Peluang dan Tantangan Diplomasi Internasional

Bagi sebagian pengamat, pengakuan Palestina oleh Inggris, Australia, dan Kanada mungkin terlihat lebih sebagai simbol politik daripada perubahan nyata di lapangan. Namun, simbol ini dianggap sangat penting karena menandai babak baru dalam tekanan diplomatik terhadap Israel. Semakin banyak negara Barat yang mengakui Palestina, semakin besar pula tekanan internasional yang dihadapi Tel Aviv, yang bisa memaksa perubahan sikap terkait konflik.

Langkah ini juga memiliki efek ganda; di satu sisi membuka peluang diplomatik untuk memperkuat solusi dua negara, namun di sisi lain berpotensi memperdalam jurang perpecahan diplomatik antara Israel dan komunitas global yang selama ini mencoba meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Secara keseluruhan, pengakuan negara Palestina oleh Inggris dan sekutunya menjadi sorotan global yang akan terus memengaruhi dinamika politik dan militer di kawasan. Bagaimana pengakuan ini akan berdampak pada proses perdamaian dan konflik di masa mendatang masih menjadi perhatian utama komunitas internasional.

Berita Terkait

Back to top button