Demo besar-besaran yang melanda Madagaskar sejak akhir September 2025 memunculkan sejumlah fakta menarik yang mengundang perhatian dunia, terutama karena aksi tersebut dipimpin oleh generasi muda (Gen Z) dan menggunakan simbol unik seperti bendera bajak laut dari serial anime populer One Piece. Demonstrasi ini terjadi sebagai respons terhadap krisis listrik dan air yang berkepanjangan, serta adanya inspirasi dari gerakan protes serupa di Indonesia dan beberapa negara lain.
1. Pemicu Utama: Krisis Listrik dan Air
Protes yang dimulai pada 25 September 2025 ini berakar dari keluhan masyarakat, khususnya kaum muda, mengenai seringnya pemadaman listrik dan gangguan pasokan air yang berlarut-larut. Dalam konteks Madagaskar, hanya sekitar 36 persen penduduk yang memiliki akses listrik, sementara ekonomi negara secara keseluruhan terus memburuk. Dengan 75 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan dan tingkat korupsi yang sangat tinggi (posisi ke-140 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi), situasi ini semakin memperparah kemarahan rakyat.
2. Demonstrasi Terbesar di Madagaskar yang Dipimpin Gen Z
Demo yang terjadi merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Madagaskar dan menjadi ujian terbesar bagi Presiden Andry Rajoelina sejak terpilih kembali pada 2023. Aksi ini didominasi oleh kaum muda yang menuntut perbaikan layanan dasar dan menolak kondisi ekonomi sulit. Salah satu ciri unik dari gerakan ini adalah penggunaan simbol budaya pop dari generasi muda, seperti bendera Jolly Roger yang terkenal dari anime One Piece, sebagai media ekspresi tuntutan mereka.
3. Kontroversi Korban Jiwa dan Respons Pemerintah
Menurut laporan dari Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, setidaknya 22 orang tewas dan lebih dari 100 luka-luka akibat bentrokan selama demonstrasi. Namun, pemerintah Madagaskar membantah angka tersebut, menyatakan bahwa data PBB bukan berasal dari otoritas resmi dan berisi informasi yang dianggap "rumor dan misinformasi". PBB bahkan mengkritik aparat keamanan atas penggunaan kekuatan yang tidak proporsional, termasuk dugaan peluru tajam.
4. Aksi Penjarahan yang Mengiringi Kerusuhan
Meskipun awalnya merupakan protes damai, demonstrasi berujung pada kekerasan dan penjarahan sejumlah toko, bank, dan rumah politisi. Aparat keamanan membalas dengan penggunaan gas air mata, peluru karet, serta memberlakukan jam malam. Para pengunjuk rasa mencurigai adanya pihak eksternal yang memanfaatkan kerusuhan untuk melakukan penjarahan, yang dapat melemahkan tujuan utama aksi protes.
5. Inspirasi dari Protes Anak Muda di Indonesia, Kenya, dan Nepal
Menariknya, gerakan protes ini terinspirasi oleh mobilisasi daring dan aksi massa anak muda di negara lain, termasuk Indonesia. Di Indonesia, protes pada akhir Agustus 2025 berhasil menekan pemerintah sehingga membatalkan rencana undang-undang pajak yang kontroversial. Media sosial dan interaksi lintas negara memainkan peran penting dalam penyebaran ide dan strategi demonstrasi ini, di mana netizen Nepal juga mengaitkan aksi mereka dengan pengalaman serupa di Indonesia.
6. Presiden Rajoelina dan Langkah Politik Terkini
Andry Rajoelina adalah tokoh lama di kancah politik Madagaskar, yang pertama kali berkuasa melalui kudeta pada 2009. Setelah mundur pada 2014, ia kembali memimpin negara lewat pemilihan umum pada 2018 dan terpilih kembali pada 2023, walaupun kemenangan tersebut disorot oleh tudingan kecurangan. Situasi politik saat ini menjadi tekanan tersulit baginya, sehingga keputusan membubarkan pemerintahan pada 29 September 2025 diambil sebagai upaya membuka ruang dialog dengan kaum muda.
Dalam pidatonya, Rajoelina mengakui kegagalan pemerintah sebelumnya dalam menangani masalah listrik dan air, serta menyampaikan permintaan maaf atas penderitaan yang dialami masyarakat. Pembubaran kabinet dan pemecatan Perdana Menteri Christian Ntsay merupakan langkah sementara untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi terbaik bagi stabilitas negara.
Fenomena protes yang menggabungkan isu-isu sosial mendasar dengan budaya pop dan inspirasi global ini menunjukkan karakter unik dan modern dari generasi muda Madagaskar. Riak-riak politik yang terjadi saat ini berpeluang mendorong perubahan signifikan dalam kebijakan serta tata kelola pemerintahan di pulau tersebut. Namun, tantangan berat masih akan dihadapi dalam memastikan keamanan, kemajuan sosial, dan keadilan ekonomi bagi seluruh warga Madagaskar.
Source: www.suara.com





