Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump hari ini, Senin, 29 September 2025, di tengah situasi yang semakin rumit dan tekanan besar baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Pertemuan ini menjadi yang keempat kalinya dalam tahun ini bagi kedua pemimpin dan berlangsung saat Netanyahu menghadapi isolasi diplomatik yang kian meningkat serta tuntutan internasional untuk segera mengakhiri perang di Gaza.
Tekanan Internasional dan Situasi Terpojok Netanyahu
Netanyahu memasuki pertemuan dengan posisi yang terpojok. Beberapa negara Barat utama, termasuk Prancis dan Inggris, baru-baru ini memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel dan mengakui negara Palestina, menambah tekanan pada pemerintahannya. Di dalam negeri, puluhan ribu warga Israel juga turun ke jalan menuntut gencatan senjata dan pembebasan sandera yang dipegang oleh kelompok Hamas di Gaza.
Menurut Eytan Gilboa, pakar hubungan AS-Israel dari Universitas Bar-Ilan, Netanyahu hampir tidak punya pilihan lain selain menerima rencana gencatan senjata yang diajukan oleh Presiden Trump. “Hanya Amerika Serikat dan Trump yang menjadi sekutu utama Israel di komunitas internasional saat ini,” ujar Gilboa. Hal ini menunjukkan ketergantungan Netanyahu yang semakin besar pada dukungan AS di tengah isolasi global yang dialaminya.
Rencana 21 Poin Trump untuk Mengakhiri Perang Gaza
Presiden Donald Trump memperkenalkan rencana perdamaian baru berisi 21 poin yang diharapkan dapat menghentikan konflik di Gaza. Rencana ini diungkapkan Trump saat pertemuan dengan para pemimpin Arab dan Muslim dalam Sidang Umum PBB pekan lalu. Dalam sebuah unggahan media sosial, Trump bahkan menyampaikan optimisme tinggi dengan kata-kata: “KITA AKAN MENYELESAIKANNYA!!!”
Rencana tersebut antara lain menawarkan jalan potensial pembentukan negara Palestina di masa depan, sesuatu yang ditolak pemerintah Netanyahu secara keras. Netanyahu pada pidatonya di PBB menyamakan gagasan tersebut dengan memberikan Al-Qaeda sebuah negara dekat Kota New York setelah serangan 11 September, dan menegaskan Israel tidak akan pernah menerima hal itu.
Perbedaan Pandangan Antara Netanyahu dan Trump
Meski berkoordinasi dengan tim Presiden Trump dalam menyusun detail gencatan senjata, posisi Netanyahu dan AS tidak sepenuhnya sejalan. Netanyahu menolak peran Otoritas Palestina dalam pemerintahan Gaza pascaperang, sementara Trump membuka peluang Otoritas Palestina yang direformasi mengambil bagian dalam pengelolaan daerah tersebut.
Selain itu, kedua pemimpin juga berselisih soal rencana aneksasi sebagian Tepi Barat oleh Israel. Trump dengan tegas menolak ide itu, mengatakan kepada wartawan, “Saya tidak akan membiarkan Israel mencaplok Tepi Barat. Itu tidak akan terjadi.” Sementara sekutu Netanyahu dari kalangan sayap kanan ekstrem dan gerakan pemukim sangat mendukung aneksasi sebagai prioritas utama mereka.
Harapan dari Keluarga Sandera dan Suara Publik
Tekanan juga datang dari keluarga para sandera Israel yang masih ditahan di Gaza. Lishay Miran-Lavi, istri seorang tentara Israel yang disandera, menyatakan harapan agar Trump menggunakan pengaruhnya untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan pembebasan sandera. “Satu-satunya hal yang dapat menghentikan kemerosotan ke jurang adalah kesepakatan penuh dan komprehensif yang mengakhiri perang dan memulangkan semua sandera dan tentara,” ujarnya.
Demonstrasi menuntut segera diakhirinya perang serta pembebasan sandera terus berlangsung di berbagai kota di Israel, termasuk Yerusalem. Tekanan dari publik dan masyarakat internasional menandai situasi yang penuh dinamika dan ketegangan tinggi, yang harus dihadapi Netanyahu saat melakukan pembicaraan penting dengan Trump.
Konteks Pertemuan dan Implikasi Diplomatik
Pertemuan Netanyahu dan Trump ini tidak hanya berfokus pada upaya mengakhiri konflik di Gaza, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang terhadap masa depan politik Timur Tengah. Rencana Trump berpotensi mengubah peta politik kawasan dengan gagasan pembentukan negara Palestina yang ditolak Israel, serta menolak aneksasi Tepi Barat yang selama ini menjadi agenda pemimpin Israel.
Jika berhasil, rencana tersebut dapat membuka peluang perdamaian yang lebih luas dan mengurangi ketegangan di wilayah tersebut. Namun, ketegangan dalam kabinet Israel dan perbedaan sikap antara Netanyahu dan sayap kanan radikal menambah kompleksitas negosiasi.
Sementara itu, pengaruh diplomatik AS sebagai sekutu utama Israel menjadi faktor penentu bagi kelanjutan konflik dan kemungkinan gencatan senjata. Dengan demikian, hasil pertemuan ini akan menjadi penentu penting bagi arah baru hubungan bilateral dan upaya perdamaian Timur Tengah.
Src: https://www.viva.co.id/berita/dunia/1851342-netanyahu-bertemu-trump-hari-ini-dalam-kondisi-terpojok?page=all





