Trump Blak-blakan Tuduh China dan India Biayai Rusia Perang di Ukraina

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menuduh China dan India sebagai penyandang dana utama perang yang sedang terjadi di Ukraina. Pernyataan ini disampaikan oleh Trump saat berpidato dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa, 23 September 2025. Ia menyoroti bahwa kedua negara tersebut terus membeli minyak dari Rusia, sehingga secara tidak langsung mendukung finansial konflik bersenjata di wilayah Eropa Timur tersebut.

Trump menegaskan bahwa tindakan China dan India membeli energi dari Rusia sangat tidak bisa dimaafkan, bahkan dibandingkan dengan negara-negara anggota NATO yang menurutnya juga kurang tegas dalam menghentikan pembelian komoditas ini. Dalam pidatonya yang berdurasi hampir satu jam tersebut, mantan Presiden AS ini menyebut bahwa "China dan India adalah penyandang dana utama perang yang sedang berlangsung, dengan terus membeli minyak Rusia." Pernyataan tersebut dikutip dari laporan The Hindustan Times pada Kamis, 25 September 2025.

Sindiran Terhadap Negara-Negara Eropa dan PBB

Selain menyasar China dan India, Trump juga mengkritik negara-negara Eropa yang disebutnya munafik karena tetap membeli minyak dan gas dari Rusia meski secara politis mereka menentang kebijakan Rusia di Ukraina. "Negara-negara Eropa munafik karena membeli energi Rusia. Mereka membeli minyak dan gas dari Rusia sementara mereka berperang melawan Rusia," ujar Trump di hadapan 193 negara anggota Majelis Umum PBB.

Dalam pidato itu, Trump juga kembali menegaskan klaimnya sebagai sosok yang mampu menjadi perantara damai dalam konflik internasional ini. Ia menyuarakan dukungan atas pengendalian tingkat migrasi global dan mengkritik keras peranan PBB dalam mengelola konflik dunia, termasuk perang di Ukraina. Kritik tersebut menjadi sorotan utama di forum internasional, mengingat posisi AS sebagai salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Peringatan untuk Rusia

Tidak hanya menekankan peran China dan India, Trump juga menyampaikan peringatan kepada Rusia dan Presiden Vladimir Putin. Menurutnya, tekanan agar perang segera dihentikan harus terus dilayangkan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan terdalam yang terjadi di Eropa sejak Perang Dunia II. Namun, Putin sejauh ini tetap menolak permintaan tersebut, sehingga konflik berkepanjangan masih menjadi ancaman besar bagi stabilitas regional dan global.

Konteks Pembelian Minyak Rusia

China dan India selama ini terkenal sebagai konsumen energi dunia yang besar. Namun, dalam konteks sanksi internasional terhadap Rusia, pembelian minyak dan gas dari negara yang sedang berperang ini menjadi isu menjadi perhatian global. Banyak negara Barat yang mencoba mengurangi ketergantungan mereka terhadap sumber energi Rusia sebagai bentuk sanksi ekonomi, sementara China dan India memilih membeli minyak dengan diskon besar dari Rusia, yang dianggap memperkuat posisi keuangan Moskow.

Secara rinci, data perdagangan energi global menunjukkan bahwa China dan India adalah dua importir terbesar minyak Rusia, mengambil bagian signifikan dari ekspor minyak negara tersebut. Langkah ini dipandang oleh beberapa negara Barat sebagai bentuk dukungan tidak langsung terhadap upaya militer Rusia di Ukraina.

Reaksi Internasional

Pernyataan Trump memicu beragam reaksi dari kalangan politik dan pengamat internasional. Beberapa pihak menilai tuduhan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan pembuktian yang objektif dan analisis menyeluruh soal dampak ekonomi dari perdagangan energi antara Rusia dan China-India. Sementara itu, Beijing dan New Delhi sendiri hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi terhadap klaim yang dilontarkan oleh Presiden AS tersebut.

Pengamat hubungan internasional menilai, isu pembiayaan perang melalui pembelian minyak Rusia menambah kompleksitas dalam diplomasi global. Hal ini menunjukkan bagaimana perang di Ukraina tidak hanya konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, tapi juga mencakup sejumlah negara lain dalam jaringan ekonomi dan politik yang saling terkait.

Menghadapi Dampak Global Perang Ukraina

Perang di Ukraina yang telah memasuki tahun ketiga sejak invasi Rusia pada 2022 masih menjadi perhatian utama dunia. Dampaknya tidak hanya meluas pada keselamatan dan kemanusiaan, tetapi juga mengguncang pasar energi internasional. Ketegangan antara blok Barat dengan Rusia, serta peran negara-negara berkembang seperti China dan India, menuntut pendekatan diplomatik yang lebih cermat untuk meredam konflik.

Dalam forum PBB, tokoh-tokoh dunia terus mencari cara mengakhiri perang ini, termasuk melalui sanksi ekonomi, dialog politik, hingga upaya mediasi. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dinamika kepentingan ekonomi sering kali berkontribusi pada keberlanjutan konflik tersebut. Dengan tuduhan dari Donald Trump ini, perhatian dunia kembali tertuju pada bagaimana rantai pasokan energi global turut memainkan peran dalam mekanisme perang dan perdamaian.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan hubungan China dan India dengan Rusia dalam konteks energi dan geopolitik akan terus menjadi faktor penting dalam peta keamanan internasional. Keenam negara besar dunia yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, serta negara-negara lain yang memiliki pengaruh ekonomi, akan menjadi aktor kunci dalam mengelola krisis dan merumuskan solusi jangka panjang untuk konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.

Berita Terkait

Back to top button